Jakarta, 15 Agustus 2026 — Ketika sebuah buku akhirnya berada di tangan pembaca, perhatian biasanya tertuju pada cerita dan nama penulis yang tercantum di sampul. Namun, jauh sebelum sampai ke tahap tersebut, ada proses panjang yang berlangsung di balik layar. Salah satunya adalah pekerjaan editor yang menjadi jembatan antara naskah, penulis, penerbit, dan pembaca.

Sisi lain dari proses tersebut dibahas dalam sesi “Di Balik Dapur Editor” yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Pekan Sastra Jakarta 2026. Bertempat di Balai Sastra, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, diskusi ini menghadirkan tiga editor, yaitu Ariel Seraphino, Hafizh Pragitya, dan Suhindrati Shinta, dengan Ditta Sekar Campaka sebagai moderator.

Ketika Selera Pribadi Bertemu Tanggung Jawab Editorial

Dalam diskusi, peran editor menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibicarakan. Editor tidak hanya bertugas mencari salah ketik atau memperbaiki penggunaan bahasa. Lebih jauh, editor perlu melihat sebuah naskah secara utuh dan memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis.

Salah satu narasumber dalam diskusi, Suhindrati Shinta editor dari Noura Publishing, turut membagikan perspektifnya mengenai proses membaca dan berhadapan dengan berbagai jenis naskah. Dari pengalamannya, preferensi bacaan ternyata juga menjadi bagian yang menarik dari cerita seorang editor. “Saya pribadi memang lebih suka fiksi. Kalau baca fiksi, rasanya bisa kuat dan betah gitu. Tapi, untuk buku selain fiksi, saya akui kemampuan membaca saya tidak sekuat kalau sedang membaca fiksi,” ujar Suhindrati Shinta.

Pengakuan yang terasa sederhana, tetapi justru menunjukkan bahwa editor juga memiliki preferensi dan cara menikmati bacaan masing-masing. Di balik tuntutan untuk dapat membaca beragam naskah secara profesional, seorang editor tetap memiliki genre yang membuatnya lebih nyaman dan betah berlama-lama dengan sebuah cerita.

“Kalau di meja editorial, sebenarnya soal suka atau tidak suka sama genre itu bukan pertimbangan. Kita juga perlu melihat naskahnya secara keseluruhan. Gagasannya seperti apa, strukturnya, karakter, atau argumennya, sampai kira-kira bagaimana nanti pembaca bisa menerima karya tersebut.” tambah Suhindrati Shinta.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan editor membutuhkan jarak antara selera pribadi dan tanggung jawab profesional. Seorang editor boleh saja memiliki genre favorit, tetapi ketika sebuah naskah sudah berada di meja editorial, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan. 

Dari Naskah Mentah hingga Menjadi Buku

Perjalanan sebuah naskah menuju meja produksi bukanlah proses sekali jadi. Ada tahapan panjang yang membuat naskah terus berkembang sebelum akhirnya dinyatakan cukup matang untuk diterbitkan.

Dalam sesi ini, proses tersebut menjadi salah satu pembahasan utama. Para narasumber diajak melihat kembali hal-hal yang biasanya diperhatikan editor ketika membaca naskah, termasuk bagaimana sebuah naskah dinilai layak untuk dikembangkan. Mereka juga diajak memahami proses penyuntingan dari sisi gagasan, struktur, karakter, argumen, hingga bahasa. 

Bagi calon penulis, proses ini sekaligus memberikan gambaran bahwa naskah yang baik tidak selalu lahir dalam bentuk yang langsung sempurna. Masukan dan proses revisi justru menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah karya.

Editor hadir untuk membantu melihat naskah dari sudut pandang yang mungkin tidak terlihat oleh penulis sendiri. Oleh karena itu, proses editorial pada akhirnya bukan sekadar memperbaiki tulisan, melainkan sebuah proses kolaborasi untuk menemukan bentuk terbaik dari sebuah cerita.\

Baca juga: Kelas Menulis hingga Talkshow, mengulik Keajaiban dalam Penulisan Buku Anak

Menyunting Tanpa Menghilangkan Suara Penulis

Salah satu bagian yang tidak kalah menarik adalah hubungan antara editor dan penulis. Ketika sebuah naskah masuk ke proses editorial, tentu ada kemungkinan muncul perbedaan pandangan mengenai arah tulisan. Di sinilah, komunikasi dan kepercayaan menjadi penting. Editor perlu memberikan catatan yang dapat memperkuat naskah, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga karakter dan suara khas penulis.

Catatan penting bagi editor adalah menyunting tulisan, tanpa menghilangkan identitas orang yang menulisnya. Editor dapat membantu merapikan struktur, memperkuat bagian tertentu, atau memberikan sudut pandang lain, tetapi cerita tetap perlu memiliki suara penulisnya sendiri.

Antara Kualitas Karya dan Selera Pembaca

Menjadi editor juga berarti memahami bahwa buku nantinya akan bertemu dengan pembaca. Oleh karena itu, pertimbangan editorial tidak sepenuhnya berhenti pada kualitas tulisan.

Tren pembaca, kebutuhan pasar, hingga perubahan kebiasaan membaca menjadi bagian yang turut diperhitungkan dalam industri penerbitan. Namun, potensi sebuah buku tentu tidak dapat semata-mata dilihat dari angka penjualan. Ada pula karya yang memiliki kekuatan artistik, tetapi membutuhkan pendekatan khusus agar dapat menemukan pembacanya.

Pembahasan tersebut membuat pekerjaan editor terlihat makin kompleks. Di satu sisi, editor perlu menjaga kualitas karya. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk memahami perkembangan pembaca dan perubahan lanskap industri buku.

Baca juga: Menelusuri Labirin Misteri Ruth Ware: Inspirasi di Balik Karya-Karya Fenomenalnya

Dapur Editor yang Terus Berubah

Perubahan zaman turut membawa tantangan baru bagi profesi editor. Perkembangan platform digital, perubahan pola konsumsi bacaan, hingga hadirnya teknologi dan kecerdasan buatan membuat pekerjaan editorial ikut mengalami perkembangan.

Meski demikian, satu hal yang tetap penting adalah kepekaan. Seorang editor perlu memiliki kemampuan untuk membaca bukan hanya kata demi kata, tetapi juga memahami konteks, gagasan, dan pengalaman yang ingin dibawa sebuah karya kepada pembacanya.

Melalui sesi Di Balik Dapur Editor, Festival Pekan Sastra Jakarta 2026 tidak hanya mengajak pengunjung berbicara tentang buku yang sudah selesai, tetapi juga melihat perjalanan panjang sebelum sebuah buku benar-benar lahir.

Di balik halaman-halaman yang akhirnya dibaca, ada proses yang penuh diskusi, revisi, pertimbangan, dan kolaborasi. Dan di antara proses panjang tersebut, editor menjadi salah satu sosok yang mungkin tidak selalu terlihat namanya, tetapi memiliki peran penting dalam perjalanan sebuah buku hingga akhirnya menemukan pembacanya.