loader image

Karena Tuhan Memang Begitu

Ditulis oleh Faisal Javier Anwar, Penulis Lepas

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email

Hampir 40 tahun  yang lalu, hidup penulis Maman Suherman bagaikan roller coaster hanya dalam hitungan bulan. Saat itu ayahnya—perwira TNI Angkatan Darat—baru berusia 30 tahun tetapi sudah berpangkat mayor dan mengepalai Biro Pembekalan TNI Angkatan Darat. “Itu bayangan kekayaan sudah di depan mata. Kami semua pindah dari Makassar ke Jakarta,” ujarnya dalam sesi Webinar “Tuhan Kadang Begitu” pada bulan September lalu.

Namun baru beberapa bulan bekerja di Jakarta, ayahnya tiba-tiba jatuh sakit dan kemudian wafat. Ia kecewa, bahkan menurutnya ia memaki dan lari dari Tuhan karena musibah tersebut. “Di situ saya betul-betul  marah kepada Tuhan karena bapak saya masih sangat muda. Saya berpikir saat itu bapak saya akan jadi jendral (karena) umur 30 (tahun) sudah jadi mayor, misalnya,” ujar Maman, yang menulis buku Hidup Kadang Begitu bersama dengan Nadirsyah Hosen.

Ibunya, yang hanya berselisih umur sekitar 15 tahun dengan dirinya, kemudian memutuskan untuk segera menafkahi kelima anaknya dengan melatih tenis. Belum genap 40 hari kematian ayahnya, sang ibu telah keluar rumah untuk bekerja, padahal itu adalah hal tabu di kampung halaman ayahnya. Sang ibu yang memakai rok tenis pun mendapat hinaan dari tetangga. Luka dalam hati Maman pun seakan ditaburi garam oleh momen itu. “Sepanjang jalan itu Ibu mendengar teriakan ‘Janda genit lewat, janda genit lewat.’ Makian itu sampai ke kuping saya,” tuturnya.

Meskipun demikian, kini ia merasa beruntung sempat mengalami momen itu. Baginya, cobaan itu harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda. “Kadang-kadang bukan salah Tuhan, tapi kita marah pada Dia. Sayanya yang tidak coba melihat ini adalah kasih sayang Tuhan dan terbukti kami semua bisa jadi mandiri,” ujar Maman

“Dulunya ada Bapak, kami menjadi anak-anak yang sombong.Bapak saya tentara, bapak saya hebat, masih muda pangkatnya sudah seperti itu, saya merasa di atas angin betul. Tapi ketiadaan Bapak membuat saya kembali betul-betul terpuruk di bawah dan bagaimana kemudian melihat perjuangan Ibu, itu ternyata cara Tuhan untuk mengajar kami bisa mandiri,” tambahnya.

Kenapa Tuhan Kadang Begitu? 

Pengalaman Maman di atas jadi satu dari sekian banyak abstraknya hubungan spiritual manusia dengan Tuhannya. Menurut penulis buku Tuhan Ada di Hatimu Husein Ja’far Al Hadar, keberadaan Tuhan yang paling dirasakan adalah di hati seorang yang beriman. Kunci dari hati orang yang beriman ialah laku ikhlas dalam menjalani perintah-Nya.

“Anda enggak akan bisa mengukur kalau tanpa hati, Misalnya gini, Tuhan nyuruh kita berangkat haji, tapi kalau berangkat haji enggak ikhlas, Tuhan enggak hadir di hati kita,” ujar pria yang akrab dikenal sebagai Habib Husein itu.

Oleh karenanya, Tuhan bisa hadir di mana saja. Ia tidak hanya hadir di tempat-tempat suci, tapi ia juga bisa hadir di tempat-tempat yang dikategorikan kotor jika ada hamba-Nya yang ingin mengangkat derajat manusia di tempat tersebut.

“Jadi Tuhan kadang hadir di Kabah, tapi juga kadang hadir di tempat pelacuran,” tambahnya.

Husein melanjutkan, jika Tuhan tidak pernah absen kehadirannya di setiap hati manusia, termasuk orang-orang yang tidak beriman. Hanya saja menurut Husein, kemaksiatan ataupun pengingkaran yang dilakukan orang-orang seperti itu yang membuat cahaya dari Tuhan tertutup.

“Karena menurut saya Tuhan paling sejati hadir dalam hati orang yang beriman, bahkan hadir di hatinya orang tidak beriman pun nyatanya Dia hadir, hanya saja dia ditutupi oleh dirinya sendiri, makanya dia disebut kafir,” jelas Husein.

Kata kafir menurut Husein berasal dari kata kufar yang artinya menutup, dan orang-orang yang tidak beriman diibaratkan oleh  Husein seperti buku yang tertutup kovernya.

“Sehingga yang bisa kita lakukan, misalnya mengklaim dirinya ateis atau agnostik, yang bisa dilakukan sebenarnya bukan menghilangkan Tuhan dalam dirinya, melainkan menutup cahaya Tuhan yang ada dalam dirinya, khususnya dalam hatinya, sehingga dia merasa bisa berdiri sendiri tanpa kehadiran Tuhan di dalam hatinya,” jelasnya.

Orang-orang seperti itu, dalam analogi Husein, jika suatu saat ia terhempas ombak di tengah laut, maka ia akan teringat akan kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, tidak hanya hadir di hati manusia, Tuhan selalu hadir di kehidupan mereka. Dia tidak akan pernah hilang, bahkan dari kehidupan mereka yang tidak percaya kehadiran-Nya sekalipun.

“Saya kemarin ditanya oleh seorang pemuda tersesat, ‘Habib, jodoh kan di tangan Tuhan, berarti orang ateis enggak ada jodohnya?’ Nah itulah kedahsyatan Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” cerita Husein.

“(Surat) Ar-Rahman, Dia memberikan kasih-Nya bahkan kepada hamba-Nya yang tidak menyembah dia, sehingga orang ateis tidak semuanya jomblo,” lanjutnya.

Mereka yang tidak percaya Tuhan dan memilih untuk tetap melajang menurut Husein pada dasarnya bukan karena Tuhan enggan memberinya rezeki berupa jodoh, tapi hanya karena keinginan orang-orang itu yang tidak ingin menikah. Tuhan tetap berkenan memberi rezeki pada mereka yang tidak menyembah-Nya, dalam bentuk harta, makanan, minuman, dan lain sebagainya sebagai pertanda kehadiran-Nya dalam kehidupan setiap manusia.

Sehingga upaya maksimal yang bisa dilakukan oleh manusia yang ingkar akan keberadaan-Nya hanya dengan menutup cahaya Tuhan dalam hatinya, seperti yang sudah dijelaskan Husein sebelumnya. Menutup cahaya Tuhan adalah inisiatif manusia yang ingkar itu sendiri, bukan kehendak Tuhan.

“Karena Tuhan itu pinginnya selalu hadir dalam segala kehidupan kita secara nyata, karena itu adalah komitmen Allah, bahwa Allah telah berkomitmen akan hadir dalam tinta, dalam hati dan kehidupan seluruh umat manusia, tapi kemudian manusia yang menutupinya,” ujar Husein.

Husein mengingatkan agar orang-orang tidak melihat nikmat dan cobaan secara hitam dan putih. Apa yang tampak kasat mata belum tentu sama dengan yang dirasakan.

“Jadi, nikmat aja belum tentu itu kebaikan dari Tuhan. Begitu pula cobaan belum tentu itu semua keburukan seperti dikisahkan Pak Haidar (Bagir). Justru cobaan itu kasih sayang Tuhan untuk menyelamatkan kita dari hal-hal yang lebih buruk. Padahal seolah kasat mata, orang yang hartanya banyak seolah-olah dia dikasihi oleh Tuhan. Tapi kalau hartanya sedikit kayaknya Tuhan enggak hadir di rumahnya, ‘Oh karena dia miskin’. Padahal enggak,” jelasnya.

“Karena ada orang yang bertanya kepada saya, ‘Bib, kalau keluarga yang broken home berarti enggak dikasihi? Lho, Anda jangan salah, Nabi Nuh juga keluarganya broken home. Anak istrinya membangkang darinya. Tapi itu nabi, lho. Anda berani emangnya bilang begitu?” lanjutnya.

Melihat dengan Hati

Bagi Husein, manusia perlu menyambungkan segala inderanya, terutama mata, dengan hati. Dengan melihat menggunakan hati, maka tampak segala hal yang dinilai berharga atau tidak berharga menjadi tidak ada bedanya. Husein pun mencontohkan kisah seorang sahabat Nabi Muhammad.

“Salah seorang sahabat Nabi pernah bertemu Nabi pagi hari. Namanya Harits. Kata Harits, ‘Saya sedang beriman pada Allah. Karena iman itu yazid wa yanqus, saya sedang tinggi imannya.’ Kemudian kata Nabi, ‘Apa pertandanya iman kamu sedang tinggi?’ Kemudian kata Harits, ‘Hari ini, Nabi, saya lihat batu dan permata sama,” ceritanya.

“Di mata orang yang terkoneksi dengan hatinya, batu dan permata sama, enggak ada bedanya. Yang membedakannya itu mata kapitalisme, mata pasar, mata ekonomi, bukan mata Allah,” lanjutnya.

Oleh karena itu menurut Husein, upaya mengejar benda-benda berharga di dunia sesungguhnya merupakan perbuatan sia-sia karena semua benda sama nilainya di hadapan Allah.

“Sehingga orang yang rela melakukan kejahatan atas nama permata itu orang yang bodoh sekali. Padahal di mata Allah enggak ada bedanya sama sekali nilainya dengan batu. Coba kamu bayangkan permata itu batu, apakah kamu mau melakukannya?” ujarnya. (fja)

 

Video: