Bagaimana rasanya membaca cerita tentang seorang laki-laki tua yang gemar menodongkan pistol tanpa pernah menembakkannya? Atau tentang seorang mahasiswa penyair dengan benjolan di kepala serta lendir yang keluar dari telinganya? Atau tentang bayi aneh bernama Orez yang lahir dengan kondisi fisik yang membedakannya dari yang lain?
Sekilas, semua terdengar absurd. Tidak masuk akal. Bahkan cenderung mengacaukan.
Itulah yang dirasakan ketika pertama kali membaca Orang-Orang Bloomington, kumpulan cerpen karya Budi Darma yang pertama kali terbit pada awal 1980-an. Buku ini lahir dari pengalaman pengarangnya saat menempuh pendidikan di Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, antara tahun 1974 dan 1980. Berarti, buku ini telah berusia lebih dari 40 tahun.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah buku sekelas ini masih relevan bagi pembaca remaja masa kini?
Baca juga: Mengapa Kita Sulit untuk Memahami Orang Lain? Temukan Jawabannya di Rafilus
Absurditas yang Disengaja
Tujuh cerpen dalam buku ini, mulai dari Laki-Laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elberhart, hingga Charles Lebourne. Mereka memang menghadirkan tokoh-tokoh yang janggal, melankolis, dan sulit ditebak. Konflik yang diangkat pun tidak biasa, justru di situlah letak kekuatan buku ini.
Keganjilan tersebut tidak hadir tanpa tujuan. Budi Darma sengaja menggunakan surealisme untuk membongkar sisi-sisi gelap manusia yang jarang dibicarakan, seperti kesepian, ketidakadilan, obsesi, rasa bersalah, hingga kebencian yang tidak beralasan.
Dengan kata lain, absurditas adalah kendaraan untuk pesan yang amat sangat nyata di dunia realitas.
Baca juga: Mengapa Olenka Makin Relevan untuk Dibaca Hari Ini?
Relevansi untuk Pembaca Muda
Apakah seorang pelajar SMA pada 2026 masih bisa terhubung dengan cerita-cerita ini?
Jawabannya: ya.
Contoh, cerpen Joshua Karabish. Tokoh utamanya enggan menerbitkan puisi-puisinya karena takut dinilai orang lain berdasarkan penampilan fisiknya. Rasa takut akan penilaian publik ini sangat terasa di era media sosial, ketika tiap orang berlomba menampilkan versi terbaik dirinya.
Atau Yorrick, yang mengisahkan seseorang pindah tempat tinggal hanya untuk mendekati perempuan yang dia kagumi, tetapi akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan saat perasaan itu tidak berbalas. Siapa yang tidak pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?
Manusia di Bloomington tahun 1970-an ternyata tidak berbeda jauh dengan manusia di kota mana pun pada 2026. Mereka tetap berhadapan dengan kesusahan, rasa tidak adil, dan kesendirian.
Apakah Orang-Orang Bloomington masih relevan? Sangat relevan.
Apakah ia absurd? Ya, memang absurd. Namun, absurditasnya justru menjadi pintu masuk untuk memahami kebenaran yang lebih dalam tentang hakikat manusia. Dan pemahaman semacam itu tidak akan pernah hilang, tidak peduli berapa dekade pun usia sebuah karya.
Beli bukunya di sini