Mengapa Masyarakat Indonesia Mudah Terjerat Pinjol? Menjawab Darurat Literasi Keuangan Lewat Buku Money Karya David McWilliams

 

Kemudahan akses terhadap layanan finansial beberapa tahun terakhir justru menjadi pisau bermata dua. Fenomena maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, hingga investasi bodong yang memakan korban dari berbagai kalangan masyarakat menjadi bukti nyata betapa rapuhnya pemahaman finansial kita. 

Berbagai isu yang muncul belakangan menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, memahami risiko investasi, maupun mengelola utang secara sehat. Alih-alih mencapai kebebasan finansial, tidak sedikit dari kita yang justru terjebak dalam pusaran utang dan gaya hidup konsumtif.

Sayangnya, literasi keuangan sering kali dipahami sebatas kemampuan menabung dan mengatur pengeluaran. Padahal, uang memiliki sejarah panjang, tidak hanya sebagai alat tukar tetapi juga membentuk peradaban manusia. Tanpa memahami cara uang bekerja, akan sulit bagi kita untuk mengambil keputusan finansial yang bijak.

Baca juga: Menikah untuk Bahagia: Menemukan Rahasia “Surga di Rumah” yang Sesungguhnya

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Masalah utamanya terletak pada cara pandang kita terhadap uang. Sejak kecil, kita diajarkan cara mencari uang atau menabungnya di bank, tetapi jarang sekali dibekali pemahaman mendasar tentang cara uang bekerja. Kita memandang uang sebatas angka di layar ponsel pintar atau lembaran kertas, tanpa memahami hakikat, sejarah, dan dinamika psikologis di baliknya.

Banyak orang menganggap uang hanyalah selembar kertas atau angka di layar aplikasi perbankan. Melalui Money: Kisah Uang dan Peradaban Manusia, David McWilliams menegaskan bahwa uang bukan sekadar alat tukar, melainkan gagasan sosial paling revolusioner yang pernah diciptakan manusia. Uang adalah simbol kepercayaaan (trust). Tanpa rasa percaya dari masyarakat, selembar kertas tidak akan memiliki nilai apa pun.

Ketika dikaitkan dengan konteks Indonesia hari ini, dinamika keuangan masyarakat kerap goyah karena fondasi “kepercayaan” dan pengetahuannya yang rapuh. Fenomena jeratan pinjol ilegal atau investasi bodong terjadi bukan hanya karena orang butuh uang secara mendesak, tetapi juga karena kurangnya pemahaman mendalam tentang cara sistem uang bekerja dan memperdaya psikologi manusia.

 

Membangun Benteng dari Jeratan Finansial

Memahami uang sebagai satu gagasan sosial yang berlandaskan kepercayaan (trust) dapat menjadi kunci utama agar kita tidak mudah memindahkan kepercayaan kita kepada pihak yang salah. Berikut beberapa langkah krusial yang bisa kita terapkan:

 

Memahami Hakikat dan Risiko Finansial 

Penting bagi kita untuk memiliki kesadaran bahwa dalam dunia keuangan, nilai dan keuntungan berbanding lurus dengan risiko. Jika ada tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi tanpa risiko, atau pinjol yang menawarkan pencairan instan tanpa syarat rasional, hal itu jelas memanipulasi rasa percaya serta psikologi manusia. Pastikan lembaga tersebut terdaftar dan diawasi resmi oleh OJK. 

Baca juga: The Child in You: Kunci Menerima Diri dan Membangun Hubungan yang Lebih Baik

Sadari Utang sebagai “Waktu yang Dipinjam”
Memahami sejarah uang membantu kita menyadari bahwa utang pada dasarnya adalah mengambil hak atas pendapatan kita di masa depan. Sebelum mengakses kemudahan fitur pinjol, bedakan dengan tegas antara kebutuhan mendesak dan keinginan sesaat agar Anda tidak menukarkan kebebasan finansial masa depan demi kepuasan jangka pendek.

 

Tingkatkan Literasi Keuangan secara Komprehensif
Mulailah memandang uang lebih dari sekadar alat belanja. Luangkan waktu untuk mempelajari prinsip dasar pengelolaan risiko, bunga, dan cara kerja ekonomi modern. Membaca literatur seperti buku Money: Kisah Uang dan Peradaban Manusia dapat membuka wawasan bahwa membentengi diri dari manipulasi finansial dimulai dari cara pandang kita terhadap hakikat uang itu sendiri.

 

Di tengah maraknya krisis finansial personal akibat minimnya edukasi, buku Money: Kisah Uang dan Peradaban Manusia hadir sebagai sarana edukasi yang fundamental. Buku ini bukan hanya penting untuk mahasiswa, praktisi, atau pengamat keuangan, melainkan untuk siapa saja yang ingin memiliki kendali penuh atas keputusan finansialnya di era modern.

Beli bukunya di sini