Parents, pernahkah si Kecil mengambil satu buku dari rak, membawanya kepada Parents, lalu meminta, “Bacain ini, dong!”? Kelihatannya sederhana, tetapi membaca buku bersama anak sebenarnya bisa menjadi momen yang kaya akan percakapan, bahasa, imajinasi, dan kedekatan.

Menariknya, membacakan buku tidak harus dilakukan dengan cara Parents membaca seluruh teks sementara si Kecil hanya mendengarkan. Anak dapat dilibatkan sejak memilih buku, mengamati sampul, hingga mendiskusikan ilustrasi di dalamnya.

Penelitian ilmiah juga mendukung hal ini. Dowdall, Melendez-Torres, Murray, Gardner, Hartford, dan Cooper (2020) dalam meta-analisis di jurnal Child Development meninjau 19 studi eksperimental dengan total 2.594 anak usia 1–6 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa shared picture book reading berdampak positif pada kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif anak. Studi ini juga menemukan peningkatan keterampilan orang dewasa dalam melakukan kegiatan membaca bersama anak.

Nah, bagaimana membuat kegiatan membaca bersama terasa lebih hidup? Parents bisa mencoba tiga tips membaca buku ala penulis buku anak Noor H. Dee berikut ini.

1. Biarkan Si Kecil Memilih Buku yang Ingin Dibaca

Sebelum mulai membaca, Parents dapat mengajak si Kecil mendatangi rak buku dan memilih sendiri buku yang ingin ia baca.

Mungkin Parents sudah menyiapkan sebuah buku, tetapi ternyata anak justru tertarik dengan buku lain. Tidak apa-apa. Mengikuti pilihan anak dapat menjadi salah satu cara membuat kegiatan membaca terasa sebagai aktivitas bersama, bukan kewajiban.

Bahkan, jangan heran jika si Kecil memilih buku yang sama berkali-kali. Buku yang sudah familier tetap dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi. Sebuah studi mengenai shared storybook reading menemukan bahwa anak memberikan lebih banyak percakapan di luar teks ketika membaca buku yang sudah dikenalnya dibandingkan buku yang belum familier.

Parents juga bisa menyediakan beberapa jenis buku untuk dipilih: buku cerita bergambar, pop-up, fabel, buku pengetahuan, atau buku aktivitas. Dengan begitu, si Kecil dapat mulai mengenali bacaan seperti apa yang menarik perhatiannya.

2. Jangan Langsung Buka Halaman Pertama, Yuk, Jelajahi Sampulnya!

Setelah buku terpilih, ada satu tahap yang terkadang terlewat: menikmati sampul buku.

Sebelum mulai membacakan cerita, Parents bisa menyebutkan judul, nama penulis, dan ilustrator. Setelah itu, amati bersama apa saja yang terlihat pada sampul.

Misalnya, ketika membaca Pangeran Katak yang Bau Ketek karya Noor H. Dee dan Charyna Dezanoega, Parents dapat mengajak si Kecil memperhatikan karakter pada sampul terlebih dahulu.

“Kira-kira siapa tokoh yang duduk di kursi itu?”

“Ekspresi wajahnya bagaimana?”

“Menurut kamu, kenapa judulnya Pangeran Katak yang Bau Ketek?”

Tidak masalah jika tebakan anak berbeda dengan isi cerita. Justru bagian serunya ada di sana! Si Kecil memperoleh kesempatan untuk mengamati gambar, membuat dugaan, lalu membandingkannya dengan cerita yang ia dengarkan.

Buku bergambar memang menawarkan lebih dari sekadar teks. Penelitian terbaru tentang kegiatan membaca bersama anak usia 6 bulan hingga 3 tahun menemukan bahwa berbagai jenis buku menyediakan kesempatan bagi anak untuk melakukan komunikasi verbal maupun nonverbal. Buku cerita bergambar naratif, misalnya, berkaitan dengan durasi membaca yang lebih panjang dan proporsi kombinasi kata yang lebih besar dibandingkan beberapa jenis buku lainnya.

Jadi, gambar pada sampul maupun halaman buku tidak harus sekadar dilihat sepintas. Parents bisa menjadikannya bahan percakapan.

Baca juga: Mengenal Palingdrom: Belajar Kata Unik lewat Pangeran Katak yang Bau Ketek

3. Gunakan Ekspresi dan Intonasi, Lalu Ajak Anak Berdiskusi

Cerita tentang raja yang marah tentu akan terasa berbeda jika dibacakan dengan nada datar. Begitu pula saat tokoh sedang takut, terkejut, gembira, atau berbisik.

Karena itu, tips berikutnya adalah membacakan buku dengan ekspresi dan intonasi yang sesuai dengan cerita.

Parents tidak harus menjadi pendongeng profesional. Cukup bermain dengan volume suara, tempo, ekspresi wajah, atau membedakan suara beberapa karakter. Tujuannya bukan tampil sempurna, melainkan membuat pengalaman membaca terasa menyenangkan.

Sesekali, Parents juga bisa berhenti untuk mendiskusikan gambar yang ada di halaman buku.

“Eh, coba lihat ini. Ada apa di belakang tokohnya?”

“Menurut kamu, dia sedang merasa apa?”

“Setelah ini bakal terjadi apa, ya?”

Percakapan seperti itu membuat anak tidak hanya menjadi pendengar. Ia memperoleh kesempatan untuk ikut berkomunikasi dan menyampaikan gagasan.

Studi mengenai kegiatan membaca buku bersama juga menunjukkan bahwa pertanyaan orang tua berkaitan dengan partisipasi verbal anak selama membaca. Penelitian lain menemukan bahwa buku tanpa teks bahkan dapat memunculkan lebih banyak rangsangan (pertanyaan atau ajakan berbicara), respons orang tua, dan kontribusi anak dibandingkan buku dengan teks, menunjukkan bahwa ilustrasi pun dapat menjadi titik awal interaksi yang kaya.

Membaca Bersama Anak Tidak Perlu Terasa seperti Ujian

Ada satu hal yang perlu Parents ingat: berdiskusi bukan berarti menanyai anak terus-menerus.

Bayangkan jika setiap halaman selalu diikuti pertanyaan, “Ini warna apa?”, “Itu siapa?”, “Tadi ceritanya apa?”, “Pesannya apa?” Lama-lama sesi membaca bisa terasa seperti ujian.

Biarkan percakapan mengalir secara natural.

Jika si Kecil sedang antusias mendengarkan, lanjutkan ceritanya. Jika ia tiba-tiba menunjuk sebuah gambar, ikuti rasa penasarannya. Kalau ia ingin bercerita tentang pengalaman yang menurutnya mirip dengan cerita dalam buku, dengarkan dahulu.

Kegiatan membaca bersama anak bukan perlombaan untuk menghabiskan buku secepat mungkin. Bahkan, tidak masalah jika Parents dan si Kecil hanya membaca beberapa halaman tetapi menghasilkan banyak obrolan menarik.

Hal tersebut sejalan dengan temuan penelitian mengenai shared reading. Sebuah tinjauan sistematis terbaru menyoroti pentingnya menciptakan pengalaman membaca yang positif dan menyenangkan sebagai salah satu faktor yang mendukung praktik membaca bersama orang tua dan anak.

Dialog Reading: Cara Membacakan Buku yang bantu optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Dari Buku, Percakapan Bisa Pergi ke Mana-Mana

Salah satu keistimewaan membaca bersama adalah sebuah halaman dapat membawa Parents dan anak ke percakapan yang sama sekali baru.

Melihat gambar hujan mungkin membuat si Kecil teringat ketika kehujanan. Tokoh yang takut bisa membuka percakapan tentang hal-hal yang membuat anak merasa takut. Cerita mengenai persahabatan dapat memancingnya bercerita tentang teman di sekolah.

Inilah mengapa membaca bersama bukan sekadar kegiatan menyelesaikan teks. Buku dapat menjadi titik temu antara cerita, pengalaman anak, dan percakapan bersama Parents.

Bukti ilmiah mengenai dampak teknik membaca tertentu memang tidak selalu seragam. Sebuah uji terkontrol terhadap 150 anak, misalnya, menemukan bahwa pelatihan membaca interaktif berhasil mengubah cara orang dewasa membaca, tetapi tidak menghasilkan peningkatan kemampuan bahasa yang melebihi kelompok kontrol membaca aktif dalam periode penelitian tersebut.

Artinya, Parents tidak perlu membebani diri dengan target bahwa setiap sesi membaca harus langsung menghasilkan kemampuan tertentu. Yang terpenting adalah membangun pengalaman membaca yang konsisten, interaktif, dan menyenangkan.

Parents, ternyata membuat sesi membaca lebih bermakna tidak harus rumit. Mulailah dengan membiarkan si Kecil memilih buku, kemudian jelajahi sampul bersama, dan saat membaca, gunakan ekspresi serta intonasi sambil sesekali mengajak anak berdiskusi.

Tidak harus sempurna dan tidak harus selalu selesai satu buku. Bisa jadi, momen ketika si Kecil tertawa mendengar suara karakter buatan Parents atau sibuk menceritakan sesuatu dari sebuah ilustrasi justru menjadi bagian paling berkesan dari kegiatan membaca hari itu.

Yuk, Parents, temani si Kecil membaca bersama! Temukan Pangeran Katak yang Bau Ketek serta beragam buku anak karya Noor H. Dee dan buku berkualitas lainnya terbitan Noura Publishing di nourabooks.co.id. Jadikan buku sebagai teman untuk menciptakan momen membaca yang seru, hangat, dan penuh makna bersama si Kecil.

Beli bukunya di sini