Fahruddin Faiz, Penceramah Ngaji Filsafat: “Saya Masuk Filsafat Seperti Orang Tersesat”

Ditulis oleh Faisal Javier Anwar, Penulis Lepas

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Pengisi kajian Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, Fahruddin Faiz, baru saja meluncurkan bukunya yang berjudul Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Kali ini ia berbincang-bincang dengan dimoderatori Husein Ja’far penulis buku Tuhan Ada di Hatimu. Banyak topik yang dibahas bersamanya, mulai dari ceritanya “tersesat” di jurusan Filsafat, awal mula kegiatan Ngaji Filsafat, cuplikan singkat isi bukunya, serta fenomena jadi ateis karena belajar filsafat.

“(Jurusan) mana yang paling tidak laku? Mana yang paling kecil peminatnya?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Fahruddin Faiz ketika ia diminta memilih jurusan oleh petugas administrasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekitar 27 tahun yang lalu. Faiz yang baru saja lulus Madrasah Aliyah—setingkat SMA—memang sengaja mencari jurusan yang sepi peminatnya. “Bayangan saya kalau kecil peminatnya, kuliahnya bisa santai, enggak terlalu serius,” ujarnya.

Faiz saat itu memang tidak terlalu berminat untuk segera berkuliah karena menurutnya ia masih ingin “menjelajah” dari pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya.  “Tapi dipaksa orang tua kuliah, ya sudah saya masukkan berkas ke Jogja sambil tidak terlalu minat kuliah karena tidak ikut tes,” katanya. Faiz saat itu termasuk 10 besar lulusan terbaik sekolahnya sehingga ia mendapat keistimewaan “bebas tes bebas milih jurusan.” Pilihan pun akhirnya jatuh pada Filsafat.

Sebenarnya Faiz saat itu pun tidak tahu-menahu soal Filsafat. Bahkan orang tuanya pun bertanya-tanya soal pilihan jurusan yang ia ambil. “Pulang ke rumah, saya ditanya orang tua, ‘Filsafat jurusan opo?’ ‘Ndak ngerti juga, sing penting kuliah lah,’” ceritanya. “Jadi dari situlah saya masuk Filsafat seperti orang tersesat, tapi tersesat di jalan yang benar lah, ya,” lanjut Faiz yang kemudian tertawa kecil.

Lulus S1 pun ia masih belum menyadari pentingnya filsafat. Ia baru menyadari pentingnya filsafat ketika ia menjadi dosen jurusan Filsafat. Saat itu kampusnya sedang kedatangan tim akreditasi. “Nah dia tanya gini, ‘Alumni Filsafat mau jadi apa? Pertanyaan yang selalu ditanyakan sekarang jurusan-jurusan sekarang mau jadi apa, kan ditanyakan. (Contohnya) kalau Tarbiyah jadi guru, Dakwah jadi dai, nah kalau Filsafat jadi apa?”

Dia secara iseng menjawab pertanyaan tersebut bahwa lulusan Filsafat “bisa jadi apa saja.” Ini dikarenakan lulusan Filsafat dituntut memiliki kompetensi berpikir dengan benar. “Bidang apa yang enggak butuh kemampuan berpikir yang benar, bidang apapun ketika kekurangan kemampuan berpikir, selain dia enggak akan bisa berkembang, dia juga enggak akan sukses memahami dirinya, dan enggak sukses memahami dirinya itu bagi saya fatal,” kata Faiz.

Baca juga: Belajar Memaknai Hidup ala Viktor Frankl, Sang Penyintas Kamp Konsentrasi Nazi

Merintis Ngaji Filsafat

Mengaku tersesat di awal, nyatanya kemudian Filsafat pula yang mengantarkan nama Faiz dikenal luas oleh publik. Ia dikenal luas setelah rutin mengisi kegiatan Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta.

Ngaji Filsafat bermula dari permintaan beberapa mahasiswa yang menjadi takmir di masjid tersebut agar Faiz mengisi kajian. Namun, Faiz aslinya bukan orang yang mudah untuk diminta mengisi ceramah atau kajian di masjid karena ia merasa tidak percaya diri untuk memberikan wawasan keagamaan. “Kemudian teman-teman datang, saya bilang, ‘Saya sebenarnya pingin bantu kalian, cuma bidang saya Filsafat, saya ngertinya filsafat. Kalau teman-teman mau, kita ke masjid ngaji temanya filsafat,’” cerita Faiz.

Namun beberapa kegiatan awal Ngaji Filsafat justru tidak diselenggarakan di masjid. Ini dikarenakan filsafat adalah hal “sensitif” bagi sebagian masyarakat, sehingga muncul kekhawatiran Ngaji Filsafat dapat menimbulkan “kegaduhan” jika diselenggarakan di masjid.

“Itu awalnya di ruang kelas. Itu masjid kan sebelahnya ada sekolah. Kebetulan ada takmir pegang kunci beberapa ruangan. Jadi awal-awal ngaji di kelas di sebelah masjid,” cerita Faiz.

Ngaji Filsafat mulai tersebar luas setelah audio ceramah Faiz, yang direkam oleh seorang peserta, tersebar luas melalui ponsel. Peserta yang datang pun semakin membeludak sehingga kelas yang biasa digunakan tidak lagi muat menampung peserta. “… terus terpaksa sekali kita pindah ke masjid. Pokoknya dengan agak takut-takut gimana gitu karena tema-temanya kan sudah ada Karl Marx, ada Nietzsche, nanti masuk masjid temanya ‘Membunuh Tuhan’ itu kan luar biasa juga saat itu,” tutur Faiz sambil tertawa kecil.

Sejak itu kemudian Ngaji Filsafat rutin dilaksanakan di Masjid Jenderal Sudirman. Dengan diselenggarakan di masjid, maka Faiz lebih berhati-hati dalam menyampaikan materinya.  “… sebelumnya di sesi kelas itu saya wis ngomongnya rodok los, ngambil macam-macam contoh agak los. Tapi begitu masuk masjid, ya mulai agak hati-hati, khawatirnya nanti banyak yang tidak berkenan, tapi temanya tetap tema-tema filsafat,” katanya.

Baca juga: Oase di Tengah Gejolak Era Informasi

Menjadi Manusia Menjadi Hamba

Faiz juga mendiskusikan sebagian kecil isi bukunya. Di awal sesi webinar, Faiz menyebut bahwa sebenarnya kemanusiaan dan kehambaan bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, yang dianalogikannya “dua wajah dari satu keping uang.” Kemanusiaan dan kehambaan menurutnya dua hal yang tidak bisa terpisahkan.

“Jadi kemanusiaan dan kehambaan satu paket. Saat kita menjalani takdir kita sebagai hambanya, sebenarnya kita sedang mewujudkan diri sebagai manusia,” ujar Faiz.

Ia memberi contoh bertauhid—menomorsatukan Allah. Meskipun bertauhid lekat dengan kehambaan, tapi menurutnya bertauhid juga mengandung unsur kemanusiaan.

“… ketika kita menomorsatukan Allah (maka) level di bawah Allah, kalau bahasa saya dualitas, ada khaliq ada makhluk. Berarti semua makhluk setara, semua makhluk itu sejajar, enggak ada saling lebih, kita semua sama, hanya beda fungsi, hanya beda peran, tapi di atas kita langsung Allah,” kata Faiz. Oleh karena itu, menurut Faiz struktur relasi manusia yang zalim dibenci dalam Islam karena “dalam struktur itu ada pola anti tauhid, ada sesuatu yang superior dan ada yang inferior.”

Oleh karena itu, dalam Islam segala aktivitas di dunia menurutnya bisa bernilai ibadah. Dengan melakukan aktivitas dengan benar, maka sebenarnya manusia memenuhi tanggung jawab penghambaan.

“Nah misalnya kita jalankan tugas-tugas kemanusiaan kita di level kebaikan pada sesama atau di level hari ini level kesehatan, misalnya. Ini kan juga tanggung jawab kehambaan, Allah memberi kita amanat tubuh kita aamanat jasad kita amanat utk dijaga untuk menjalani sesuatu fitrahnya. Dan ketika kita menjalankan sesuai fitrahnya, kita sedang memenuhi tugas penghambaan,” kata Faiz.

Kemanusiaan saja tanpa penghambaan menurutnya berarti melupakan kodrat manusia sebagai makhluk yang terbatas.

“’Aku tidak mampu menentukan nasibku sendiri meskipun aku mampu mengupayakan apa yang aku inginkan.’ Ini namanya kesadaran. Maka dari situ menghadirkan bahwa, ‘Aku butuh sandaran, aku butuh sesuatu yang luar biasa, melebihi segalanya sebagai sandaran atas semua kelemahan-kelemahanku.’Nah di situ maka kemanusiaan butuh sandaran ketuhanan,” ujar Faiz.

Penghambaan yang berlebihan pun sebenarnya penghambaan yang reduktif. Manusia hanya mengutamakan rohani, dan mengabaikan jasmaninya, padahal menjaga kesehatan jasmani juga bagian dari tugas penghambaan.

“Ini yang Rasulullah kritik. Ada sahabat yang pamer, ‘Saya itu tiap malam ibadah terus enggak pernah tidur’, ada yang, ‘Saya tiap siang itu puasa terus, enggak pernah enggak puasa’, ada yang bilang, ‘Aku mempersembahkan hidup untuk agama maka aku enggak nikah.’Ini semboyan tiga orang sampai pada Rasulullah dan Rasulullah mengingatkan, ‘Aku ini nabi, tiap malam salat malam tapi aku juga tidur. Aku ya puasa tapi aku berbuka. Bahkan aku juga menikah,’” ujar Faiz.

Baca juga: Karena Tuhan Memang Begitu

Filsafat Menjauhkan Orang dari Agama?

Faiz juga menjawab pertanyaan dari peserta yang menyoroti fenomena orang-orang yang menjauh dari agama setelah belajar filsafat. Ia pun mengutip pendapat Francis Bacon, “Bahwa filsafat yang sedikit, yang setengah-setengah akan menjauhkan orang dari agama. Tapi orang yang (belajar) filsafat yang mendalam justru akan membawa orang balik ke agama.”

Belajar filsafat seharusnya tidak membatasi referensi bacaan, karena menurutnya filsafat itu “semesta yang sangat kaya.” Mereka yang kemudian menjadi ateis lantaran belajar filsafat menurutnya kemungkinan hanya terfokus pada hasil pemikiran yang menolak keberadaan Tuhan. “Sehingga dia fokus di situ, lupa kalau filsuf itu enggak boleh milih-milih referensi, dia harus baca apapun referensi, baik dari yang anti tuhan termasuk dari yang bertuhan,” kata Faiz.

Selain itu perlu dibedakan pula filsafat sebagai proses berpikir yang rasional dan mendalam dengan filsafat sebagai produk pemikiran. Para filsuf bisa saja memiliki produk pemikiran yang alirannya identik tapi punya gagasan berseberangan soal ketuhanan. “Karl Marx itu sangat praksis orientasinya, pembebasan, Ali Syariati juga praksis pembebasan. Dua-duanya filsuf. Yang satu (Ali Syariati) sangat religius, yang satu ateis,” ujar Faiz memberi contoh.

Bagi Faiz, tak masalah jika orang yang belajar filsafat kemudian menganut satu aliran pemikiran tertentu. Hanya saja, menurutnya, “… harus berani tanggung jawab, berani luas membuka diri kalau ada informasi-informasi yang berbeda.”

Terlepas dari itu semua, Faiz melihat sejatinya filsafat punya keasyikannya tersendiri, yang mempunyai tempat di atas kebijaksanaan. Oleh karena itu, Faiz menyarankan bagi yang berminat pada filsafat agar dapat menemukan keasyikan di dalamnya.

“Ilmu itu nikmat, ilmu itu asyik. Tidak sekadar kita wajib menuntut ilmu, tapi di dalam ilmu ada kebahagaiaan ada kegembiraan, tidak sekadar pengetahuan,” ujar Faiz. (fja)

Video: