Seorang Gadis Kecil, Buku, dan Menulis: Kisah di Balik Hello Goodbye

Lima belas tahun lalu, ada seorang anak perempuan, selalu takjub setiap pergi ke toko buku, menghabiskan banyak waktu di setiap rak yang tersedia, berusaha kenyang hanya mampu membaca bagian belakang bukunya karena uang jajannya belum cukup untuk membeli buku-buku itu, dia harus menabung sedikit lebih lama untuk membeli buku yang dia inginkan.

Ibunya bilang, “Kamu harus berusaha saat kamu mau sesuatu, bukan dengan cara hanya meminta”. Dan dia pun terlalu takut meminta uang jajan lebih. Dia menyisihkan uang jajannya setiap hari, terkadang berjualan pernak-pernik, gambar, atau kue ibunya kepada teman-teman di sekolahnya untuk mengisi celengan tabungnya.

Saat sudah terkumpul uang yang cukup, dibelinya buku pertama dengan uang hasil menabung. Takjub akan setiap tulisan yang tercetak di sana. Membuatnya berusaha menabung lagi supaya bisa membeli buku kedua, ketiga hingga buku-buku memenuhi kamarnya, dari majalah, komik, novel, buku dongeng, semua tersimpan rapi di rak buku kamarnya.

Buku-buku itu sukses menjadi temannya di rumah, di meja makan, di dalam kendaraan bahkan sampai di dalam kelas saat dia bosan.

Tenggelam dalam setiap cerita yang dibagikan para penulisnya.

Lalu tercetuslah sebuah angan dari pikiran kecilnya, “Aku ingin membuat buku juga…”

Lima belas tahun kemudian, dia mendapat kesempatan, mewujudkan ucapannya.

***

Menceritakan Hello Goodbye, buku pertama yang saya terbitkan secara terbatas pada tahun 2017, memang tidak ada selesainya. Ini salah satu milestone yang paling saya senangi, dari mulai proses pembuatan hingga sampai di tangan pembaca.

Sebentar lagi buku itu akan mengkristal menjadi bentuk baru yang lebih baik, ini dia….

Hello Goodbye pada awalnya tidak pernah terpikirkan untuk saya tawarkan ke penerbit. Sama sekali. Saya cukup puas dengan self-publish yang saya lakukan, karena memang bukan itu tujuan awal saya membuat Hello Goodbye. Saya cuma ingin berbagi. Hingga pada akhir tahun lalu, editor dari Noura Publishing menghubungi saya melalui email, mengajak saya menulis ulang Hello Goodbye dengan editorial yang lebih baik dan wajah yang lebih bagus.

Awalnya saya sedikit pesimis. Jujur saja, siapa yang mau membeli buku saya? Sebelumnya saya hanya menjual Hello Goodbye di instagram, pembelinya hanya followers saya, dan email yang mereka kirimkan satu persatu membuat saya mengetahui siapa saja orang yang berusaha loyal pada karya buatan saya. Dari teman hingga orang yang tidak saya kenal, menjadi saksi karya pertama saya. Karya yang dulunya hanya berwarna abu-abu sekarang sudah berwarna, tulisan yang berantakan dan tidak cukup baik untuk dibaca diperbaiki.

Dan sampai tahun lalu, tidak banyak orang yang tahu bahwa saya menulis fiksi. Mereka mungkin hanya pernah melihat tulisan saya di blog atau tumblr. Pun saya tidak pernah berani menerbitkan tulisan saya di mana pun. Oh, tapi saya punya cerita bersambung di wattpad sekarang, judulnya Sunny Days! Di situ saya berlatih membuat cerita yang kontinu. Kamu bisa coba mencarinya di wattpad!

Kembali ke pembahasan utama.

Isi Hello Goodbye yang baru, kurang lebih sama dengan versi terbatas yang pernah terbit. Namun… saya menambah cerita baru dan menggambar ulang semua isi bukunya, full colour. Di buku sebelumnya gambar saya masih alakadarnya, garisnya terlihat jelas dikejar deadline. Untuk sheet blade, pembatas di antara sampul dan halaman buku pun saya gambar sendiri.

Ada satu bab tambahan yang cukup istimewa bagi saya, dan pembuatan bab tambahan ini sangat saya nikmati prosesnya, bab itu bertajuk ‘Heliosentris’.

Heliosentris saya buat saat saya, duh malu…

jatuh cinta lagi.

Bentuk kekaguman saya terhadap seseorang yang saya anggap bagai matahari, tercetak rapi dalam halaman-halaman Hello Goodbye yang baru.

Meski sebenarnya kisahnya tidak akan pernah berlanjut :), tapi saya berhasil mengabadikannya untuk menjadi kisah yang akan orang baca kelak. Siapa tahu ada yang kisahnya sama, kan?

Sampul Hello Goodbye masih dibuat oleh orang yang sama, Bilal, yang juga membuat gambar untuk sampul Hello Goodbye yang pertama. Gambar itu saya abadikan menjadi partisi bab di buku Hello Goodbye yang baru.

Buku ini menjadi salah satu hal paling istimewa yang pernah saya kerjakan. Setiap halamannya mengingatkan saya akan sapaan yang pernah hadir dan kalimat-kalimat menyakitkan saat berpisah. Tapi selain itu ada banyak dukungan yang tersirat dari orang sekitar yang beberapa nama mereka saya buat menjadi nama-nama karakter di sini.

Buku ini bukan cuma tentang saya, namun tentang semua hal di sekitar saya. Lingkungan, teman, hubungan, mimpi, pengalaman….

Buku ini mengajarkan saya bahwa selalu ada duka dalam luka, selalu ada luka yang berbekas, namun pernah ada senyum yang tersirat.
Semoga kamu berkenan mengadopsinya, membaca kisah yang saya bagikan, dan menjaganya 🙂

Saya Ditta Amelia Saraswati, terima kasih sudah membaca cerita ini. []

Sumber: www.helloditta.com; Foto-foto: Ditta

 

5 Hal Penting Sebelum Nonton Film MORTAL ENGINES

25/10/2018

Para Darah Baru Dalam Seri Red Queen

25/10/2018

Leave a Reply