Parents, coba baca kata “katak” dari kiri ke kanan. Setelah itu, coba balik dan baca dari kanan ke kiri. Hasilnya tetap “katak”, bukan? Sekarang lakukan hal yang sama dengan kata “ketek”. Lagi-lagi, kita mendapatkan kata yang sama!
Kata-kata unik seperti “katak” dan “ketek” merupakan contoh palindrom. Menariknya, konsep permainan bahasa ini bisa dikenalkan kepada si Kecil melalui kegiatan membaca yang menyenangkan. Salah satunya lewat buku Pangeran Katak yang Bau Ketek karya Noor H. Dee dan diilustrasikan oleh Choryna Dezavega dari Noura Kids.
Selain menikmati tingkah Pangeran Katak dan ilustrasi ceritanya, Parents dapat memanfaatkan judul buku untuk mengajak anak bermain dengan huruf dan bunyi. Dari sebuah cerita, kegiatan membaca pun bisa berkembang menjadi kesempatan untuk mengenal kata palindrom dan bermain bahasa bersama.
Apa Itu Palindrom?
Secara sederhana, palindrom adalah kata, rangkaian kata, angka, atau susunan karakter yang tetap terbaca sama ketika urutannya dibaca dari depan maupun dari belakang.
Istilah palindrome berasal dari bahasa Yunani, dari kata palin yang berarti “kembali” dan dromos yang berarti “arah” atau “jalan”. Merriam-Webster mendefinisikan palindrom sebagai kata, frasa, kalimat, atau angka yang terbaca sama dari depan maupun belakang. (merriam-webster.com)
Dalam bahasa Indonesia, contoh paling sederhana dapat ditemukan pada kata:
- katak
- ketek
- malam
- radar
- kodok
Ambil kata “katak”. Susunan hurufnya adalah K-A-T-A-K. Ketika urutannya dibalik, kita kembali memperoleh K-A-T-A-K.
Sederhana, tetapi cukup membuat penasaran, bukan?
Bagi orang dewasa, mungkin konsep tersebut terasa seperti permainan kecil. Namun, bagi anak yang sedang akrab-akrabnya dengan huruf dan kata, menemukan pola semacam ini bisa menjadi pengalaman bahasa yang menarik.
Mengenalkan Palindrom lewat Buku Anak
Parents tidak harus membuka sesi belajar khusus untuk mengenalkan konsep bahasa kepada si Kecil. Buku cerita dapat menjadi pintu masuk yang lebih natural.
Coba mulai dari Pangeran Katak yang Bau Ketek. Sebelum membuka halaman pertama, ajak anak mengamati judulnya.
“Coba baca kata ‘katak’.”
“Kalau hurufnya dibaca dari belakang, jadi apa?”
“Sekarang coba kata ‘ketek’. Apakah berubah?”
Dari sini, Parents dapat menjelaskan bahwa kedua kata tersebut termasuk palindrom karena tetap sama ketika dibaca dari depan maupun belakang.
Cara seperti ini membuat aktivitas membaca tidak berhenti pada mengikuti jalan cerita. Anak juga diajak memperhatikan bagaimana sebuah kata dibentuk.
Kegiatan bermain kata sendiri dapat menjadi bagian dari pengembangan kesadaran metalinguistik, yaitu kemampuan untuk memikirkan dan memperhatikan bahasa sebagai suatu sistem. Kajian dalam Reading Research Quarterly menjelaskan bahwa kesadaran metalinguistik mencakup kemampuan untuk memikirkan bahasa secara sadar dan memanipulasi aspek-aspek struktural bahasa. (ila.onlinelibrary.wiley.com)
Jadi, Parents bisa menjadikan penemuan kata unik di dalam buku sebagai kesempatan bermain sekaligus mengamati bahasa.
Baca juga: Dialog Reading: Cara Membacakan Buku yang bantu optimalkan Tumbuh Kembang Anak
Bermain Kata Palindrom Bersama si Kecil
Setelah si Kecil memahami konsep dasarnya, jangan berhenti pada “katak” dan “ketek”. Tantang dia mencari contoh kata palindrom lainnya.
Parents bisa menuliskan beberapa kata di kertas atau kartu. Kemudian, baca bersama dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri.
Misalnya:
M-A-L-A-M → M-A-L-A-M
R-A-D-A-R → R-A-D-A-R
K-O-D-O-K → K-O-D-O-K
Kemudian, selipkan kata yang bukan palindrom seperti “buku”, “rumah”, atau “cerita”. Minta si Kecil menebak mana yang palindrom dan mana yang bukan.
Permainan bisa dibuat lebih seru dengan menggunakan potongan huruf. Susun huruf K-A-T-A-K, lalu minta anak membacanya. Setelah itu, balik urutannya dan perhatikan apakah kata tersebut berubah.
Tidak perlu terburu-buru meminta anak menghafalkan istilah “palindrom”. Hal yang lebih penting adalah memberinya kesempatan untuk menemukan pola dan menikmati permainan katanya.
Dari Cerita ke Kesadaran Bunyi dan Huruf
Bermain dengan kata membuat anak memperhatikan bahwa bahasa memiliki pola. Ada kata yang bunyinya mirip, ada yang memiliki suku kata sama, ada pula yang mempunyai susunan huruf unik seperti palindrom.
Dalam perkembangan literasi awal, kemampuan memperhatikan struktur bunyi bahasa merupakan salah satu fondasi penting. National Early Literacy Panel memasukkan phonological awareness atau kesadaran fonologis sebagai salah satu kemampuan yang memiliki hubungan dengan perkembangan literasi selanjutnya (lincs.ed.gov).
Namun, Parents tidak perlu mengubah kegiatan membaca menjadi pelajaran formal. Justru, eksplorasi bahasa dapat muncul dari rasa penasaran anak.
Misalnya, ketika si Kecil menemukan kata menarik dalam cerita, Parents bisa bertanya:
“Huruf pertama kata ini apa?”
“Kalau dibaca dari belakang bagaimana?”
“Ada kata lain yang mirip tidak, ya?”
Pertanyaan sederhana tersebut mengajak anak memperhatikan bahasa sambil tetap menikmati cerita.
Buku Cerita Bisa Menjadi Tempat Bermain Bahasa
Salah satu hal menarik dari membaca bersama si Kecil adalah satu buku dapat membawa Parents ke banyak aktivitas.
Hari ini mungkin Parents membacakan cerita. Besok, buku yang sama bisa digunakan untuk mengamati ilustrasi. Di kesempatan berikutnya, si Kecil mungkin menemukan kata lucu, bunyi yang berulang, atau bahkan palindrom.
Oleh karena itu, membaca buku anak tidak harus selalu berorientasi pada seberapa cepat Parents dan si Kecil menyelesaikan cerita. Percakapan yang muncul di tengah kegiatan membaca juga dapat menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.
Sebuah meta-analisis terhadap 19 studi intervensi membaca buku bergambar bersama menemukan dampak positif terhadap perkembangan bahasa anak, khususnya kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif. Penelitian tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran orang dewasa dalam kegiatan membaca bersama. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
Jadi, jika si Kecil tiba-tiba berhenti pada sebuah kata dan penasaran dengan bunyinya, Parents tidak harus buru-buru melanjutkan cerita. Ikuti rasa penasarannya. Bisa jadi, satu kata justru membuka percakapan bahasa yang menyenangkan.
Baca juga: Mengapa Dongeng Hewan Selalu Disukai Anak-Anak? Simak Penjelasannya!
Yuk, Cari Palindrom Lain!
Parents, siapa sangka dua kata dalam judul Pangeran Katak yang Bau Ketek dapat menjadi awal permainan bahasa bersama si Kecil.
Dari “katak” dan “ketek”, Parents dapat mengajak anak menemukan “malam”, “radar”, “kodok”, dan berbagai kata lain yang tetap sama saat dibaca dari depan maupun belakang. Aktivitas sederhana ini bisa dilakukan kapan saja tanpa harus terasa seperti sedang belajar. Yang dibutuhkan hanya sebuah buku, rasa penasaran, dan waktu untuk bermain bersama.
Yuk, Parents, kenalkan si Kecil pada berbagai keseruan bahasa melalui buku! Temukan Pangeran Katak yang Bau Ketek karya Noor H. Dee dan Choryna Dezavega serta beragam buku anak berkualitas lainnya terbitan Noura Publishing di nourabooks.co.id. Siapa tahu, setelah membaca ceritanya, si Kecil justru menemukan kata palindrom baru yang belum pernah Parents pikirkan!
Beli Bukunya Disini
