Tahun 2025 memperlihatkan perubahan besar dalam wajah demokrasi Indonesia.
Tagar viral, video pendek, dan banjir informasi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Demonstrasi kini juga berlangsung di media sosial dan ruang persepsi publik. Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat sedang menghadapi gejolak demokrasi biasa, atau bentuk baru konflik yang disebut perang kognitif?
Buku ini membedah bagaimana narasi, emosi publik, dan kepercayaan sosial dipengaruhi di era algoritma. Framing media, buzzer, astroturfing, hoaks, hingga post-truth dibahas secara kritis dan berimbang.
Buku ini tidak menyalahkan rakyat atau kritik publik. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca memahami pentingnya berpikir kritis, literasi digital, dan ketahanan kognitif agar demokrasi Indonesia tetap sehat di tengah gempuran disinformasi. PERANG KOGNITIF adalah refleksi tentang perebutan realitas di era digital—ketika perang terbesar tidak lagi memperebutkan wilayah, tetapi memperebutkan pikiran manusia.
Tentang Penulis
Brigadir Jenderal TNI Dr. Agus Bhakti, S.I.P., M.I.P., M.Han merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang memiliki rekam jejak panjang dalam bidang kepemimpinan militer, intelijen, teritorial, pendidikan strategis, dan kajian keamanan nasional. Dengan perpaduan pengalaman lapangan, pendidikan militer, serta kedalaman akademik, ia dikenal sebagai figur prajurit-intelektual yang memiliki perhatian besar terhadap perubahan watak ancaman pada era digital, khususnya ancaman yang menyasar cara berpikir, persepsi publik, kohesi sosial, dan ketahanan demokrasi.
Lahir di Bandung pada 3 Agustus 1975, Agus Bhakti merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1996. Karier militernya dibentuk melalui berbagai penugasan di satuan elit Komando Pasukan Khusus, satuan tempur, komando kewilayahan, dan staf intelijen. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang tegas, analitis, adaptif, serta peka terhadap dinamika ancaman kontemporer yang tidak lagi semata-mata hadir dalam bentuk kekuatan fisik, tetapi juga melalui manipulasi informasi, perang narasi, polarisasi sosial, dan operasi pengaruh di ruang digital.
Dalam perjalanan kariernya, ia pernah mengemban sejumlah jabatan strategis, antara lain Komandan Batalyon, Komandan Kodim, pejabat intelijen di lingkungan Kostrad dan Kodam, Komandan Korem, serta berbagai penugasan penting lainnya dalam struktur TNI Angkatan Darat. Pengalamannya sebagai Danrem 162/Wira Bhakti dan Wakil Asisten Intelijen Kepala Staf Angkatan Darat memperkuat pemahamannya mengenai hubungan erat antara stabilitas keamanan, kendali wilayah, dinamika sosial masyarakat, perkembangan teknologi informasi, serta kepentingan nasional.
Di bidang akademik, Brigjen TNI Dr. Agus Bhakti menempuh pendidikan tinggi pada sejumlah institusi terkemuka. Ia meraih gelar Sarjana dan Magister Ilmu Pemerintahan dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Magister Pertahanan dari Universitas Pertahanan, serta Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas Padjadjaran dengan predikat cum laude. Pendidikan militer dan strategisnya juga ditempa melalui berbagai jenjang pendidikan TNI, termasuk Seskoad, Sesko TNI, dan Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Lemhannas RI. Kombinasi pendidikan militer, akademik, dan strategis tersebut memperkokoh kapasitasnya sebagai pemikir pertahanan yang memandang keamanan nasional secara multidimensi.
Perhatian intelektualnya tidak hanya tertuju pada ancaman militer konvensional, tetapi juga pada bentuk-bentuk ancaman baru yang berkembang dalam masyarakat digital. Baginya, ruang informasi bukan sekadar medium komunikasi, melainkan telah menjadi arena strategis tempat opini publik dibentuk, kepercayaan sosial diuji, emosi kolektif digerakkan, dan legitimasi institusi negara dipertaruhkan. Dalam konteks inilah, perang kognitif menjadi isu penting yang perlu dipahami secara jernih, proporsional, dan berbasis kajian ilmiah.
Melalui buku Perang Kognitif, Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025, Agus Bhakti berupaya menghadirkan refleksi akademik dan strategis mengenai bagaimana demokrasi Indonesia menghadapi tekanan baru di tengah derasnya arus informasi digital. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian politik praktis terhadap actor atau kelompok tertentu, melainkan sebagai ikhtiar intelektualuntuk memahami bagaimana disinformasi, framing, amplifikasi algoritmik, polarisasi, dan mobilisasi emosi publik dapat memengaruhi stabilitas sosial serta kualitas demokrasi.
Sebagai prajurit dan akademisi, ia memandang bahwa ketahanan nasional pada abad ke-21 tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan fisik dan perangkat pertahanan konvensional. Ketahanan bangsa juga ditentukan oleh daya tahan kognitif masyarakat, kualitas literasi digital, kepercayaan terhadap institusi, kedewasaan berdemokrasi, serta kemampuan negara dan masyarakat untuk membedakan kritik yang sehat dari manipulasi yang merusak. Dengan sudut pandang tersebut, buku ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi kalangan akademisi, praktisi pertahanan, pengambil kebijakan, insan media, dan masyarakat luas dalam memahami kompleksitas ancaman kognitif di era demokrasi digital.