Nourans, pernah enggak, sih, kamu berniat membaca buku, tetapi baru beberapa halaman sudah mulai mengantuk? Anehnya, setelah menutup buku kemudian membuka media sosial, rasa kantuk itu tiba-tiba hilang. Bahkan, tanpa sadar kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menonton video pendek, membaca komentar, atau berpindah dari satu konten ke konten lainnya.
Kalau pernah mengalami hal serupa, kamu tidak sendirian. Di tengah kehidupan yang makin dekat dengan layar, perhatian kita memang lebih mudah teralihkan. Ponsel selalu berada dalam genggaman, notifikasi terus berdatangan, dan berbagai konten dirancang untuk membuat kita terus melihat satu hal setelah hal lainnya.
Sementara itu, membaca buku membutuhkan sesuatu yang berbeda, yaitu waktu, perhatian, dan kesediaan untuk bertahan sedikit lebih lama. Lalu, kenapa membaca terasa lebih sulit dibandingkan menonton?
Membaca Membutuhkan Fokus yang Lebih Aktif
Saat menonton video, kita cukup duduk dan mengikuti gambar, suara, serta alur yang sudah disajikan. Sementara ketika membaca, otak perlu bekerja lebih aktif untuk memahami kata-kata, membangun gambaran, dan mengikuti informasi yang ada di halaman.
Itulah mengapa, membaca terkadang terasa lebih melelahkan, terutama ketika kita sudah terbiasa mengonsumsi konten yang cepat dan singkat. Bukan berarti kemampuan membaca kita tiba-tiba menghilang. Bisa jadi, perhatian kita hanya sudah terbiasa berpindah dengan cepat.
Distraksi Ada di Mana-Mana
Coba perhatikan kebiasaan kita saat membaca. Baru beberapa halaman, kita mungkin sudah tergoda untuk mengambil ponsel. Entah karena ada notifikasi yang masuk, penasaran dengan pesan baru, atau sekadar ingin membuka media sosial sebentar. Namun, “sebentar” sering kali berubah menjadi waktu yang cukup lama.
Noura juga pernah membahas bahwa media sosial, televisi, hingga aktivitas lain dapat menjadi gangguan ketika seseorang sedang berusaha menyelesaikan buku. Karena itu, menjauhkan ponsel atau mencari tempat yang lebih tenang dapat membantu meningkatkan fokus saat membaca.
Baca juga: Lima Alasan Membaca Buku Bisa Menjadi Self-care Sederhana
Membaca Tidak Harus Langsung Banyak Halaman
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menetapkan target membaca terlalu tinggi. Baru mulai membaca, kita sudah ingin menyelesaikan puluhan halaman dalam satu waktu. Ketika target tersebut tidak tercapai, akhirnya muncul perasaan gagal dan membaca justru terasa seperti tugas.
Padahal kamu tidak harus langsung membaca satu bab penuh. Cobalah mulai dari 10–15 menit setiap hari. Kalau sudah terbiasa, durasinya bisa ditambah secara perlahan. Yang paling penting bukan seberapa cepat kamu menyelesaikan sebuah buku, melainkan bagaimana kamu membangun kebiasaan untuk kembali membacanya.
Ketika Buku yang Dipilih Kurang Sesuai
Pernah membeli buku karena sedang populer, tetapi setelah beberapa halaman justru merasa tidak tertarik? Mungkin masalahnya bukan kamu yang tidak suka membaca. Bisa jadi, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat.
Memilih bacaan yang sesuai dengan minat dapat membuat pengalaman membaca terasa lebih menyenangkan. Bahkan, membaca buku yang sesuai dengan suasana hati bisa menjadi cara sederhana untuk mengembalikan kesenangan dalam membaca.
Pilihlah buku yang memang membuatmu penasaran dan mulailah dari beberapa halaman. Siapa tahu, dari beberapa halaman yang awalnya terasa berat, kamu justru kembali menemukan alasan kenapa membaca pernah menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan.
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa sulit fokus membaca, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu sudah tidak suka membaca. Mungkin kamu hanya perlu memberi kesempatan lagi kepada dirimu untuk benar-benar hadir di dalam sebuah bacaan.
Jadi, buku apa yang ingin kamu buka kembali hari ini?
Baca juga: Jatuh Cinta kepada-Nya: Saat Patah Hati Membawamu Pulang