Stop, Passion Bukan Segalanya!

Belakangan ini, istilah ‘passion’ menjadi senjata yang kerap digunakan oleh anak-anak muda yang mulai memasuki dunia kerja. Pada awalnya, mengejar passion untuk mendapatkan pekerjaan impian memang terdengar menarik. Namun, apakah pekerjaan impian dapat menjamin kebahagiaan? Selain itu kalau seseorang memiliki beragam passion, bagaimana dia bisa menentukan passion mana yang harus dikejar? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seolah tidak ada habisnya, terutama di benak orang-orang yang sedang meragukan masa depan kariernya.

Passion Itu Penting, Tapi Bukan Segalanya!

Passion memang memberikan faktor kesenangan dalam menjalankan karier, tapi tetap harus digabungkan dengan elemen-elemen lainnya. Mengikuti passion secara membabi buta tidak akan membawa kita pada karier yang cemerlang. Yang terpenting dalam passion bukanlah bentuk aktivitasnya, tapi esensi dasar yang memberikan sensasi bahagia. Misalnya, tiga orang yang hobi mendaki gunung bisa jadi memiliki esensi passion yang berbeda. Yang satu mendapatkan kebahagiaan dari gerak fisik saat mendaki (movement), yang satu lagi mendapatkan kebahagiaan lewat interaksi dengan pendaki lain (connection), sedangkan yang lainnya justru merasa bahagia karena faktor tantangan saat mendaki (challenge).

Passion VS Talenta

Konon, passion yang kuat dapat mengalahkan sebuah talenta. Namun di era yang kompetitif ini, kita tidak bisa memandang passion dan talenta sebagai dua hal yang terpisah. Seperti yang kita tahu, talenta adalah modal natural yang kita dapat secara alamiah. Namun talenta dapat ‘terlupakan’, terutama jika kita terlalu sibuk dengan berbagai bidang akademis di bangku sekolah. Dengan kata lain, talenta hanyalah modal awal—aset, bukan hasil akhir. Agar tidak terlupakan, talenta perlu dilatih dan diasah secara terus-menerus. Pada tahap inilah passion dibutuhkan untuk menjadi ‘bahan bakar’ bagi seseorang yang bertekad mengembangkan talentanya.

Dalam kaitannya dengan karier, talenta memiliki peran tersendiri. Orang-orang yang menjalani profesi yang sama bisa jadi memiliki talenta yang berbeda. Misalnya, sebagian penulis memiliki talenta dalam imajinasi, sementara penulis lain memiliki talenta dalam berpikir logis. Keduanya tidak bisa dibanding-bandingkan, tapi justru memberi ciri khas pada hasil karya masing-masing. Selain itu, untuk menyempurnakan suatu karya, seorang penulis juga membutuhkan passion yang kuat.

Purposeful Career

Berhasil mengidentifikasi talenta diri dan menemukan passion dalam hidup memang dapat mengarahkan kita ke perjalanan karier yang tepat, namun belum tentu membahagiakan. Untuk dapat menjalani karier yang penuh makna (purposeful career), kita harus dapat mendefinisikan purpose—alasan mengapa terlahir di dunia dan peran apa yang dijalankan dalam hidup. Sebuah purpose merupakan irisan dari 3 (tiga) elemen utama, yaitu passion, talenta, dan yang tidak kalah penting: kontribusi. Kontribusi dihasilkan dari kepedulian dan rasa relevansi dalam memberi solusi. Berbagi dengan orang lain dan memberikan solusi untuk masalah di sekitar, akan membuat kita merasa memiliki cukup banyak berkat untuk diberikan. Perasaan cukup itulah yang kemudian akan mengantarkan kita pada hidup yang lebih bahagia.

Lantas, Bagaimana Cara Merancang Sebuah Karier yang Bermakna?

Inez Natalia, seorang fasilitator karier bagi ribuan profesional muda di lebih dari lima belas negara, memberikan berbagai tips dalam Turn Right: Perjalanan Menuju Karier Penuh Makna untuk memudahkan kita dalam mengeksplorasi, merancang, serta menemukan diri dan tujuan karier. Setelah merancang jalur karier yang sesuai dengan passion, talenta, dan kontribusi positif yang dimiliki, kita tentu akan merasa lebih siap menempuh perjalanan karier yang menyenangkan. [Rfd]

Drew Goddard, Penulis Skenario Nominasi Oscar Akan Garap Film Nevermoor

31/01/2019

Night Flights: Hadiah Philip Reeve untuk Pemeran Anna Fang di Film Mortal Engines

31/01/2019