Kisah Tentang Charlie, Mr Wonka, dan Pabrik Cokelat

Oleh: Truly Rudiono

“Anda tidak boleh berputus asa!” seru Mr Wonka.

“Tidak ada yang mustahil! Lihat saja!”

Peringatan!

Lepaskan imajinasimu saat membaca buku ini. Buku dan film merupakan dua hal yang sangat berbeda. Ingatlah selalu hal tersebut ketika menonton film yang diangkat dari buku namun isinya berbeda dengan buku tersebut, atau sebaliknya. Demikian juga dengan kisah ini.

Si kecil Charlie Bucket harus membagi segala hal tidak hanya dengan orang tuanya, tapi juga dengan para kakek dan neneknya. Artinya selain Charlie dan kedua orang tuanya, ada Grandpa Jo, Gradma Josephine, Grandpa George, serta Gradma Georgina. Satu anak yang sedang dalam masa pertumbuhan berbagi dengan 4 manula dan 2 orang dewasa. Bukan hidup yang mudah!

Gaji sang ayah nyaris tidak cukup untuk membiayai kebutuhan mereka bertujuh. Maka sebatang cokelat merupakan kemewahan bagi Charlie, sementara bagi anak lain merupakan hal yang bisa diperoleh  dengan mudah. Kemewahan tersebut hanya diperoleh ketika ia  berulang tahun.

Baca Juga: 5 Fakta Asyik Pengarang Cerita Anak Terkenal

Salah satu, mungkin satu-satunya pabrik cokelat yang mampu menciptakan aneka rasa spektakuler berada di daerah tempat tinggal Charlie.  Semenjak pabrik ditutup, tak terlihat ada kegiatan di sana. Namun belum lama, beberapa orang mengaku melihat ada kegiatan produksi di sana. Aneh!  Meski terlihat bayang-bayang orang bekerja namun tak pernah ada yang telihat masuk atau keluar dari pabrik.

Sebuah pengumuman melalui surat kabar membuat gempar masyarakat. Willy Wonka, sang pemilik pabrik, akan memberikan kesempatan bagi lima anak terpilih  yang memiliki tiket emas untuk  mengunjung pabrik yang tertutup selama 10 tahun. Bahkan Willy Wonka sendiri yang akan memandu mereka.

Suatu hal yang mustahil bagi Charlie. Apa lagi ketika dalam hadiah ulang tahun berupa cokelat yang ia peroleh, tak ada tiket emas. Tanpa sadar, ada rasa sakit ketika tahu ada orang tua yang memborong begitu banyak cokelat demi sang anak mendapatkan tiket emas. Begitulah kehidupan ini.

Bukan Roald Dahl jika tak mampu mengaduk-ngaduk perasaan pembaca ciliknya (mungkin juga perasaan Anda yang sudah dewasa). Menilik sampul, jelas terlihat bahwa pada akhirnya Charlie bisa memperoleh tiket emas. Meski begitu, proses bagaimana ia bisa mendapatkan tiket dan bertemu dengan Willy Wonka merupakan bagian yang sangat menarik untuk diketahui.

Baca Juga: 5 Permen & Cokelat dari Pabrik Willy Wonka, Ternyata Ada di Dunia Nyata!

Sekali lagi, buku dan film berbeda.
Sebagai pembaca, tentunya bukan hal yang mudah untuk melupakan bayang-bayang film dengan kisah yang (nyaris) sama. Setidaknya ini berlaku untuk saya he he he. Meski sangat tahu teori, pada prakteknya berulang kali saya harus mengingatkan diri untuk tidak membandingkan isi buku ini dengan kisah yang saya baca.

Buat yang penasaran, beberapa contoh perbedaan misalnya mengenai sosok Augustus Gloop. Dalam buku dikisahkan sosok Augustus ditemani oleh ayah dan ibunya, sementara dalam film hanya ditemani oleh ibunya saja.

Lalu sosok Oompa Loompa dalam buku ini digambarkan sebagai sosok mungil dengan dengan kulit putih bersemu merah muda (halaman 106). Sementara jika kita lihat di film, kulit Oompa Loompa berwarna cokelat.

Perbedaan terbesar  antara buku dan kisah ada di halaman 210.  Petunjuknya juga bisa dilihat di sini.

Secara garis besar, buku ini sangat cocok dibaca anak-anak. Selain sebagai hiburan, isi buku ini membuat pembaca berimajinasi. Mereka diajak membayangkan bagaimana sebuah proses pembuatan sebatang cokelat. Ternyata bisa menjadi suatu kegiatan yang menarik. Anak-anak bisa berimajinasi bagaimana jika ada sebuah cokelat dengan rasa tertentu. Tentunya hal ini akan mengasah kreativitas anak sejak dini.  Bukan tak mungkin, sebuah imajinasi kelak menjadi sebuah kenyataan.

Penulis juga menanamkan rasa cinta keluarga yang besar dalam kisah ini. Bagaimana seorang anak hidup dengan dua pasang kakek-nenek yang begitu menyayanginya.  Bagian yang mengisahkan bagaimana Charlie semula rela memjual tiket emasnya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga, merupakan pengorbanan atas nama cinta keluarga.

Sikap  selalu berharap dan pantang mundur juga terdapat dalam kisah ini. Meski gagal medapatkan tiket emas pada cokelat pertamanya, Charlie tetap berharap akan menemukan keberuntungan pada cokelat selanjutnya yang ia beli. Dan pada akhirnya keberuntungan ada pada pihaknya.

Sementara sikap kurang baik seperti terlalu rakus, diwakili melalui sosok Augustu Gloop yang terjatuh di danau cokelat, sifat egois dan keras kepala dan manja tercermin dari sosok Verica Salt. Anak-anak akan menemukan contoh sebab-akibat dari sikap yang tidak baik. Suatu cara mendidik yang menyenangkan.

Baca Juga: 6 Penulis yang Pernah Merasakan Perang Dunia

Oh ya, buku ini juga penuh dengan aneka syair lagu. Seorang guru PAUD bisa mengadopsi lagu tersebut dan menjadikannya sebuah kegiatan yang menarik di kelas. Mungkin tidak persis sama, tapi bisa dijadikan acuan. Anak-anak bisa bergerak dan mengekspresikan diri.

Dalam situ wikipedia disebutkan bahwa cokelat dihasilkan dari kakao (theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol

Penasaran buku selanjutnya. Apa lagi para tokohnya tak terduga.[]

Sumber: http://trulyrudiono.blogspot.com

Cerita Tayo Bikin Anak Jadi Santun

09/10/2018

Kisah Si Tukang Intip Tetangga

09/10/2018

Leave a Reply