Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang berkuasa, namun ingatan kolektif masyarakat Gaza menolak tunduk pada aturan tersebut. Di tengah gempuran disinformasi, suara mereka tetap menyala untuk menjaga kebenaran tetap hidup. Dalam sebuah bincang-bincang mendalam bertajuk “Cerita dari Palestina”, kita diajak untuk menyelami realitas di Palestina yang jauh melampaui sekadar angka statistik di layar berita harian kita. 

 

Diskusi ini menghadirkan Atef Abu Saif, seorang penulis, sastrawan, sekaligus jurnalis asal Palestina yang mengalami langsung situasi mencekam di Gaza. Dalam pemaparannya, Atef menegaskan sebuah kenyataan yang sangat pahit, tentang bagaimana peperangan sering kali mereduksi manusia menjadi sekadar angka kuantitatif yang dingin. Atef kembali mengingatkan dunia lewat tulisannya bahwa mereka adalah seratus nyawa manusia, yang masing-masing terikat erat dengan kisah hidup, keluarga, anak, istri, orangtua, dan masa depan yang hancur dalam sekejap mata.

Baca juga: Lima Fakta Menarik tentang Buku A Diary of Genocide Karya Atef Abu Saif

Menulis bagi masyarakat Palestina bukan lagi sekadar hobi atau pemuasan hasrat seni, melainkan sebuah kewajiban sejarah untuk mempertahankan ingatan kolektif dunia. Ketika jalur diplomasi politik mengalami kebuntuan, maka seni, film, dan literatur harus maju menjadi medium perlawanan. Melalui A Diary of Genocide yang diterbitkan oleh Noura Publishing, Atef mencatat setiap jengkal penderitaan dan ketegangan tersebut secara personal. Ditulis dari sudut pandang orang pertama, waktu nyata, tanpa filter editorial. Buku ini melampaui apa yang bisa kita tangkap melalui potongan video pendek di media sosial. Kita akan menemukan detail-detail kecil yang memilukan tentang cara bertahan hidup sehari-hari masyarakat Gaza yang jarang tersentuh jurnalisme arus utama. Pembaca tidak sekadar membaca tentang Gaza, tetapi mereka berada di sana. 

 

Atef menceritakan “rumus menyelamatkan diri” yang dimiliki keluarga Palestina di dalam rumah mereka, seperti memilih koridor atau bagian bawah anak tangga sebagai titik paling aman saat pengeboman terjadi. Dia juga membagikan kisah tentang bagaimana satu keluarga harus bertahan hidup dengan taktik membagi peran, satu orang mengantre makanan, satu orang mengantre air bersih, dan satu orang lainnya mengantre untuk mengisi daya baterai telepon genggam.

 

Secara tegas, Atef menyatakan bahwa mereka selalu berusaha menghancurkan aspek kehidupan dan menyembunyikan informasi demi menutupi kekejian yang dilakukan. Jika kita mengetahui kebenaran yang terjadi di sana tetapi memilih untuk diam, maka kita secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam melanggengkan penindasan tersebut dengan cara menyembunyikan kebenaran. 

Baca juga: A Diary of Genocide, Sebuah Catatan Harian, Bentuk Perlawanan, dan Harapan

Membaca buku A Diary of Genocide bukan sekadar bentuk empati pasif, melainkan sebuah aksi nyata untuk menjaga agar api kebenaran tidak pernah mati. Melalui catatan harian yang ditulis langsung di bawah bayang-bayang kehancuran ini, kita diajak untuk melihat wajah asli dari tragedi kemanusiaan ini secara utuh. Mari bersama-sama merawat ingatan kolektif dunia, menolak untuk bungkam, dan terus menyebarkan kebenaran. Dengan membaca, memahami, dan membagikan kisah ini, kamu turut andil dalam menyuarakan keadilan dan mendukung hak kemerdekaan bagi bangsa Palestina. 

 

Dapatkan segera buku A Diary of Genocide karya Atef Abu Saif melalui Mizanstore, Mizan Official Shop di berbagai e-commerce pilihan, atau kunjungi toko buku kesayanganmu sekarang!

Beli bukunya di sini