Mati Sebelum Mati : Menemukan Ketenangan Hidup di Tengah Riuhnya Dunia Modern
Pernahkah kamu merasa hidup berjalan begitu cepat, tetapi justru makin jauh dari makna yang sesungguhnya? Kita kerap terjebak dalam lingkaran kompetisi yang tiada habisnya. Media sosial terus-menerus menyuguhkan standar kesuksesan baru, mulai dari pencapaian karier, materi, hingga popularitas instan. Fenomena ini tak jarang melahirkan generasi yang rentan mengalami gangguan kecemasan bahkan krisis eksistensial.
Dalam sebuah diskusi daring yang diadakan oleh Noura Publishing, pakar filsafat dan akademisi, Dr. Fahruddin Faiz, mengupas tuntas bagaimana kearifan lokal dapat menjadi obat penawar bagi kegelisahan manusia. Melalui bukunya yang bertajuk Mati Sebelum Mati: Buka Kesadaran Hakiki, beliau mengajak kita untuk menengok kembali falsafah hidup masyarakat Jawa kuno yang sarat akan nilai pengendalian diri.
Baca juga: Menemukan Kembali Thariqah ‘Alawiyah: Jalan Spiritualitas Modern yang Relevan untuk Semua Generasi
Esensi Mati Sakjeroning Urip
Frasa “mati sebelum mati” atau dalam istilah Jawa mati sakjeroning urip mungkin terdengar ekstrem atau kontroversial. Namun, Fahruddin Faiz meluruskan bahwa konsep ini sama sekali bukan ajakan untuk menyerah pada hidup atau berputus asa. Sebaliknya, ini merupakan tingkatan spiritual tertinggi untuk meraih kesempurnaan hidup (ilmu kasampurnaan). Secara garis besar, terdapat dua makna esensial dari frasa “mati sebelum mati” yang relevan dengan kehidupan kita saat ini:
1. Membebaskan Diri dari Ilusi Materi
Konsep ini mengajak kita menggeser fokus hidup dari yang melulu mengejar kesuksesan materi dan validasi, menuju kesadaran yang lebih hakiki. Dunia tidak lagi dijadikan tujuan utama, melainkan sekadar kendaraan untuk mempersiapkan bekal spiritual yang abadi.
2. Menaklukkan Ego dan Hawa Nafsu
Berada di kondisi mati sakjeroning urip berarti ego dan ambisi pribadi telah tunduk. Seperti layaknya tubuh yang pasrah saat dimandikan, seorang manusia yang mencapai kesadaran ini akan berserah penuh (tajrid) kepada ketetapan Tuhan, menerima setiap pasang surut kehidupan dengan jiwa yang stabil.
Belajar “Ngerem” dari Filsafat Jawa
Fahruddin Faiz mengidentifikasi bahwa salah satu masalah terbesar generasi hari ini adalah ketidakmampuan untuk membatasi keinginan. Beliau mengutip pemikiran Ki Ageng Suryomentaram yang menyebutkan bahwa keinginan manusia itu sifatnya mulur mungkret, yaitu selalu melar dan menuntut lebih. Sejak kecil, kita selalu dilatih untuk “ngegas” dalam mengejar cita-cita dan ambisi. Namun, kita lupa untuk belajar bagaimana cara “ngerem” atau berhenti sejenak untuk berefleksi.
Melalui karakter utama kearifan Jawa seperti Nrimo (menerima kenyataan) dan Rilo (ikhlas/rida), kita diajak untuk menjalani hidup dengan sadar dan utuh. Selain itu, buku ini juga menguraikan tahapan laku tirakat yang membuat kita tetap bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa terus-menerus cemas akan masa depan.
Jika selama ini kita selalu berjalan ke luar untuk mencari kebahagiaan, Mati Sebelum Mati: Buka Kesadaran Hakiki akan menuntun kita untuk berjalan ke dalam, mengenali diri, dan memahami batas-batas hakiki kita.
