Apa jadinya jika Islam tidak hanya dipahami sebagai agama yang mengatur ritual dan ibadah personal, tetapi juga sebagai gerakan untuk membebaskan manusia dari penindasan? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami pemikiran Ali Syari‘ati, seorang intelektual Muslim asal Iran yang gagasannya terus diperbincangkan hingga hari ini.
Ali Syari‘ati, Sang Cendekiawan dan Pejuang Keadilan
Ali Syari’ati lahir pada 23 November 1933 di Mazinan, Iran, dari keluarga yang religius sekaligus intelektual. Ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati, adalah ulama yang aktif dalam gerakan pembaruan Islam, sementara ibunya berasal dari keluarga pemilik tanah kecil di Sabzevar, sebuah kota dekat Mashhad. Latar belakang ini membentuk Ali Syari’ati menjadi sosok yang memahami Islam dari dalam tradisi, tetapi juga terbuka terhadap pemikiran dunia luar.
Setelah menuntaskan pendidikan di Iran, Ali Syari’ati melanjutkan studi sosiologi di Universitas Sorbonne, Prancis. Di sana, dia mengenal filsafat, sejarah, dan teori sosial modern. Selain itu, dia juga mempelajari berbagai gagasan revolusioner dan anti-kolonial yang tengah bergejolak pada masanya. Pengalaman inilah yang turut membentuk cara pandangnya, yaitu Islam yang berdialog dengan zaman, bukan Islam yang mengunci diri dari perubahan.
Konteks Pembebasan di Iran: Islam sebagai Ideologi Perlawanan
Pemikiran Ali Syari’ati tidak lahir di ruang hampa. Syari‘ati hidup di Iran pada masa ketika kekuasaan politik sangat kuat dan ketimpangan sosial menjadi persoalan besar, yaitu pada dekade 1960-an hingga 1970-an. Saat itu, masyarakat Iran berada di bawah belenggu otoritarianisme rezim yang represif, kapitalistik, serta terasing dari akar budayanya sendiri.
Melihat realitas tersebut, Syari’ati mengkritik keras pemahaman agama yang pasif dan hanya berfokus pada simbol. Dia yang menyerukan agar intelektual Muslim tidak hanya mengurung diri, melainkan berdiri bersama mustadh’afin (kaum tertindas). Pemikiran inilah yang membakar semangat generasi muda dan menjadi bahan bakar ideologis bagi pergerakan menuju Revolusi Iran.
Syari’ati menjadi salah satu tokoh penting pembaruan pemikiran Islam abad ke-20. Gagasannya banyak memengaruhi intelektual dan generasi muda Muslim. Dia wafat pada 1977 di Inggris dalam usia 44 tahun, meninggalkan warisan pemikiran yang terus dibaca hingga kini.
Baca juga: Bukan Sekedar Bacaan Saat Berduka Surah Yâ Sîn adalah Jawaban atas Segala Kecemasan Jiwa
Gambaran Sosok Ali Syari’ati dalam Kacamata Sejarah Indonesia
Bila dianalogikan dengan konteks Indonesia, Ali Syari’ati bisa dibayangkan sebagai gabungan dari dua kepribadian besar bangsa kita, yaitu Soekarno dan Hatta. Seperti Soekarno, Syari’ati adalah orator dan penggerak massa. Dia mampu membakar semangat generasi muda dengan pidato-pidato yang menggetarkan, mengajak mereka keluar dari kepasrahan menuju perlawanan terhadap penindasan.
Di sisi lain, seperti Hatta, Ali Syari’ati juga seorang intelektual yang cermat dan sistematis. Dia tidak hanya berteriak tentang ketidakadilan, tetapi merumuskannya dalam kerangka pemikiran yang tertata. Bagaimana Islam sesungguhnya adalah mazhab yang berpihak pada keadilan sosial, pada kaum yang dilemahkan dan pada pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.
Buku Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi karya Ali Syari’ati adalah representasi utuh dari dua sisi ini. Di dalamnya, Syari’ati tidak hanya menulis manifesto perlawanan, tetapi juga membedah bagaimana Islam semestinya difungsikan sebagai kekuatan sosial-politik yang hidup, bukan sekadar warisan ritual yang pasif.
Baca juga: Menghormati yang Telah Tiada: Antara Rasa Sayang dan Tuntunan Syariat
Jika kamu ingin memahami pemikiran Ali Syari‘ati tentang Islam sebagai gerakan pembebasan, Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi menjadi salah satu bacaan yang tepat untuk memulainya.
Dapatkan bukunya dan temukan kembali bagaimana agama dapat menjadi sumber pemikiran sekaligus aksi untuk menciptakan perubahan.
Beli bukunya di sini
