loader image

Kisah di Balik Novel Playing Victim

Ditulis oleh Eva Sri Rahayu, Penulis Buku Seri Urban Thriller: Playing Victim

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Saya tidak sedang mendramatisir ketika mengatakan bahwa novel ini merupakan sebuah keajaiban. Tuhan sebegitu mencintai saya hingga novel ini menemukan kalimat terakhirnya. Mari saya kisahkan perjalanannya sejak masih menjadi embrio dalam rahim benak saya.

Ada dua selebritas dunia maya yang menjadi inspirasi novel ini. Beberapa tahun silam, saya lupa tepatnya tahun berapa, saya membaca satu artikel mengenai seseorang yang viral karena kisah cintanya. Tahun berikutnya, saya membaca artikel yang dibagikan salah satu sahabat saya di akun Facebook-nya mengenai kehebohan di dunia maya yang langsung membuat saya tertarik untuk menuliskannya ke dalam bentuk novel. Dua cerita itu saya gabungkan dalam satu tokoh rekaan, lalu meramunya menjadi kisah fiksi. Awalnya, saya berniat menuliskannya pada tahun-tahun mendatang. Namun, ketika Noura Books mengumumkan “Urban Thriller Competition”, saya langsung tertarik mengikutinya. Memang, menulis novel bergenre thriller merupakan impian saya, tetapi, entah mengapa, saya merasa belum siap menuliskannya. Namun, malam itu, pada hari terakhir pengumpulan sinopsis, saya mendapat semacam bisikan hati. “Sudah saatnya,” begitu kata nurani meski secara logika saya sendiri masih sangsi apakah bisa menulis thriller. Alhamdulillah, sinopsis yang saya kirimkan terpilih menjadi lima besar dari 291 sinopsis yang masuk. Karena itu saya mesti disiplin menulis tiap bab per minggu untuk diunggah ke Wattpad Urban Thriller. Ini tantangan baru bagi saya, si penulis lelet. Biasanya, saya menulis satu bab saja butuh satu bulan.

Baca juga: Novel Thriller yang Bikin Deg-Deg Serr..

Dari lima novel seri “Urban Thriller”, Playing Victim mendapat giliran pertama dipublikasikan di Wattpad. Waktu itu April 2018 awal, hingga beberapa jam sebelum dipublikasikan saya masih berjibaku dengan “Mau menuliskan prolog seperti apa?” Tanggal pertama dipublikasikannya novel inilah yang kemudian saya pakai sebagai latar waktu novelnya, semacam menjadikannya batu peletakan pertama.

Sebagai bahan riset, saya banyak mengamati dinamika dunia online. Seperti mengikuti kasus-kasus terbaru yang mencuat dan bagaimana reaksi orang-orang di dunia maya terhadap kasus-kasus itu. Di luar itu, saya menggabungkannya dengan pengalaman empiris saya sebagai pegiat dunia online selama bertahun-tahun. Saya memang termasuk bagian dari orang-orang yang menjadikan Internet sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Proses penulisan baru sebulan berjalan, saya dihadapkan kepada masalah pribadi yang rumit. Saya mengalami perpisahan, dan tak ada perpisahan yang mudah dan tak menyakitkan. Disusul kemudian saya dan anak jatuh sakit secara bersamaan. Melihat gadis kecil saya sakit berbulan-bulan, hati saya tersayat. Apalagi kemudian saya mendapati dia memiliki trauma. Kedua hal itu cukup memukul mental saya. Saya memang tipe penulis yang sulit menulis dalam keadaan psikis tertekan. Kegalauan dan kecemasan sering kali membuat saya tak bisa berkonsentrasi. Biasanya, saya menulis dalam keadaan psikologi tenang. Untungnya, sistem setor bab tiap minggu menjaga ritme penulisan novel ini.

Masalah tampaknya masih senang bermain-main dengan saya. Sepanjang tahun 2018, proyek-proyek mangkrak, adapun pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai, bayarannya tak kunjung cair. Saya dililit kesulitan finansial. Sering kali, saya menulis dalam keadaan lapar. Saya bahkan tak mampu menghidupi anak saya. Depresi dan keadaan finansial membuat saya mengalihkan pengasuhan sementara kepada kedua orangtua saya. Mental saya sampai ke titik nadir. Entah seberapa sering saya mengutuki diri sendiri. Tahun 2018 menjadi tahun terberat dalam hidup saya. Begitulah. Realitas menampar keras dari segala sisi. Rasanya, hampir tak diberi jeda untuk bernapas.

Baca juga: Dari Menyehatkan Pikiran dan Mental Hingga Melatih Sikap, Inilah Beberapa Manfaat Membaca Novel Thriller

Pada Agustus 2018, publikasi novel di Wattpad selesai, menggantung cerita di tengah-tengah agar pembaca menemukan akhir kisahnya dalam versi cetak. Namun, kami para penulis diberi limit waktu satu bulan untuk mengumpulkan naskah. Apa yang terjadi pada saya waktu itu adalah semacam blank spot. Saya benar-benar tak bisa berpikir. Masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya tak bisa menulis. Benar-benar berhenti selama beberapa bulan. Saya juga menarik diri dari dunia luar. Mengasingkan diri dalam cangkang rumah. Saya hanya muncul di dunia maya, hingga saya merasa kehilangan arti keberadaan. Saya merasa menjadi makhluk fantasi. Seseorang yang hanya hidup di dalam layar dan dunia khayal.

Limit waktu pengumpulan naskah datang, sementara jumlah halaman karya saya tak beranjak dari bulan-bulan sebelumnya. Untungnya, editor saya dapat memahami kondisi saya. Saya diberi limit waktu lebih panjang.

Baca juga: Domestic Noir, Aroma Baru Thriller Psikologis

Tuhan memang mahabaik. Dilimpahi-Nya saya orang-orang baik. Keluarga, kembaran, dan para sahabat tidak henti-henti memberi saya semangat. Merekalah yang membantu menyadarkan saya bahwa saya sepenuhnya nyata. Bahwa saya sekuat itu, bahwa saya bisa menyelesaikan novel saya. Hingga di satu titik, saya tersadar bahwa saya mesti berjuang, bukan membiarkan diri terpuruk. Tiap kali saya ingin menyerah, selain teringat keluarga, para tokoh novel ini selalu berucap, “Jangan menyerah, karyamu belum selesai.” Kemudian, saya mulai lagi membuka-buka naskah, membaca, menyelami, mengenal dekat para tokohnya, hingga menyusun kembali gagasan-gagasan yang ingin saya sampaikan kepada dunia. Lambat tetapi pasti, saya kembali menemukan ritme penulisan. Bahkan, pada suatu malam, ketika suatu peristiwa membuat saya sangat bersedih, para tokoh novelnya mendatangi saya. Mereka berkata, “Ayo menulis …. Perasaan pedihmu itu amunisi bab yang sedang kamu tulis. Kami di sini, memelukmu.” Tidak pernah terjadi sebelumnya, saya bisa berpikir dan menulis dalam keadaan sejatuh itu.

Pada pertengahan Februari 2019, akhirnya saya menulis kata “Tamat” pada bab akhir. Titik itu menjadi awal baru bagi kehidupan saya. Segalanya mulai menemukan titik terang. Saya telah kembali hidup bersama si Kecil, menemukan perasaan optimis, mulai membenahi kehidupan dan belajar mencintai diri. Novel ini salah satu anugerah yang diberikan Tuhan untuk menjaga kewarasan saya. Jika bukan karena tangan Tuhan, novel itu tak akan pernah selesai. Saya percaya, saya telah didekap keajaiban.