Ada karya sastra yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula karya yang justru terus hidup di kepala pembacanya setelah buku selesai. Karya-karya Budi Darma termasuk di antaranya.

Sastrawan kelahiran Rembang ini dikenal melalui karya-karyanya yang menghadirkan manusia dengan segala keganjilan, kesepian, prasangka, dan pergulatan batinnya. Tokoh-tokohnya sering kali terasa aneh atau tidak biasa, tetapi di balik keanehan tersebut, ada sisi manusia yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tiga karya Budi Darma, yaitu Olenka, Rafilus, dan Orang-Orang Bloomington, memperlihatkan bagaimana beliau mampu melihat manusia dari sudut yang berbeda. 

Setelah berhasil menjangkau banyak pencinta sastra Indonesia, dua di antara karyanya, Orang-Orang Bloomington dan Olenka, kini telah diterjemahkan dan diterbitkan secara  global oleh Penguin Classics. 

Kalau kamu ingin lebih mengenal karya-karya sastrawan Budi Darma, tiga buku ini bisa menjadi perjalanan yang menarik untuk dimulai.

1. Olenka: Rasa Penasaran yang Berakhir pada Obsesi Tak Berujung

Siapa sebenarnya Olenka?

Pertanyaan tersebut menjadi awal perjalanan Fanton Drummond dalam Olenka. Dirinya bertemu dengan seorang perempuan misterius bernama Olenka secara tidak sengaja di dalam lift Apartemen Tulip Tree. Setelah pertemuan tersebut, Fanton makin tertarik untuk mengetahui kehidupan perempuan itu.

Namun, makin jauh dia mencoba memahami Olenka, makin sulit pula sosok tersebut dipahami.

Fanton seperti sedang menyusuri peta yang tidak memiliki titik akhir. Rasa ingin tahunya justru membawanya makin jauh ke dalam kehidupan Olenka dan pikirannya sendiri.

Melalui Olenka, Budi Darma mengeksplorasi sisi psikologis manusia dengan karakter-karakter yang unik dan penuh pergulatan batin. Cinta, obsesi, rasa ingin tahu, dan kesepian bercampur menjadi cerita yang tidak mudah ditebak.

Buku ini juga menjadi salah satu karya Budi Darma yang paling banyak mendapat pengakuan. Olenka memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 1980 dan Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada 1983.

Baca juga: Mengapa Olenka Makin Relevan untuk Dibaca Hari Ini?

2. Rafilus: Absurditas dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalau kamu mencari karya Budi Darma yang memiliki elemen absurditas, Rafilus bisa menjadi pilihan.

Bagaimana mungkin seseorang mati dua kali?

Itulah salah satu keanehan yang langsung menyambut pembaca dalam kisah Rafilus. Tokoh Rafilus digambarkan memiliki dua kaki dan berjalan seperti manusia biasa, tetapi langkahnya menghasilkan suara seperti derap kendaraan berat.

Berlatarkan Surabaya pada 1980-an, Budi Darma menggunakan tokoh seseorang bernama Tiwar sebagai suara untuk menceritakan kehidupan Rafilus dan berbagai karakter ajaib lainnya. 

Di balik karakter-karakter yang tampak tidak masuk akal, Budi Darma justru sedang membicarakan manusia dan kompleksitas pikirannya.

Rafilus memperlihatkan bagaimana manusia bisa memiliki sisi yang polos sekaligus rumit. Keanehan para tokohnya menjadi semacam cermin untuk melihat berbagai karakter dan perilaku manusia dalam kehidupan nyata.

Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan karakter tidak biasa dan gagasan yang membuat berpikir ulang tentang apa yang disebut normal, Rafilus menawarkan pengalaman membaca yang unik.

3. Orang-Orang Bloomington: Kesepian, Prasangka, dan Sisi Gelap Manusia

Berbeda dari dua karya sebelumnya yang berbentuk novel, Orang-Orang Bloomington merupakan kumpulan tujuh cerita pendek yang membawa pembaca melihat kehidupan manusia dari jarak yang sangat dekat.

Cerita-ceritanya menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga pembaca dapat masuk lebih dalam ke pikiran dan perasaan para tokohnya. Di balik peristiwa yang tampak sederhana, Budi Darma menemukan konflik yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Prasangka, kesepian, kedengkian, rasa ingin tahu, hingga kecenderungan manusia untuk mengurusi kehidupan orang lain menjadi bagian dari cerita.

Salah satu kalimat dalam buku ini bahkan merangkum kegelisahan yang sering muncul dalam hubungan antarmanusia:

“Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain.”

Melalui Orang-Orang Bloomington, Budi Darma memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu perlu menghadapi peristiwa besar untuk mengalami konflik. Tatapan, prasangka, dan hubungan sehari-hari saja bisa membuka sisi manusia yang paling rumit.

Kumpulan cerpen ini berhasil membawa Budi Darma meraih S.E.A. Write Award pada 1984.

Baca juga: Mengapa Kita Sulit untuk Memahami Orang Lain?  Temukan Jawabannya di Rafilus

Budi Darma dan Pikiran Manusia yang Begitu Kompleks

Meski memiliki cerita dan karakter yang berbeda, Olenka, Rafilus, dan Orang-Orang Bloomington memiliki benang merah yang kuat, yaitu ketertarikan dan observasi mendalam Budi Darma terhadap manusia.

Beliau tidak selalu menggambarkan manusia sebagai sosok yang mudah dipahami. Sebaliknya, para tokohnya bisa terasa aneh, menyebalkan, kesepian, obsesif, bahkan absurd. 

Namun, melalui karakter-karakter itulah pembaca diajak melihat lebih dekat pada apa-apa saja yang sebetulnya begitu familier dalam diri manusia.

Jadi, kalau kamu ingin mengenal sastra Indonesia melalui karya yang unik, berunsur  psikologis, dan penuh kejutan, Olenka, Rafilus, dan Orang-Orang Bloomington bisa menjadi tiga buku untuk memulai perjalananmu memasuki dunia Budi Darma.

Beli bukunya di sini