Menjadi Manusia dengan Sastra Untuk Millenial

Belum juga pukul 14.00 WIB, selasar Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, sudah di datangi puluhan orang yang tak sabar menghadiri gelaran acara Menjadi Manusia dengan Sastra (MMDS). Sambil menunggu pintu auditorium dibuka, pengunjung dengan ragam usia tersebut masyuk melihat-lihat segala fasilitas yang ada.

Tepat 15.00 WIB saat pintu auditorium dibuka, bagai pusaran gelombang para pengunjung masuk dan memilih tempat duduknya masing-masing. Audiens langsung disuguhi dramatical reading Lelaki Tua Tanpa Nama oleh Reno Muhammad dan Khatulistiwa Muda. Lelaki Tua Tanpa Nama adalah salah satu cerpen yang ada di dalam kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington besutan Budi Darma.

Sayangnya tidak semua  pengunjung bisa masuk ke dalam auditorium, karena kapasitas yang terbatas. Sisanya harus rela di selasar, menikmati tayangan live streaming melalui layar yang telah disediakan GIK.

Seno Gumira Ajidarma diburu pengunjung MMDS untuk ditagih berfoto.
Seno Gumira Ajidarma diburu pengunjung MMDS untuk ditagih berfoto.

Acara MMDS bertujuan untuk mengenalkan kembali karya sastra dari penulis masyhur yang dimiliki Indonesia, seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, Kuntowijoyo, Iwan Simatupang, dan Bondan Winarno kepada generasi millennial. Sebelum acara bincang-bincang, dipersembahkan tribute to Iwan Simatupang dan Bondan Winarno. Elisio Winarno, putra almarhum Bondan Winarno, turut berbagi tentang sang ayah, penulis buku Petang Panjang di Central Park. Anak dari Iwan Simatupang, Violetta, meski berhalangan hadir, juga menyempatkan membuat video testimony tentang sang ayah, yang wafat hampir setengah abad lalu.

Budi Darma meladeni satu persatu pengunjung, yang bukunya ingin dicoret-coret.
Budi Darma meladeni satu persatu pengunjung, yang bukunya ingin dicoret-coret.

Suasana kian seru, manakala pembawa acara mempersilakan Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma untuk naik panggung menjadi pengampu diskusi. Pengunjung memasang telinga dengan baik, menyimak dua maestro sastra Indonesia mengulas korelasi sastra dan masyarakat hingga proses kreatif keduanya. Audiens pun antusias mengajukan pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, pertanyaan dibatasi.

Pengisi acara, tamu undangan, pengunjung dan tim Noura berfoto bersama selepas acara.
Pengisi acara, tamu undangan, pengunjung dan tim Noura berfoto bersama selepas acara.

MMDS ditutup oleh dramical reading yang kali ini membawakan “Penari dari Kutai” dari kumpulan cerpen Dunia Sukab karya Seno Gunira Ajidarma. Kurang lebih pukul 17.30 WIB gelaran MMDS selesai. Pintu auditorium dibuka, lantas kerumunan pengunjung yang tertahan di luar merangsek masuk. Meski tak bisa menyimak langsung Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma dari dalam auditorium, mereka tetap berharap bisa meminta tanda tangan dua sastrawan tersebut dan berfoto bersama.[]

Teks & Foto: Abdi Putra

 

Membacakan Nyaring untuk Orang Dewasa?

14/02/2018

Apa Kata Dua Sastrawan Maestro Ini Tentang Minat Baca Generasi Millennial?

14/02/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *