Memilih Pekerjaan ≠ Menentukan Karier

Ketika memasuki usia kepala dua dan tiga, tak sedikit di antara kita yang menghadapi quarter life crisis alias krisis seperempat abad. Kondisi ini biasanya hadir begitu kita lepas dari kehidupan masa remaja dan mulai memasuki kehidupan orang dewasa yang biasanya disertai dengan beragam tuntutan kewajiban dan tanggung jawab. Selain itu, muncul pula kebingungan dalam menentukan arah hidup dan kegamangan dalam memilih karier.

60% Waktu Terjaga Kita untuk Bekerja

Pada tahap ini, kebanyakan orang biasanya akan berusaha mencari jalan terbaik yang dapat menuntun pada kebahagiaan di masa mendatang. Sayangnya ketika mulai menentukan pilihan, tidak banyak yang sadar bahwa karier mengambil porsi besar dalam kebahagiaan hidup. Begitu memasuki dunia kerja, kebanyakan orang menghabiskan lebih dari setengah waktu terjaganya (50-63%) untuk bekerja—yang berarti lebih dari sekitar 96.000 jam kerja dalam satu garis kehidupan. Oleh karena itu, perencanaan karier dan pekerjaan dapat dikatakan sebagai kendaraan penting yang dapat membantu kita melalui quarter life crisis. Dengan pekerjaan yang tepat dan karier yang bermakna, kita dapat mewujudkan alasan eksistensi kita di dunia sekaligus mencapai tujuan hidup yang paling utama, yaitu kebahagiaan.

Karier dan Pekerjaan Tidak Sama

Sebagian besar orang menilai keberhasilan karier melalui jenjang jabatan dalam lingkup pekerjaannya. Kalau begitu, apakah karier dan pekerjaan adalah hal yang sama? Tentu saja tidak. Pekerjaan adalah apa yang dilakukan berdasarkan deskripsi pekerjaan (job description)atau jabatan yang dipercayakan, sedangkan karier adalah benang merah yang memayungi setiap esensi pekerjaan yang dilakukan secara profesional. Sebuah pekerjaan dapat dicari lewat daftar lowongan pekerjaan (seperti ketika seseorang memutuskan untuk memesan sebuah menu di restoran), sedangkan karier adalah jalur profesional yang dipilih secara sadar oleh seseorang dan dapat direalisasikan melalui berbagai jenis pekerjaan.

Baca Juga: Stop, Passion Bukan Segalanya!

Dengan demikian, bekerja sesuai job description saja tidak serta-merta membawa kita pada karier yang cemerlang. Menurut survei Deloitte’s Shift Index yang tercantum dalam sebuah artikel di Business Insider, hampir 80% pegawai merasa tidak puas dengan pekerjaannya. Hal ini membuktikan bahwa cinta atau tidaknya kita pada suatu pekerjaan dan karier dapat menentukan bahagia atau tidaknya kita dalam hidup ini. Berangkat dari pemikiran ini, mulai banyak anak muda yang menyadari pentingnya ‘passion’ dalam bekerja. Bahkan, tak sedikit pula yang akhirnya memutuskan untuk beralih profesi dan memilih untuk mengejar ‘passion’. Namun, apakah passion saja cukup untuk memperoleh kebahagiaan dalam berkarier?

Roller Coaster Karier

Yang perlu diingat sebelum memutuskan untuk mengejar passion secara membabi buta adalah bahwa perjalanan karier yang penuh makna itu seperti roller-coaster yang tak berujung, penuh naik-turun dan tidak semulus jalan tol. Sebelum ‘naik’ ke roller coaster tersebut, sebaiknya kamu sudah merancang jalur/peta perjalanan kariermu sejak awal. Sebagai referensi, kamu bisa intip berbagai tips praktis dari Inez Natalia* dalam bukunya Turn Right: Perjalanan Menuju Karier Penuh Makna. [Rfd]

*Inez Natalia, beserta Puri Lestari, adalah pendiri The Intersection Project, sebuah wadah yang membantu para dewasa muda untuk mengarahkan kekuatan dan kemampuannya agar memiliki fokus yang tepat untuk menjalani hidup penuh makna.

Night Flights: Hadiah Philip Reeve untuk Pemeran Anna Fang di Film Mortal Engines

04/02/2019

Tuhan Dalam Syair-Syair Rumi

04/02/2019