Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serbacepat, pencarian akan ketenangan batin menjadi kebutuhan yang kian mendesak. Banyak orang yang hendak mencari pelarian spiritual, namun sering kali terbentur anggapan bahwa dunia tarekat itu berat, kaku, dan hanya cocok untuk orang tua yang sudah “selesai” dengan urusan dunia. Lantas, apakah ada jalan spiritualitas yang fleksibel dan tetap relevan dengan gaya hidup masyarakat urban saat ini?

Jawabannya telah dikupas secara tuntas oleh Haidar Bagir, seorang penulis dan cendekiawan Muslim bersama Azam Bahtiar, peneliti Thariqah ‘Alawiyah dalam sebuah siniar yang ditayangkan pada kanal YouTube Noura Publishing. 

 

Baca juga: Ketika Kata Menjadi Senjata: Bagaimana Buku A Diary of Genocide Menjaga Api Kebenaran Palestina Tetap Menyala

 

Apa Itu Thariqah ‘Alawiyah?

Bagi sebagian orang, istilah thariqah atau tarekat mungkin terdengar berat. Namun, dalam diskusi tersebut, Azam Bahtiar menyampaikan bahwa pada dasarnya, tarekat adalah menjalankan agama Islam secara lahir batin.

Kekhasan utama dari Thariqah ‘Alawiyah justru terletak pada prinsip mahw ar-rusûm, yaitu hilangnya identitas atau simbol-simbol lahiriah ketarekatan. Sederhananya, thariqah ini tidak menuntut pengikutnya untuk mengenakan pakaian khusus atau mengubah penampilan mereka. Seseorang bisa tetap tampil kasual layaknya anak muda zaman sekarang, sembari tetap menjaga kedalaman batin dan spiritualitasnya.

Haidar Bagir menegaskan bahwa Thariqah ‘Alawiyah merupakan perpaduan antara aspek lahir yang bersandar pada konsep Imam Al-Ghazali (mengutamakan ilmu, wara’, khauf, dan ikhlas) serta aspek batin yang dipengaruhi oleh Thariqah Syadziliyah, yang intinya menjalani kehidupan dengan poros utama yang berorientasi kepada Allah Swt. tanpa harus mengisolasi diri dari lingkungan sosial.

 

Baca juga: Bukan Sekadar Bacaan Saat Berduka, Surah Yâ Sîn adalah Jawaban atas Segala Kecemasan Jiwa

 

Thariqah Khafifah, Solusi untuk Milenial dan Gen Z

Bagi generasi muda seperti milenial dan gen z yang aktif, dinamis, dan produktif, Thariqah ‘Alawiyah menawarkan formula yang sangat fleksibel. Jalur ini dikenal sebagai thariqah khafifah atau thariqah yang ringan. Haidar Bagir menceritakan bagaimana tokoh besar seperti Habib Abdullah Al-Haddad sejak berabad-abad lalu telah mengodifikasi dan mempermudah amalan spiritual ini agar menyesuaikan kemampuan zaman. “Kita bisa pakai penampilan apa saja, penampilan gen z, penampilan milenial, itu enggak ada masalah,” tutur Haidar Bagir.

Lebih jauh lagi, para tokoh Thariqah ‘Alawiyah secara historis adalah orang-orang yang tetap bekerja keras mencari nafkah dan justru menggunakan kelebihan materi mereka untuk membantu sesama, bukan untuk terobsesi pada dunia. Kita tetap bisa tampil trendi khas gen z sekaligus konsisten mengamalkan wirid-wirid ringan seperti Rotib Al-Haddad atau Wirdul Lathif di sela kesibukan harian. 

Menjalani Thariqah ‘Alawiyah ibarat menyusun pelengkap puzzle spiritualitas agar pengenalan kita terhadap Islam menjadi utuh, tanpa harus kehilangan identitas diri pada era modern. Bertasawuf di sini bukan berarti menjadi miskin atau meninggalkan dunia, melainkan tidak membiarkan dunia menguasai hati kita.

Ingin mendalami jalan spiritualitas yang meneduhkan hati di tengah kebisingan duniawi? Jangan lewatkan penjelasan komprehensifnya dalam buku Menemukan Kembali Thariqah ‘Alawiyah karya Haidar Bagir.

Beli bukunya di sini