loader image

Cerita Sedih untuk Anak? Mengapa Tidak!

Ditulis oleh Noor H. Dee, Penulis Buku Anak dan Kreator Nabil Naura

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Setiap orangtua tentu ingin anak-anak mereka selalu dalam keadaan bahagia. Mereka kerap memilih hal-hal yang dapat membuat anak-anak mereka tersenyum ceria—termasuk dalam hal memilih buku cerita.

Cerita tentang hal-hal menyedihkan? Tidak usah dibeli. Cerita tentang kekecewaan? Tinggalkan saja. Cerita tentang kegagalan? Tutup mata dan cari buku cerita yang lain—yang sekiranya bisa membuat anak-anak mereka tertawa, gembira, dan pokoknya bisa terbebas dari rasa sedih yang menyebalkan.

Namun, benarkah anak-anak tidak perlu mendengarkan cerita-cerita sedih? Benarkah buku-buku cerita yang berisi kisah-kisah sedih hanya akan menghambat tumbuh kembang sang anak?

Baca juga: Makna Berlapis dalam Picture Book yang Tipis

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, alangkah baiknya jika kita mengingat kembali kisah Joy yang selalu berusaha menyingkirkan Sad dari kehidupan Riley dalam film Inside Out. Hasilnya: kehidupan Riley justru semakin memburuk. Sampai akhirnya Joy pun sadar bahwa kita tidak akan pernah mungkin mendapatkan kebahagiaan jika kita tidak pernah merasakan kesedihan.

Dalam artikelnya yang berjudul It’s Ok to Read Sad Stories for Children yang dimuat di website parenting Famly.co, disebutkan beberapa keutamaan membaca cerita sedih untuk anak, di antaranya adalah, “Untuk anak-anak yang hidupnya relatif nyaman dan bahagia, cerita sedih akan mengajari mereka tentang empati, dan memberikan mereka pemahaman tentang orang-orang yang kehidupannya tidak seberuntung mereka. Untuk anak-anak yang sering menghadapi kesulitan di rumah, cerita sedih akan menyadarkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.”

Kucingku, Kuzy karya Anastasia Qarawani adalah salah satu buku anak yang bisa dibilang menawarkan kesedihan untuk anak-anak. Buku yang akan diterbitkan Noura Publishing ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang sangat menyayangi Kuzy, hewan peliharaan kesayangannya yang suatu hari menghilang entah ke mana. Dalam buku tersebut dikisahkan betapa anak laki-laki itu sangat sedih, merasa kehilangan, dan setiap hari selalu berharap bisa bertemu kembali dengan Kuzy.
Hva er det beste dietten for kroppsbygging trenbolone ny kroppsbygging sporty tanktopper menn treningssentre fitness trening ermeløs skjorte mann stringer singlet sommer casual løs undertrøye – billig og rask shopping.

Baca juga: Membaca Nyaring Ternyata Penting!

Penulis cerita anak yang cukup ternama di Indonesia, Reda Gaudiamo, berkomentar seperti ini setelah membaca buku tersebut:

“Anak-anak adalah manusia kecil yang akan tumbuh besar. Dan dalam masa pertumbuhan itu, mereka perlu belajar atau mengenal banyak hal. Termasuk hal-hal yang tidak menggembirakan, tetapi perlu dikenalkan. Anastasia Qarawani, sang penulis, menggunakan kisah persahabatan seorang anak laki-laki dan Kuzy, kucingnya, dalam menyampaikan soal kematian. Dengan cara sederhana namun mengena, anak-anak belajar menerima bahwa kematian itu pasti, duka cita itu datang, dan bisa diatasi.”

Ya, anak-anak perlu belajar banyak hal, termasuk hal-hal yang tidak menggembirakan. Sebab, bukankah kehidupan memang berjalan seperti itu? Bukankah sebagai manusia, kita tidak akan selalu bahagia?
Bodybuilding treningsplan: overkroppens paradigmepeptider vekttap bodybuilding trening online: trening i beinvekst – 3 ukers syklus.

Kucingku, Kuzy, yang ditulis dengan begitu indah dan diilustrasikan dengan begitu menawan, bukan saja mengenalkan kisah sedih yang begitu penting untuk anak, melainkan juga mengajarkan kepada anak tentang bagaimana mengatasi kesedihan dengan cara yang sangat sederhana tetapi akan berdampak positif bagi kehidupannya kelak.[]