Luka yang paling sulit disembuhkan sering kali berasal dari tempat yang paling kita harapkan memberikan kedamaian. Bagi sebagian orang, masa kecil adalah kurun waktu yang dipenuhi kehangatan dan rasa aman. Namun, bagi sebagian lainnya, ingatan masa kecil justru menyisakan goresan luka yang tak kasatmata—salah satunya akibat religious trauma. 

 

Ketika agama diajarkan melalui doktrin yang penuh ketakutan, ancaman hukuman, atau penghakiman yang keras, anak-anak tidak merasakan kedamaian. Sebaliknya, mereka tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup baik, rasa bersalah yang berlebihan, hingga cemas akan sosok Sang Pencipta. Tuhan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru diperkenalkan sebagai sosok yang menakutkan dan siap menghukum. 

 

Padahal, kepolosan jiwa anak-anak sejatinya membutuhkan pelukan rasa aman, bukan tekanan dogmatis yang menakutkan. Akibatnya, saat dewasa, proses beragama terasa meletihkan, memicu sesak, dan diwarnai dilema batin yang mendalam. Tak heran jika kita banyak menemukan mereka yang ketika dewasa justru menjaga jarak dari agama karena agama telanjur diasosiasikan dengan rasa takut.

 

Lalu, bagaimana memulihkannya?

 

Pertama, akui bahwa pengalaman tersebut memang menyakitkan. Memiliki luka dari pengalaman keagamaan bukan berarti seseorang membenci Allah Swt. atau agamanya. Kita hanya sedang mengakui bahwa cara agama disampaikan kepada kita pernah melukai kita.

 

Kedua, pisahkan antara Tuhan, agama, dan cara manusia menyampaikannya. Tidak semua pengalaman buruk yang terjadi atas nama agama merepresentasikan ajaran agama itu sendiri. 

Baca juga: Sinarlah dalam Seruan: Haidar Bagir dalam Belajar Hidup dari Rumi

Ketiga, berikan diri sendiri ruang untuk belajar kembali dengan cara yang lebih sehat. Pemulihan bisa dilakukan perlahan melalui membaca, berdiskusi dengan orang yang aman dan tidak menghakimi, membangun kembali praktik spiritual yang terasa menenangkan, atau mencari bantuan profesional apabila luka tersebut sangat mengganggu kehidupan.

 

Di titik inilah buku Islam Itu Ramah, Bukan Marah karya Irfan Amalee terasa relevan. Buku ini mengajak pembaca merenungkan kembali wajah Islam sebagai agama yang berakar dari cinta, empati, dan keadaban.

 

Memulihkan religious trauma memang membutuhkan waktu dan keberanian untuk membuka kembali lembaran spiritual yang sempat menakutkan. Namun, langkah awal bisa dimulai dengan memilih bahan bacaan yang menyejukkan. Jika kamu ingin mengenal Islam dari sudut pandang yang lebih hangat, manusiawi, dan penuh kasih, Islam Itu Ramah, Bukan Marah bisa menjadi teman untuk memulai perjalanan itu.

Sebab, mungkin yang perlu dipulihkan bukan keimanan kita, melainkan cara kita mengenal Islam.

Baca juga: Menemukan Kembali Thariqah ‘Alawiyah: Jalan Spiritualitas Modern yang Relevan untuk Semua Generasi

Beli bukunya di sini