Back Cover
Look Inside

Ziarah

“Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam.”

Tokoh Kita merasa sangat kehilangan. Kematian istrinya membuat dunianya kacau. Dia begitu rindu, sampai-sampai dia terus berjalan dan pada setiap tikungan dia berharap akan berjumpa dengan istrinya. Dia pun memutuskan: dia harus ziarah ke makam istrinya!
Sepanjang perjalanan menuju ke sana, Tokoh Kita mengambi; berbagai keputusan ajaib. Mula-mula dia bekerja menjadi pengapur dinding kuburan, mendobrak aturan hingga seisi kota geger.

Ziarah merupakan salah satu novel monumental yang membuka cara baru dalam penulisan sastra. Absurditas yang dihadirkan Iwan Simatupang seperti mata lain untuk menelisik psikologis manusia. Patutlah bila novel ini memenangi Roman ASEAN terbaik tahun 1977. Novel yang ajaib sekaligus layak untuk terus diperbincangkan.

Not available POST

KEUNGGULAN BUKU
• Novel Ziarah menjadi pembuka genre Iwan Simatupang. Ditulis pertama kali namun terbit setelah Merahnya Merah
• Ziarah mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977
• Iwan Simatupang memiliki genre realisme-gaib, yang oleh beberapa kritikus disandingkan dengan Putu Wijaya.
• Novel Ziarah telah menjadi karya klasik dan menjadi bahan ulasan dalam dan luar negeri.
• Novel ini juga telah menjadi buku langka yang diburu para kolektor buku dan pecinta buku sastra
• Ziarah terbit pertama kali di Penerbit Djambatan 1969, yang kemudian dicetak ulang oleh penerbit yang sama pada tahun 2007.
• Iwan Simatupang (1928-1970) mendapat hadiah sastra Nasional 1970, hadiah roman ASEAN terbaik 1977, hadiah Yayasan Buku Utama Department P Dan K 1975, juga hadiah kedua dari majalah Sastra untuk esainya “Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air".
• Gaya bercerita Iwan Simatupang memang rada-rada aneh dan ajaib. Tetapi absurditas ini membuat banyak pembaca dan kritikus geregetan.
• Salah satunya adalah Boen S Oemarjati, yang menulis ulasan cukup panjang atas cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu di Majalah Sastra, yang pada dasarnya Boen keberatan atas jalan nalar cerpen itu.
• Kontroversial namun tetap menjadi penghadir kebaruan sastra.

Bulan Terbit

September 2017

Kode Buku

ND-318

Ukuran

13 x 20cm

Jumlah halaman

224 halaman

Jenis Kertas Sampul

SC, art carton 230, doff, spot uv, emboss, , pembatas buku

Jenis Kertas Isi

bookpaper 55gr

ISBN

978-602-385- 334-2

Penyunting

Teguh Affandi

Author

Iwan Simatupang

Publisher

Noura Publishing

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Ziarah”

Editorial Review

“Tentang Ziarah saudara, saya merasa kagum dan menganggapnya perlu menerbitkannya segera. Karena akan membuka halaman baru pula dalam kesusastraan Indonesia seperti halnya tempo hari dengan puisi Chairil Anwar.” H.B Jassin dalam suratnya kepada Iwan Simatupang.

“Suatu novel yang sangat interesan dengan tema yang pada dasarnya sangat sederhana, tetapi memerlukan pengetahuan psikologis dan intelek untuk dalam menangkapnya. Novel ini dapat dinamakan parodi dan satire.” Gayus Siagian, kritikus sastra.

“Ziarah dapat melambungkan imaji-imaji pembaca serta menapak jejak perjalanan sastra Indonesia.” Violetta Simatupang, putri bungsu Iwan Simatupang.

REVIEW
Tentang Ziarah saudara, saya merasa kagum dan menganggapnya perlu menerbitkan segera. Karena akan membuka halaman baru pula dalam kesusastraan Indonesia seperti halnya tempo hari dengan puisi Chairil Anwar.
H.B Jassin dalam Suratnya kepada Iwan Simatupang

Ziarah bagi saya berarti dua hal, pertama 'ziarah ke dalam buku' dan kedua, 'ziarah ke dalam diri'. Untuk yang pertama, saya benar-benar mengunjungi sebuah tempat yang mulia; sebuah cerita yang utuh. Utuh yang saya maksud karena Ziarah tidak sekadar menyampaikan sebuah cerita. Lebih dari itu, ia juga menunjukkan bagaimana sebaiknya cerita disampaikan. Sedangkan yang kedua ialah ketika membaca Ziarah, kesadaran atas realitas membuat saya harus mengunjungi diri saya. Netapi, ketika tiba saya meragukan diri yang saya kunjungi merupakan bagian dari realitas. Lewat Ziarah, Iwan Simatupang memperlakukan saya sebaik dan seburuk dua hal tadi. Dan perlakuan macam itu yang sebaiknya pengarang dan karyanya berikan kepada pembaca.
Faisal Oddang, penerima anugerah ASEAN Young Writers Award 2014.

Membaca Ziarah bagai mengunjungi masa lalu. Indah dan sarat rahasia, menegangkan sekaligus menyenangkan. Kita, generasi ponsel pintar, harus membaca novel apik ini.
Khrisna Pabichara, penulis.

Novel parodi dan satire yang sangat intens dengan tema yang pada dasarnya sangat sederhana, tetapi memerlukan pengetahuan psikologis dan intelek untuk menangkapnya.
Gayus Siagian, kritikus sastra.