loader image

Orang-Orang Bloomington: Manusia dalam Kelabu

Ditulis oleh Tazkia Amara, Admin Noura

Yuk, bagikan artikel ini!

Oleh Tazkia Amara

 

Budi Darma, seorang novelis, esais, dan cerpenis Indonesia yang karyanya ke mancanegara ini telah banyak berkontribusi bagi kemajuan dunia sastra, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Beliau diangkat menjadi pakar kesusastraan bandingan jajaran keanggotaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dan kerap kali menjadi pembimbing esais, cerpenis, dan novelis muda Asia Tenggara dalam Program Penulisan Mastera sekitar dua dekade silam.

Selain membimbing pemuda-pemudi Asia Tenggara, Pak Budi juga turut serta memberikan pengarahan kepada pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam beragam lokakarya dan penataran sastra yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Beliau merupakan pelopor penggunaan teknik kolase pada sastra: mencampurkan potongan-potongan iklan bioskop dan Koran dalam narasi cerita.

Bertepatan dengan Kwikku Fest April lalu, Noura diwakili oleh Ibu Suhindrati Shinta selaku editor Noura Publishing, berkesempatan untuk berada dalam satu sesi wawancara daring dengan Pak Budi Darma yang sangat antusias untuk membedah mahakarya pertamanya yaitu Orang-orang Bloomington.

Terbit pertama kali pada tahun 1980, Orang-orang Bloomington merupakan kumpulan cerpen atau novelet yang diproduksi ulang oleh Noura Publishing pada tahun 2015. Berbekal latar belakang pendidikan tinggi di salah satu universitas di Bloomington, Amerika, Pak Budi mengandalkan kemampuan “imajinasinya yang liar” untuk menciptakan dunia fiksi Bloomington dan tokoh-tokohnya yang unik sebagai sastra “ambient.” Tidak heran, penghargaan S.E.A Write Award dari pemerintah Thailand dianugerahkan untuk karya tersebut. Orang-orang Bloomington direncanakan debut di dunia literasi Amerika di bawah naungan penerbit Penguin Classics pada musim gugur tahun ini.

Melalui novelet tersebut, Pak Budi membagikan cerita kehidupan yang berharga dalam kesempatan wawancara tersebut. Dari sudut pandang pengarang, Pak Budi mengungkapkan bahwa ada gejolak dan kecemasan yang dirasakan penulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup, seperti: ‘Mengapa manusia meninggal? Apa yang terjadi apabila manusia tidak meninggal?’ yang kemudian pertanyaan-pertanyaan tersebut harus direpresentasikan dalam ciptaan tangannya. Ada “phenomena” atau gejala-gejala manusiawi yang terdeteksi oleh indera pengarang; mengarahkan kepada “noumena” atau karakter yang menimbulkan gejala-gejala tersebut. Untuk menggambarkan dunia fiksinya sendiri, pengarang, menurut Pak Budi, herus memiliki kemampuan untuk mengebor sukma; mendeteksi gejolak jiwa manusia yang hanya tampak sekilas dari luar dan keliaran imajinasi untuk membangun dunia baru dari buah pikiran.

Orang-orang Bloomington menyoroti jurang antara dunia barat dan timur yang kerap kali diisukan bertentangan. Novelet tersebut melibatkan pola pikir dan cara pandang sang pengarang, Pak Budi, sebagai mata dari timur dalam melihat dan menggambarkan dunia barat. Dalam sastra klasik, banyak sekali ditemukan dikotomi antara barat dan timur yang, tak jarang, mengarah kepada “kompetisi” budaya dan peradaban. Dalam narasinya, Pak Budi menyematkan judul “Manusia dalam Kelabu: Ketika Baik dan Jahat Berbaur Menjadi Satu” untuk menyingkap nilai di balik jurang perbedaan ini. Dikotomi seolah-olah mewujudkan pengelompokkan baik dan buruk dalam budaya yang sejatinya setiap manusia adalah baik dan buruk itu sendiri, tanpa mengenal asal budaya. Mengedepankan pengalamannya tinggal dan belajar di Amerika, yang ingin ditekankan oleh Pak Budi melalui novelet ini adalah dua kebudayaan: barat dan timur pada hakikatnya sama. Meskipun memiliki akar budaya yang berbeda, setiap manusia di penjuru manapun menjalani suatu kehidupan; makan, minum, menangis, tertawa, berbohong, dan tersenyum menurut prinsip hidup masing-masing. Tidak ada yang lebih baik atau buruk. Tidak ada yang sepenuhnya baik atau jahat. Pak Budi juga menegaskan bahwa moral adalah subjektif dan dipahami secara berbeda oleh setiap individu.

Terbitnya Orang-orang Bloomington dalam dunia literasi barat kelak diharapkan akan membuka mata dan pikiran lebih banyak pembaca dari beragam latar budaya. Hal tersebut juga merupakan dongkrak bagi dunia sastra dan penerbitan Indonesia di kancah internasional. Lebih dari itu, kemajuan yang berarti ini dapat membangkitkan semangat anak-anak muda Indonesia untuk terus berkarya. “Fokus saja kepada satu genre bacaan yang disukai. Jangan terlalu banyak memilih, nanti malah tidak jadi,” pesan Pak Budi kepada generasi muda yang ingin mencintai sastra.

Referensi

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Budi_Darma

https://nourabooks.co.id/orang-orang-bloomington-karya-budi-darma-akan-diterbitkan-di-amerika-serikat/

https://antimateri.com/kolase-bahasa-ibu-olenka-dan-cinta-topi-miring/

https://mediaindonesia.com/weekend/427022/mengenal-budi-darma-sastrawan-indonesia-yang-mendunia