Setelah sukses dengan novel Perkumpulan Anak Luar Nikah, Grace Tioso kembali menghadirkan cerita yang dekat dengan isu identitas, keluarga, dan cara masyarakat memandang seseorang lewat novel terbarunya, Dunia Lisbeth.
Kali ini, Grace Tioso membawa pembaca lebih dekat dengan kehidupan Lisbeth, perempuan Tuli berusia 25 tahun yang pintar, berbakat, dan memiliki banyak hal untuk diperjuangkan.
Dia membantu mendirikan dan mengelola Sekolah Tuli Maitra yang sedang berada dalam kondisi goyah. Pada saat yang sama, butik pengantin yang baru dibukanya juga terancam gulung tikar.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, kehidupan Lisbeth kemudian bersinggungan dengan Bryan, pria yang mengurus kafe boba di ruko sebelah. Pertemuan keduanya menghadirkan kisah cinta yang tidak sederhana karena mereka datang dari dua dunia yang berbeda.
Lantas, apa saja yang membuat Dunia Lisbeth menarik untuk dibaca?
1. Mengenal Lisbeth, Perempuan Tuli dengan Mimpinya Sendiri
Lisbeth bukan karakter yang hadir untuk dikasihani. Dia digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki pekerjaan, impian, keluarga, dan persoalannya sendiri.
Kehidupannya mulai bersinggungan dengan Bryan, pria berusia 29 tahun yang selama ini menghadapi berbagai sindiran dan hinaan dari orang-orang terdekatnya.
Bagi Bryan, Lisbeth menjadi orang pertama yang membuatnya merasa benar-benar didengar. Perasaan itu pun kemudian perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Sayangnya, perasaan Lisbeth tidak mudah ditebak.
Hubungan keduanya kemudian memperlihatkan bahwa jatuh cinta kepada seseorang tidak otomatis membuat kita memahami seluruh pengalaman hidupnya.
2. Ketika Cinta Berhadapan dengan Dua Dunia yang Berbeda
Perbedaan pengalaman antara Lisbeth dan Bryan menjadi salah satu bagian penting dalam novel ini.
Bryan adalah pria dengar yang tidak mengalami berbagai hambatan yang harus dihadapi Lisbeth sebagai perempuan Tuli. Ketika dia berusaha memahami Lisbeth, muncul sebuah kalimat yang mengguncang hubungan mereka,
“Kamu tidak Tuli. Tidak bisa mengerti aku.”
Dua kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa memahami seseorang membutuhkan lebih dari sekadar rasa suka. Ada pengalaman hidup yang tidak bisa sepenuhnya dimengerti hanya dengan melihatnya dari luar.
Karena itu, kisah Lisbeth dan Bryan tak hanya melibatkan romansa, tetapi juga tentang cara berkomunikasi, perbedaan pengalaman, dan usaha untuk memahami satu sama lain.
Baca juga: Perkumpulan Anak Luar Nikah: Kisah Fiksi Sarat Realita dan Sejarah yang Tersembunyi
3. Menghadirkan Representasi Tuli yang Lebih Manusiawi dan Realistis
Salah satu keunggulan Dunia Lisbeth adalah usahanya menghadirkan karakter Tuli secara lebih manusiawi dan realistis.
Dalam banyak cerita tentang penyandang disabilitas, karakter utama sering kali digambarkan sebagai sosok yang harus dikasihani atau justru sebagai tokoh sempurna yang selalu menginspirasi. Dunia Lisbeth mencoba menghindari dua gambaran tersebut.
Tokoh-tokoh Tuli dalam novel memiliki emosi yang beragam. Mereka bisa marah, kecewa, membuat kesalahan, jatuh cinta, dan belajar dari pengalaman.
Lisbeth pun tidak hanya didefinisikan karena kondisinya. Dia adalah seorang manusia utuh dengan mimpi, pekerjaan, hubungan, dan kehidupan yang terus berjalan, sama dengan yang lainnya.
4. Ditulis Bersama Masukan Enam Beta Reader Tuli
Representasi tersebut juga didukung oleh proses penulisan yang melibatkan enam beta reader Tuli.
Mereka memberikan masukan mengenai plot, pengalaman hidup, pemilihan kata, BISINDO, hingga budaya Tuli. Dari proses ini, Grace juga memahami bahwa pengalaman teman Tuli tidaklah seragam.
Latar belakang keluarga, pendidikan, kondisi ekonomi, pola asuh, hingga tingkat pendengaran dapat membentuk pengalaman yang berbeda. Karena itu, Dunia Lisbeth tidak berusaha menggambarkan satu pengalaman Tuli sebagai representasi semua Teman Tuli.
5. Mengenalkan BISINDO dan Budaya Tuli
BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia menjadi bagian penting dalam cerita. Dialog para tokoh Tuli dibuat dengan mempertimbangkan cara komunikasi yang digunakan dalam komunitas Tuli, kemudian diterjemahkan menggunakan tata bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami pembaca.
Novel ini juga dilengkapi QR Code yang berisi informasi tambahan mengenai dunia Tuli, seperti BISINDO sederhana dan language deprivation.
Dengan begitu, pembaca tidak hanya mengikuti cerita Lisbeth, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal aspek kehidupan Teman Tuli yang mungkin belum pernah mereka temui sebelumnya.
Baca juga: Misteri, Tawa, dan Teh Sore: Kisah Tak Terduga dari The Thursday Murder Club
6. Terinspirasi dari Pengalaman Keluarga Grace Tioso
Kedekatan Grace Tioso dengan dunia Tuli juga bersifat personal. Adik bungsunya adalah seorang Teman Tuli. Pengalaman Yahya dan teman-temannya menjadi salah satu sumber inspirasi dalam menciptakan cerita Dunia Lisbeth.
Grace juga melihat bagaimana seseorang dengan kemampuan dan prestasi tetap dapat menghadapi hambatan ketika memasuki dunia kerja.
Pengalaman tersebut membuatnya ingin menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi teman Tuli tidak hanya berkaitan dengan komunikasi, tetapi juga akses pendidikan, pekerjaan, dan stigma masyarakat.
Novel ini memadukan romansa, keluarga, budaya Tionghoa, dunia F&B, pendidikan, dan pengalaman komunitas Tuli dalam satu cerita.
Beli bukunya di sini
