Apakah kamu termasuk salah satu pembaca yang dibuat takjub oleh kemegahan Hotel Magnifique atau dibuat penasaran oleh teka-teki dalam The Otherwhere Post? Melalui bincang-bincang eksklusif dalam sesi live “Jelajah Dunia Magis Bersama Emily J. Taylor” bersama Noura Publishing, Emily membongkar bagaimana latar belakangnya di dunia visual justru menjadi “senjata rahasia” terbesar dalam melahirkan novel-novel laris!
Baca juga: The Otherwhere Post: Bagaimana Gadis 18 Tahun Terjebak Antara Masa Lalu dan Sihir Masa Depan
Kekuatan Visual Seorang Mantan Art Director
Sebelum mendedikasikan seluruh waktunya untuk menulis buku, Emily menghabiskan bertahun-tahun bekerja di industri kreatif periklanan. Sebagai mantan art director, tugas utamanya adalah mengonsep visual dan menyampaikan ide atau pitching secara menarik. Ketika memutuskan untuk mulai serius menulis, kemampuan ini tidak dia tinggalkan begitu saja.
Transisi karier Emily melahirkan metode penulisan yang sangat unik dan berbeda dari penulis kebanyakan. Pada saat banyak penulis memulai dengan coretan teks atau outline yang kaku, Emily memperlakukan draf novelnya layaknya sebuah proyek kampanye iklan kreatif. Di ruang kerjanya, terdapat sebuah dinding pin board raksasa. Tiap kali mendapat ide, dia akan menempelkan sebuah memo tempel berisi pertanyaan pemantik di bagian paling atas.
Setelah itu, Emily akan mulai menyusun mood board yang berisi potongan gambar, kutipan, hingga potongan riset sejarah. Tak hanya itu, Emily juga menggunakan lilin aromaterapi khusus yang disesuaikan dengan atmosfer buku yang dia tulis demi memancing imajinasi visualnya, seperti aroma fresh laundry saat menulis Hotel Magnifique (karena karakter utamanya bekerja sebagai pelayan hotel) dan aroma asap lilin yang pekat untuk memperkuat kesan dark academia dalam The Otherwhere Post.
Baca juga: Hotel Magnifique: Di Balik Keajaiban, Ada Kontrak yang Tak Bisa Dipatahkan
Menghadapi Realita Industri Penerbitan
Meskipun latar belakang kreatifnya sangat membantu dalam menciptakan dunia yang megah dan visual, Emily mengakui bahwa dia harus banyak belajar saat terjun ke industri penerbitan buku. Bagi Emily, menulis adalah sebuah maraton. Berkat kedisiplinannya yang terlatih oleh deadline ketat di dunia periklanan, dia berhasil beradaptasi dengan proses revisi naskah yang melelahkan dan panjang sebelum bukunya siap naik cetak.
Dari ruang kreatif periklanan hingga menjadi penulis fantasi papan atas dunia, Emily J. Taylor tahu persis bagaimana cara mengikat pembaca lewat atmosfer cerita yang tidak hanya magis, tetapi juga estetis.
Sedang mencari bacaan seru untuk mengisi waktu luang atau menambah daftar to be read-mu? Dua karya standalone dari Emily ini sudah menunggumu!