loader image

Di Balik Sang Peramal

Ditulis oleh Chandra Bientang, Penulis Buku Dua Dini Hari dan Sang Peramal

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Menulis Sang Peramal dalam tahun terjadinya pandemi terbilang pekerjaan yang sulit dan menguras tenaga. Sebabnya adalah keterbatasan ruang gerak sepanjang PSBB yang menimbulkan kejenuhan. Rasa jenuh, seperti yang kita tahu, lebih melelahkan daripada kerja fisik, sehingga penulisannya banyak menemui kebuntuan. Segala macam riset harus dilakukan dari rumah. Rencana mengunjungi sendiri Yogyakarta—yang merupakan latar tempat dalam novel ini—terpaksa batal. Mengimbangi kendala dan keterbatasan tersebut, maka imajinasi harus bekerja total, di samping rekoleksi ingatan yang menjadi dasar terbentuknya tokoh-tokoh dalam novel ini.

Tema seputar peramal dan tarot sudah cukup dekat dengan saya karena pernah mempelajari tarot secara khusus ketika membuat skripsi semasa kuliah. Kartu-kartu yang digambarkan dalam novel ini saya ambil sendiri dari kartu-kartu tarot yang saya miliki. Karena itu, dalam menuliskan topik ini, saya tidak menemukan kendala yang berarti. Tentu saja saya tidak bermaksud menghadirkan kisah mistis ataupun menuntun pembaca pada mistisisme. Oleh sebab itu, pada bab pertama sudah gamblang diceritakan inti permasalahannya, yaitu teka-teki sang Peramal yang menghilang.

Baca juga: Novel Thriller yang Bikin Deg-Deg Serr..

Menghadirkan tarot dalam novel tidaklah sulit karena rata-rata orang sudah tahu apa itu tarot. Alasan memilih topik seorang peramal dan tarot, selain karena ketertarikan khusus saya sebagai penulis, adalah fenomena masyarakat yang suka mendengar ramalan. Jangankan tarot, khalayak masih menunggu-nunggu peruntungan zodiak mingguan dan meluncur di internet untuk mencari nasib shio masing-masing setiap datang tahun baru. Mengolah obsesi masyarakat akan masa depan selama ini lebih banyak condong pada cerita-cerita mistis dan ilmu kebatinan, tetapi dalam novel ini semua berpusar pada problem kemanusiaan: ketakutan, ketidakpastian, masa lalu yang menghantui, kesalahan masa lalu, rahasia, dan kejahatan.

Tema thriller sering dikaitkan dengan teka-teki pembunuhan, tetapi di novel ini saya mencoba  sesuatu yang berbeda, yaitu orang hilang. Orang hilang lebih kompleks daripada mati. Tidak ada yang tahu nasib apa yang mungkin menimpanya, atau di mana dia berada sampai-sampai tidak seorang pun pernah melihatnya lagi. Saya merasa akan menarik apabila seorang peramal yang telah lama menjadi andalan orang-orang untuk membacakan masa depan mereka tiba-tiba menghilang tanpa sebab pasti. Membuat orang bertanya-tanya apa yang terjadi kepadanya. Teka-teki ini membuat masa lalu sang Peramal satu per satu terkuak.

Pemilihan Yogyakarta sebagai latar tempat, tepatnya Bantul, dilandasi keinginan saya untuk beranjak dari kehidupan Jakarta yang sudah banyak diceritakan tanpa harus meninggalkan tema urban/perkotaan yang dibutuhkan dalam proyek novel ini. Penulisan yang dilakukan di tengah pandemi seperti ini akan jadi lebih mudah apabila saya mengisahkan tempat yang sudah pernah saya singgahi sebelumnya karena tidak memungkinkan mengunjungi tempat-tempat baru.

Beberapa riset saya lakukan untuk menyokong novel ini menjadi kesatuan kisah yang meyakinkan. Di antaranya studi mengenai kasus orang-orang hilang sepanjang sejarah Indonesia, guna mendapat gambaran mengenai proses pencarian dan karakter orang-orang tersebut. Studi lainnya adalah sekilas kunjungan pada KUHP dan KUHAP guna mencari tahu masa kedaluwarsa suatu kasus pidana—dalam konteks novel ini, pemalsuan identitas. Kemudian, untuk memperkaya cita rasa lokal dalam novel, saya juga membaca-baca seputar legenda dan peristiwa-peristiwa di Yogya. Saya juga sempat melakukan wawancara dengan para praktisi tarot guna mendapatkan karakter yang dibutuhkan untuk sang Peramal.

Baca juga: Dari Menyehatkan Pikiran dan Mental Hingga Melatih Sikap, Inilah Beberapa Manfaat Membaca Novel Thriller

Pengerjaan novel ini berlangsung sedikitnya delapan bulan sampai melahirkan draf sebanyak kurang lebih dua ratus halaman. Sisanya, bagian yang disebut “pengungkapan” masih berlangsung dengan tenggat yang diberikan editor adalah 10 Januari 2021. Dalam delapan bulan itu, Sang Peramal telah menemukan bentuk dan plotnya. Tokoh-tokohnya sudah dibuat ajeg, beberapa terekstraksi dari ingatan saya sendiri. Misalnya, pasangan Bude Nik dan Pakde Yo yang punya kedai adalah gambaran orang-orang yang pernah saya jumpai pada masa kecil di kota Muntilan. Kemudian, sosok sang Peramal sendiri adalah gabungan dari sosok-sosok yang dekat dengan saya, yaitu ibu, nenek, dan para bude. Tokoh “pencari” dalam novel ini bernama Yasmin, yang tak disangka-sangka adalah anak sang Peramal. Yasmin adalah seorang perempuan Jakarta yang datang ke Yogya untuk mencari sang Peramal yang menghilang pada suatu malam. Saya sengaja menggambarkan kekakuan dan keasingan Yasmin kala berada di antara orang-orang Yogya, untuk memperlihatkan perbedaan kebiasaan dan pembawaan antara dua kota tersebut. Kemudian, yang tidak kalah penting, ada Phil, seorang lelaki asal Australia yang menetap di Yogya dan bekerja sebagai asisten toko seorang pedagang. Saya mendapat ide tentang tokoh ini dari pengalaman menangani Public Relation sebuah tempat kursus, di mana yang dipekerjakan di sana adalah para ekspatriat—tetapi beberapa di antaranya tidak memiliki izin kerja resmi dari negara.[]