Waspada Covid-19 pada Anak

Kesehatan anak menjadi salah satu perhatian utama pada wabah virus corona. dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, SpA(K) atau akrab dipanggil Dokter Dafi menyebut, angka jumlah pasien Covid-19 pada usia anak-anak di dunia bervariasi.

“China keseluruhan 2 persen, tapi Wuhan 12 persen. Italia 1,2 persen, di Korea Selatan 4,2 persen,” ujar Dokter Dafi yang juga penulis buku Mengatasi Gawat Darurat pada Anak dalam sesi Instagram Live “Gejala dan Kegawatan  Covid-19 pada Anak”, Jumat (17/4/2020) siang. Di Indonesia sendiri ia mengaku belum tahu jumlah pasti, kecuali di tempat bertugasnya di Malang, Jawa Timur. “Pasien saya sendiri dari 12 PDP (Pasien dalam Pengawasan) di Malang ini, 1 (pasien) positif,” lanjutnya.

Menurut Dokter Dafi, jumlah pasien anak Covid-19 relatif lebih sedikit dibanding dewasa karena ACE2 yang menjadi tempat masuknya virus corona pada usia dewasa sudah matang. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan lantaran anak dapat menjadi pembawa virus yang berpotensi menularkan ke orang yang rentan. “Keluhan PDP pada anak yang kemudian positif Covid-19, jarang yang berat. Tapi bukan berarti meremehkan, kalau seandainya dia bergaul, dia bisa jadi pembawa,” tegasnya.

Bagi anak yang pernah menderita radang paru atau pneumonia, ia mengingatkan orang tua untuk lebih waspada karena tingkat kekebalannya terhadap virus corona bisa jadi lebih rendah. “Lebih hati-hati karena sistem kekebalannya tidak sekebal seperti orang lain,” ujarnya.

Untuk menjaga kekebalan tubuh anak, menurutnya cukup dengan makan makanan bergizi lengkap dan istirahat yang cukup. Pemberian vitamin diperbolehkan jika anak mengalami sakit, tetapi sesuai dosis yang tertera. “Prinsipnya,sepanjang anak sehat dengan makanan yang biasa dikonsumsi, itu sudah cukup. Apabila dia keadaan sakit dan asupan kurang, ya bolehlah diberi vitamin. Tapi jangan membabi buta, justru bisa memberi efek samping pada si anak,” jelasnya.

Jika terjadi batuk pilek pada anak dan lokasi tempat tinggal termasuk dalam zona merah penyebaran virus corona, menurut Dokter Dafi, si anak sudah digolongkan ODP (Orang Dalam Pengawasan). Tidak perlu panik berlebihan, cukup melaksanakan isolasi mandiri, dan diberi obat yang tersedia di rumah. Namun, jika kondisi sudah parah seperti sesak napas, orang tua dapat segera membawanya ke rumah sakit.

“Sepanjang bisa diatasi dengan obat-obat yang tersedia, coba dulu, daripada kontak dengan pasien. Kalau udah mengganggu kualitas hidup, segera ke dokter,” jelasnya.

Kunjungan ke rumah sakit sebisa mungkin dibatasi untuk menghindari potensi tertular virus corona oleh pasien lain. Dokter Dafi memberi beberapa tip jika orang tua terpaksa harus membawa anak ke rumah sakit.

“Kalau terpaksa ke rumah sakit, pakai masker, social distancing sebisa mungkin jaga jarak dengan pasien lain. Kalau di rumah sakit, anak jangan lari kesana kemari, andaikan masih bisa dengan menggunakan obat-obat yang bisa disiapkan di rumah, dicoba dulu,” jelasnya.

Terkait dengan jadwal imunisasi, menurutnya IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) sudah memberi rekomendasi kelonggaran jadwal untuk meminimalisir kunjungan ke rumah sakit ataupun puskesmas.

“Prinsipnya, dalam keadaan masih bisa ditunda, vaksin bisa ditunda 2-4 minggu, terutama kalaudi daerah Covid-19 yang cakupannya luas bisa ditunda sampai1 bulan,” jelasnya.

Vaksin tetap harus diberikan sesuai dengan rekomendasi jadwal dari IDAI untuk mencegah kemunculan penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. “Khawatirnya setelah pandemi, terjadi outbreak (wabah) penyakit-penyakit infeksi yang sebenarnya bisa diimunisasi. Oleh karena itu, imunisasi tetap harus dilakukan.”

Selain imunisasi, terapi-terapi jangka panjang untuk penyakit tertentu, seperti salah satunya TBC, juga harus tetap berjalan di tengah kondisi pandemi. Selain memerhatikan kondisi rumah sakit, Dokter Dafi juga menyarankan agar orang tua dapat membuat janji dengan dokter untuk imunisasi maupun terapi.

“Sekarang banyak rumah sakit sudah memilah tempat sakit dan tidak sakit. Paling ideal janjian dulu dengan dokter,” ujarnya.

Ini Dia 5 Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit

21/04/2020

Muhasabah di Tengah Wabah dengan Buku #HidupKadangBegitu

21/04/2020