loader image

Tarot dan Inspirasi

Ditulis oleh Chandra Bientang, Penulis Buku Dua Dini Hari dan Sang Peramal

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Banyak hal yang menjadi inspirasi menulis saya, jika dipikirkan, tidak jauh dari pengalaman sendiri. Sejak menulis Kanti di Dua Dini Hari, si anak pencinta kucing di Anak Kucing Leti, dan kini menulis tentang Phil dan Bude Nik di Sang Peramal, saya semakin percaya insiden terkecil sekalipun menyumbang gagasan.

Ketika saya duduk di bangku SMA (wah, sudah belasan tahun lalu!), kakak saya membawa pulang satu set Tarot—deck beserta buku panduannya—dari sebuah toko yang kini sudah tidak ada. Saya tidak penah bermaksud mendalami, sampai beberapa tahun kemudian saya iseng membawanya ke kampus. Langsung saja teman-teman saya mengerumuni. Jika pembaca Tarot yang sering muncul di festival kampus menarik tarif lima puluh ribu rupiah untuk tiga pertanyaan, saya cuma minta kopi untuk berapa pun banyaknya pertanyaan. Kalau sudah begitu, acap saya kelelahan pada penghujung hari, sehabis memeras otak membaca simbol-simbol Tarot.

Baca juga: Novel Thriller yang Bikin Deg-Deg Serr..

Suatu hari, pada sebuah malam keakraban antara mahasiswa dan dosen, seorang dosen yang melihat saya membaca Tarot, menceletuk, “Bikin saja skripsi tentang Tarot!” Entah apakah ketika itu beliau sedang bercanda atau serius, saya menganggapnya sebagai tantangan. Maka jadilah, satu tahun kemudian, sebuah skripsi yang menelaah Tarot dari segi penciptaan simbol. Ah, mengingat itu, saya jadi terbayang lagi buku Feeling and Form: A Theory of Art karangan Susanne K. Langer yang mendasari analisis saya. Saya pikir, akan menarik melihat Tarot lewat kerangka pikir yang logis, bertentangan dengan persepsi orang-orang yang mengasosiasikan Tarot dengan hal-hal mistis. Tarot, bagaimanapun, terdiri dari simbol-simbol, dan bila berbicara simbol, tak lain ranahnya adalah rasionalitas manusia. Saya melihat simbol-simbol ini sebagai upaya manusia memahami semesta yang mengelilinginya.

Simbol Tarot yang paling saya sukai adalah The Magician—Pesulap. Bukan karena saya ingin jadi pesulap, tetapi karena makna yang terkandung. Pesulap, dalam tradisi simbolisme Tarot, adalah seseorang yang menguasai betul segala elemen yang dimilikinya: bakat, keahlian, potensi. Dia juga merepresentasikan seseorang yang imajinatif, mengejar kebijaksanaan, dan bertekad kuat. Dia mampu berkembang. Kualitas Pesulap inilah yang saya harap bisa pula saya miliki.

Baca juga: Di Balik Sang Peramal

Dalam setiap persinggungan saya dengan Tarot pada tahun-tahun yang lalu, tidak pernah saya terpikir untuk membuat sebuah novel. Ini adalah gagasan yang tiba-tiba saja keluar, mungkin sebuah percikan dari ingatan-ingatan yang berjalinan itu. Saya membayangkan seorang nenek murah senyum berpakaian kembang yang membuka praktik ramal untuk tetangga-tetangganya. Dari situ cerita berkembang. Saya mencabut pula beberapa karakter dari novel-tak-selesai saya yang terdahulu. Saya menikmati penulisan novel Sang Peramal, memperkenalkan beragam karakter yang terinspirasi dari orang-orang yang pernah saya jumpai, juga menggali karakter Imar Mulyani yang penuh teka-teki—dia disukai juga dibenci diam-diam, dia hilang tetapi menghantui pikiran orang-orang.

Saat ini, saya sudah berhenti menerima permintaan ramal dengan Tarot karena terbukti hidup lebih tenang demikian. Kartu Tarot itu akan selalu menjadi simpanan saya yang berharga. Sebuah pengingat bahwa dari gambar dan simbol yang sederhana, ada-ada saja yang bisa orang tafsirkan.[]