Tanpa Pinjaman Mesin Ketik, Tak Ada Budi Darma

Ruang Baca-Tanpa Pinjaman Mesin Ketik, Tak Ada Budi Darma
Ruang Baca-Tanpa Pinjaman Mesin Ketik, Tak Ada Budi Darma

Pada satu kesempatan Sapardi Djoko Damono bertanya pada Budi Darma, “Saudara menulis puisi, cerpen dan esai. Manakah yang paling sulit saudara kerjakan?”

Dengan santai Budi Darma menjawab, “Pada dasarnya semua orang bisa menulis puisi, tapi hanya sedikit orang yang bisa menulis puisi yang betul-betul puisi.”

Menurutnya, sebelum seseorang menulis naskah cerpen, novel, drama ataupun esai, dia harus menjadi penyair telebih dahulu.

“Dan orang yang dapat menjadi penyair setelah melalui stadium pertama adalah orang yang benar-benar mengagumkan. Untuk menjadi penyair yang benar-benar penyair orang pun harus melalui stadium sebagai penyair terlebih dahulu. Ya, menulis puisilah yang paling sulit,” lanjutnya.

Tapi tunggu dulu, ada yang dilewatkan oleh Budi Darma. Sebelum penulis menjadi penyair, dia terlebih dahulu  harus mempunyai mesin ketik sendiri atau minimal mendapat pinjaman.

Baca juga: Menjadi Manusia dengan Sastra Untuk Millenial

“Bagi saya pribadi, menulis itu harus ada alatnya,” tekan Budi Darma ketika berkunjung ke kantor Noura Publishing pada Jumat (29/6) lalu.

Bicara soal alat produksi dalam hal ini mesin ketik, ada satu cerita menarik terkait Budi Darma. Penulis kelahiran 1937 tersebut, mengakui perjalanannya menulis diawali oleh sebuah ajakan sang Ayah yang memintanya menemani ke rumah salah satu kerabat.

Di rumah kerabat ayahnya itu, Budi Darma kecil melihat mesin ketik dan diperbolehkan menulis. Dia menjadi tertarik, dengan perangkat mesin ketik tersebut, Budi menyelesaikan satu puisi yang kemudian diterbitkan oleh majalah kebudayaan di Jogyakarta. Berlanjut, Budi datang lagi ke sana dan meminjam kembali mesin ketiknya. Satu naskah cerita pendek tandas, Budi kirim naskah ke majalah sastra di Jogjakarta dan dimuat.

Baca juga: 3 Mitos Sastra Menurut Seno Gumira Ajidarma

“Andaikata pada waktu itu saya tidak mempunyai mesin tulis dan tidak punya pinjaman mesin tulis, mungkin saya tidak akan menulis,” ujarnya penulis kumcer Orang-orang Bloomington dan novel Rafilus.

Namun tak melulu karir kepenulisannya digantung pada mesin ketik. Ada masa di mana Budi harus bepergian dan tidak memungkinkannya untuk membawa mesin ketik, sebab ukurannya yang besar dan bobot yang tak ringan. Jadilah dia menuliskan sesuatu dengan alat seadanya, tak jarang dengan tangan. Baru kemudian diketik ulang dengan mesin ketik.

“Tapi ternyata apa yang saya tulis dengan tangan dan disalin dengan mesin ketika, itu berbeda. Setiap kali saya menulis, kalau suasana dan waktunya berbeda, ceritanya bisa lain,” tandasnya.[alf]

**Wawancara Sapardi Djoko Damono dengan Budi Darma dikutip dari majalah Horison, No.4, Tahun IX, April 1974

Ini Alasan Naskahmu Langsung Ditolak Penerbit

06/07/2018

Bahagia Tak Bergantung Kemewahan

06/07/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *