Alasan Novel Distopia Disukai Pembaca Muda Nomor 3 Nggak Kamu Sangka

Salah satu kategori novel yang memiliki tren genre musiman adalah novel dengan target pembaca berusia dewasa muda (young adult). Selama bertahun-tahun, rak young adult di toko buku biasanya dipenuhi oleh kisah-kisah romansa, baik yang melibatkan unsur fantasi atau yang sepenuhnya berlatar dunia nyata. Namun belakangan ini koleksi young adult juga diramaikan dengan kisah-kisah distopia, terutama sejak kesuksesan seri The Hunger Games karya Suzanne Collins. Beberapa seri distopia yang cukup populer di Indonesia adalah Legend (Marie Lu), The Maze Runner (James Dashner), Red Queen (Victoria Aveyard), dan Divergent (Veronica Roth).

Red queen-mare burrow

Sebenarnya tema distopia, yang latarnya dikisahkan terjadi pada masa pasca-apokalips, bukanlah hal yang baru. Beberapa karya klasik yang sudah menyinggung tema ini adalah A Wrinkle in Time (1962) karya Madeleine L’Engle, House of Stairs (1974) karya William Sleator, dan tentu saja yang paling terkenal: The Giver (1993) karya Lois Lowry. Di kalangan pembaca young adult, muncul pula beberapa nama penulis yang menyusul kepopuleran Suzanne Collins seperti Patrick Ness (Chaos Walking), Philip Reeve (Mortal Engines), hingga Scott Westerfield (Uglies).

5 Alasan Kenapa Mortal Engines Termasuk Film Akhir Tahun yang Wajib Kamu Tonton!

Kenapa Genre Distopia Disukai Pembaca Muda?

Tentunya ada banyak alasan. Berikut tiga alasan utama:

  1. Alur cerita novel distopia yang menarik. Deskripsi latar distopianya memang penting, tapi tentu saja tidak sepenting alur cerita. Meskipun latar ceritanya sering menggunakan unsur-unsur fiksi ilmiah, kebanyakan alur fiksi bergenre distopia biasanya lebih mirip dengan kisah dongeng di mana terdapat satu ‘pahlawan’ yang digadang untuk melakukan perubahan revolusioner.
  1. Nyambung dengan poin 1, karakterisasi tokoh ‘pahlawan’ dalam novel distopia beragam. Sebagian memang mengajukan diri untuk memimpin perubahan, sedangkan sebagian yang lain justru terpaksa berada di garis depan karena tuntutan keadaan. Biasanya, tokoh ini harus meninggalkan kehidupan normalnya untuk memasuki ‘kehidupan’ lain yang penuh bahaya, pengkhianatan, bahkan pertumpahan darah. Selain itu, tokoh ini juga biasanya masih berusia muda dengan orang dewasa sebagai pihak penindas yang opresif.
  1. Adanya kontrol yang ketat oleh pemerintah terhadap masyarakat. Kecenderungan situasi tersebut kemungkinan besar dianggap menjadi cerminan kondisi yang dirasakan oleh kebanyakan remaja berusia dewasa muda, baik di rumah maupun di sekolah, dalam lingkup pertemanan sehari-hari maupun dalam kehidupan sosial secara umum.
  1. Deskripsi ceritanya cukup mendalam. Biasanya ini untuk menunjukkan konflik batin dan perkembangan psikologis dalam diri para tokoh. Namun hal ini juga yang membuat para pembaca young adult merasa dekat secara emosional, karena sama-sama memiliki kekhawatiran terkait hubungan keluarga dan persahabatan, masalah cinta dan pengkhianatan, perasaan duka dan kehilangan, dan lain-lain.
Foto: www.undertone.com

Berdasarkan alasan-alasan di atas, novel berlatar distopia memang sekilas terkesan kelam dan penuh dengan kekacauan. Namun sebenarnya fokus dalam novel distopia justru terletak pada ‘simbol harapan’ di tengah kekacauan, yang biasanya direpresentasikan oleh sosok pahlawan yang menjadi tokoh utama dalam cerita. Dengan kata lain, novel distopia sesungguhnya merupakan pengingat bahwa di tengah dunia yang tampak serba kelam dan penuh kekacauan ini, selalu ada sebatang lilin yang dapat dinyalakan sebagai penerang jalan. [Rifda/sumber: Guardian]

Distopia, Genre Paling Hits Saat Ini

15/04/2019