loader image

Kesan-Kesan Menulis Marriagephobia

Ditulis oleh Visa Ranico, Penulis Buku Seri Urban Romance: Marriagephobia

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Cerita Marriagephobia ini awalnya saya publikasikan di platform Wattpad pada 5 Januari 2018, denganĀ  judul awal Dictator Boss. Kemudian, seiring berjalannya waktu dan untuk kesesuaian alur cerita, saya ganti lagi dengan judul Gamophobia, yakni sebuah sindrom rasa takut yang dirasakan seseorang untuk menjalin komitmen ikatan pernikahan. Dan, pada akhirnya, berganti judul lagi menjadi Marriagephobia atas saran editor yang menangani naskah saya.

Inspirasi saya dalam menulis cerita ini adalah ketika saya tidak sengaja menemukan sebuah artikel yang isinya membahas tentang sindrom gamofobia. Ketika saya membaca artikel tersebut, yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya adalah beberapa orang terdekat saya yang masih memilih untuk melajang pada umur yang sudah matang. Apa mereka ini juga merasakan ketakutan seperti apa yang sindrom ini gambarkan? Atas rasa penasaran, saya semakin tertarik untuk mengulasnya.

Baca juga: Di Balik Penerbitan Once, Hope, Begins

Berbagai artikel tentang sindrom ini terus saya cari tahu dan saya cermati. Beberapa pengalaman orang terdekat saya yang saya duga mengidap sindrom ini pun juga saya pancing untuk bercerita, walaupun informasi yang saya dapatkan sangat sedikit. Namun, hal tersebut mampu saya kaitkan dengan beberapa isi artikel yang sempat saya kumpulkan.

Dan, ternyata, ketika saya menulis cerita ini dan memublikasikannya di platform Wattpad, banyak sekali yang mengaku mengalami hal yang sama seperti tokoh utama cerita ini. Khususnya wanita. Padahal, yang biasanya diketahui mengidap fobia terhadap komitmen ini sebagian besar adalah laki-laki.

Selain rasa antusias pembaca karena merasakan hal yang sama seperti sang tokoh utama wanita, bumbu-bumbu percintaan yang saya tambahkan dengan menghadirkan sosok Danendra, si bos tampan yang sifatnya angkuh dan tidak gampang ditebak, ternyata semakin membuat pembaca Wattpad memberikan komentar positif akan cerita yang saya ciptakan ini.

Baca juga: Seri Klasik untuk Pecinta yang Antik-Antik

Momen interaksi sederhana antara Danendra dan Faranisa (nama tokoh utama) ternyata mampu membuat cerita ini lebih segar dan tidak membosankan. Momen PDKT yang awkward, serta sikap bertolak belakang di antara keduanya merupakan bagian favorit pembaca saya sejauh ini Ā sehingga membuat saya semakin bersemangat dalam memublikasikan bab demi bab.

Saat menulis, tentu saja ada kesulitan yang saya alami, semisal istilah-istilah kantor dan mekanisme pekerjaan yang digeluti tokoh utama. Karena ketika menulis cerita ini saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sehinggga kurang paham akan istilah kantor dan akuntansi. Istilah-istilah tersebut akhirnya saya cari satu per satu lewat Google, kadang juga membaca cerita yang berlatar sama; sebagian lagi saya dapatkan ketika pelajaran akuntansi semasa SMA.

Hal-hal sederhana semacam itulah yang saya aplikasikan dalam penulisan kisah Danendra dan Faranisa. Dan hasilnya lumayan membuat orang yang membacanya merasa paham dan nyaman.

Baca juga: Classic Romance yang Tetap Dicintai

Ada juga yang pernah mengatakan kepada saya bahwa saya salah menulis genre cerita. Seharusnya, anak seusia saya menulis bacaan yang sesuai usia saja, seperti genre Teen Fiction. Memang, kebanyakan pembaca cerita ini adalah wanita dewasa yang berumur 25 tahun ke atas. Hal tersebut sempat membuat saya minder dan ragu untuk melanjutkan, tetapi ketika banyak respons yang menyuruh saya untuk melanjutkan cerita, saya pilih untuk meneruskannya saja hingga selesai dan mengabaikan permasalahan genre tersebut.

Semoga isi dari novel Marriagephobia ini mampu mengubah pola pikir kalian yang telah membacanya, terutama untuk para wanita dan pria yang sempat merasakan ketakutan menjalin komitmen. Ketakutan akan risiko yang belum tentu terjadi hanya akan membuat kalian stuck dan tidak bisa melangkah maju. Meski mencoba tidak selalu berakhir bagus, tetapi juga tidak selalu berakhir buruk. Yang penting adalah keinginan untuk mau berubah.