Sabtu (15/08/26), Perpustakaan Jakarta terasa lebih ramai dan hangat dari biasanya karena berlangsungnya Pekan Sastra Jakarta. Hari itu, ada acara kolaborasi antara Noura Publishing dan Mizan Publishing dengan Perpustakaan Jakarta. Pekan Sastra Jakarta edisi kali ini menghadirkan rangkaian acara yang benar-benar berfokus pada dunia literasi anak. Beragam acara digelar, mulai dari kelas menulis untuk anak-anak hingga talkshow yang mengupas proses kreatif di balik buku anak.
Kedua acara berlangsung selama tiga jam secara bersamaan. Satu ruangan dipenuhi anak-anak yang antusias belajar menulis, sedangkan ruangan lainnya penuh diisi audiens dari berbagai kalangan, seperti orangtua, penulis, anak-anak, dan pegiat literasi. Para audiens yang hadir di kedua acara tampak antusias ingin belajar dan mengintip proses kreatif di balik terciptanya buku anak. Keseruan pun dimulai dari sesi “Mari Bercerita, Mari Bergembira”, tempat anak-anak diajak menyelami dunia cerita sambil belajar merangkai kata dengan cara yang menyenangkan.
Mari Bercerita, Mari Bergembira
Di Ruang Berkarya, suasana kelas menulis untuk anak usia 7–13 tahun ini terasa hidup sejak menit pertama. Dipandu oleh Kak Richanadia selaku moderator , sesi ini menghadirkan dua nama yang sudah tidak asing di dunia buku anak, yaitu Kak Noor H. Dee dan Kak Ana D. Itsna. Keduanya adalah penulis sekaligus editor buku anak.
Tema besar “Mari Bercerita, Mari Bergembira” benar-benar cerminan dari cara sesi ini dikemas. Anak-anak diajak seru-seruan bermain dengan kata, ketimbang hanya duduk dan mencatat teori-teori. Mereka juga diajak memahami bahwa menulis cerita bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang ditemui di sekitar seperti pengalaman sehari-hari, imajinasi liar, hingga rasa ingin tahu tentang dunia. Kak Hadi dan Kak Ana bergantian membagikan wawasan dari sisi penulis sekaligus editor, keduanya juga memberikan gambaran bagaimana sebuah ide sederhana bisa “disulap” menjadi cerita anak yang utuh dan nyaman dibaca.
Kak Ana dan Kak Hadi menekankan bahwa tulisan tidak perlu sempurna dari draf pertama. Hal yang terpenting adalah keberanian untuk memulai menuliskan apa yang ada di kepala. Adapun mereka, sebab proses menyunting dan memperhalus penulisan bisa dilakukan di akhir.
Menjelang akhir sesi, hasil tulisan anak-anak tersebut di persentase sebagai bentuk apresiasi dan kepercayaan diri dalam menulis cerita.
Baca juga: Mengenalkan Dongeng Klasik Aesop kepada Anak lewat Odong-Odong Dongeng
Mengintip Dunia Besar di Balik Penulisan Buku
Sementara itu, di Ruang Belajar, talkshow bertema “Keajaiban dalam Buku Anak: Mengintip Dunia Bear di Balik Buku Anak” menjadi salah satu highlight Pekan Sastra Jakarta kali ini. Dipandu oleh moderator Dela Criesmayanti, talkshow ini menghadirkan dua penulis buku anak, yaitu Kang Iwok Abqary dan Kak Nathania Luvena. Fokus obrolan bukan hanya pada isi atau cerita dari buku-buku mereka, melainkan juga pada proses kreatif di balik penulisannya.
Kang Iwok menceritakan proses sebuah ide sederhana bisa berkembang menjadi naskah utuh. Dia menjelaskan bahwa proses menulis buku anak biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang ditemui sehari-hari, lalu diolah dan disaring berkali-kali sebelum akhirnya menjadi cerita yang runtut dan nyaman dibaca oleh anak. Menurutnya, penulis buku anak perlu benar-benar memastikan naskahnya ‘sampai’ ke anak-anak, misalnya dengan mencoba membacakannya langsung dan melihat reaksi mereka, sebelum naskah tersebut dianggap siap untuk diterbitkan.
Di sisi lain, Nathania membagikan perjalanan pribadinya yang tidak kalah menarik. Dia menceritakan bahwa sebelum naskahnya diterima penerbit, Dia sempat berkali-kali mengalami penolakan naskah. “Awalnya aku juga mengirimkan naskah ke seri KKPK, sampai akhirnya novel-novelku yang lain mulai diterbitkan.” Dari pengalaman itu, Dia mengaku belajar untuk tidak mudah menyerah menghadapi penolakan. Baginya, proses tersebut adalah bagian wajar dari perjalanan seorang penulis.
Nathania juga berbagi pelajaran penting lain bahwa penulis perlu berdiskusi dengan editor, bukan sekadar menerima atau menunggu naskah ‘diterima begitu saja’. Diskusi dengan editor, menurutnya justru menjadi bagian dari proses yang membantu naskah menjadi lebih baik. Selain itu, dia menyampaikan bahwa ide untuk menulis bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, begitu sebuah ide muncul kita harus segera menuliskannya agar tidak terlupa.
Kang Iwok dan Nathania sepakat bahwa perjalanan menulis tidak selalu berjalan mulus sejak awal, baik dari sisi proses kreatif menemukan dan mengolah ide maupun dari sisi perjuangan menembus penerbit. Namun, keduanya menekankan bahwa proses itu, sepahit apa pun, adalah bagian yang membentuk seorang penulis menjadi lebih matang. Perpaduan dua perspektif ini membuat talkshow terasa kaya, memberi gambaran bahwa di balik satu buku anak yang sederhana, terdapat proses panjang dan berlapis yang tidak selalu terlihat oleh pembacanya.
Baca juga: Menghidupkan Imajinasi Anak Melalui Keajaiban Visual Aesop’s Fables Read & Play
Menumbuhkan Cinta Baca Keluarga
Pekan Sastra Jakarta edisi kali ini membuktikan bahwa literasi anak dapat didekati dari dua sisi yaitu, menumbuhkan cinta pada buku sejak dini dan mengajak publik menghargai proses kreatif di balik lahirnya sebuah buku. Sejumlah karya dari penulis yang hadir, seperti Pangeran Katak yang Bau Ketek karya Kak Hadi dan Seri Read Aloud karya Kang Iwok, bisa langsung dibaca dan dimiliki. Buku-buku tersebut beserta berbagai judul inspiratif lainnya terbitan Noura Publishing bisa ditemukan di nourabooks.co.id.
Tak hanya menambah wawasan, membaca bersama juga bisa mempererat kedekatan antara orangtua dan anak lewat cerita-cerita yang dibagikan. Yuk, jadikan momen membaca sebagai aktivitas seru untuk memperluas wawasan seluruh anggota keluarga!