Ketika mendengar kata Stoikisme, pikiran kita kerap melayang ke nama-nama besar seperti Marcus Aurelius, Seneca, atau Epictetus. Lahir di era Yunani-Romawi, ajaran ini hadir untuk membantu kita membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang harus dilepaskan. Bukan agar kita menjadi manusia yang kebas emosi, melainkan agar kita bisa merespons hidup secara lebih bijak. Namun, apa yang terjadi jika kompas kebijaksanaan dari Barat ini dipertemukan dengan tradisi pemikiran Timur yang tak kalah mendalam?
Di sinilah Think Like a Stoic karya Ken Mogi menawarkan sesuatu yang menarik. Sebagai seorang neurosaintis sekaligus penulis yang mengangkat filosofi dan budaya Jepang, Ken Mogi mempertemukan pemikiran Stoikisme dengan berbagai perspektif dari Timur. Hasilnya bukan perbandingan antara dua tradisi filsafat, melainkan sebuah cara baru untuk memahami bagaimana kita menjalani kehidupan.
Think Like a Stoic: Titik Temu antara Stoikisme dan Filosofi Hidup Jepang
Stoikisme dan filosofi hidup masyarakat Jepang memang lahir dari konteks budaya yang berbeda. Dalam Think Like a Stoic, Ken Mogi memperlihatkan bagaimana Stoikisme memiliki resonansi dengan filosofi hidup Jepang. Melalui konsep Gaman, Ikigai, dan Nagomi, kita dapat menemukan titik temu dalam hal ketangguhan menghadapi kehidupan, pencarian makna, serta upaya mencapai ketenangan batin.
Gaman, misalnya, mengajarkan keteguhan dalam menghadapi penderitaan, selaras dengan prinsip Stoik untuk menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sementara itu, Ikigai mengajak kita menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih mendalam, bukan sekadar mengejar kesenangan. Adapun Nagomi memiliki kedekatan dengan gagasan ataraxia, yaitu ketenangan jiwa dan kedamaian dalam menjalani kehidupan. Ketiganya menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada keadaan di luar diri, melainkan pada keselarasan dalam menyikapi hidup dengan bijak dan sadar.
Think Like a Stoic mengulas Stoikisme melalui perspektif Ken Mogi sebagai seorang neurosaintis. Buku ini memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip Stoikisme berkaitan dengan cara kerja otak, khususnya dalam merespons emosi, mengelola pikiran, dan menghadapi hal-hal yang berada di luar kendali kita. Dengan demikian, Stoikisme tidak hanya dipandang sebagai filsafat hidup, tetapi juga sebagai pendekatan yang berhubungan dengan cara otak memproses pengalaman serta membentuk respons kita dalam menjalani kehidupan.
Dalam kehidupan modern, gagasan ini terasa semakin relevan. Kita hidup di tengah perubahan teknologi yang cepat, ketidakpastian masa depan, tuntutan produktivitas, hingga derasnya arus informasi yang tak terbendung. Kita cenderung ingin mengendalikan semuanya, padahal semakin banyak hal justru berada di luar jangkauan kita. Oleh karena itu, memadukan kedua perspektif ini dapat menjadi pijakan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman dengan sikap yang lebih tangguh, sadar, dan optimistis.
Baca juga: The Child in You: Kunci Menerima Diri dan Membangun Hubungan yang Lebih Baik
Merangkai Kebijaksanaan dari Timur dan Barat
Menariknya, Think Like a Stoic tidak mengajak kita untuk memilih antara filsafat Timur atau Barat. Sebaliknya, buku ini menunjukkan bahwa keduanya dapat saling melengkapi. Dari Stoikisme, kita dapat belajar tentang rasionalitas, pengendalian diri, dan keberanian menghadapi kesulitan. Dari kebijaksanaan Timur, kita dapat menemukan perspektif tentang penerimaan, kesadaran, dan hubungan kita dengan perubahan.
Pertemuan kedua perspektif tersebut membuat Stoikisme terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Filsafat tidak lagi sekadar kumpulan gagasan dari masa lalu, tetapi menjadi alat untuk memahami diri sendiri dan menghadapi dunia yang terus berubah.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana membuat hidup selalu berjalan sesuai keinginan kita. Melainkan bagaimana tetap menjalani hidup dengan tenang ketika dunia tidak berjalan seperti yang kita harapkan?
Melalui perpaduan pemikiran Timur dan Barat, Ken Mogi mengajak kita menemukan jawabannya dalam Think Like a Stoic, sebuah perjalanan untuk berpikir lebih jernih, menerima ketidakpastian, dan menjalani hidup dengan lebih bijaksana.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Penulis Hebat, Omar Suleiman Penulis Buku “Meeting Muhammad”!
Temukan cara pandang baru tentang Stoikisme
Beli bukunya di sini
