Man’s Search for Meaning: Sebuah Karya Dari “Laboratorium Logoterapi”

Saat paling berat seperti apa yang pernah Anda alami? Saat ditinggalkan kekasih? Saat ayah, ibu, kakak-adik, atau atau siapa pun yang Anda cintai, meninggal dunia? Saat musibah melanda, semisal gempa bumi, tsunami, atau juga tsunami ekonomi–kebangkrutan?

Masing-masing orang tentu memiliki pengalaman dan persepsi yang berbeda tentang “saat berat” itu. Dan bagi Viktor Frankl, saat itu adalah ketika dia harus meringkuk selama tiga tahun dalam kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz dan Dachau pada masa Perang Dunia II. Frankl mencatat pengalaman itu dalam bukunya Man’s Search for Meaning.

Meskipun mengalami dan menyaksikan sendiri perlakuan tak berperikemanusiaan Tentara Nazi di kamp konsentrasi, Frankl tidak sekadar menghabiskan waktu menulis Man’s Search for Meaning hanya untuk mengudar detail penderitaan yang dialaminya. Ia justru lebih banyak mengedepankan kemampuan manusia untuk bertahan dan akhirnya selamat dari himpitan penderitaan.

Pada setengah bagian pertama buku yang kini menjadi karya klasik dan buku wajib baca bagi mahasiswa Psikologi itu, Frankl mengungkapkan bagaimana para tahanan mempersepsi keseharian di kamp konsentrasi. Frankl memberikan contoh para tahanan yang berhasil memelihara harapan dan kemauan untuk tetap hidup, meski harus menjalani siksaan fisik dan mental yang tak tertahankan. Di sinilah Frankl menunjukkan pentingnya apa yang kemudian disebutnya “penciptaan makna” pada situasi apa pun yang dihadapi manusia.

Baca Juga: The God of Small Things: Berbagai Nuansa Kenyataan yang Dikemas Indah Sekaligus Mencekam

Dalam kasus Frankl sendiri, misalnya, ia selalu membayangkan wajah sang istri dan berangan-angan kelak bertemu lagi dengan perempuan yang dicintainya itu–harapan yang selalu mampu memberinya semangat di tengah keputusasaan yang menguasai kamp konsentrasi. Frankl memberi makna pada hidupnya, yang meskipun harus menjalani hukuman menyiksa, menjanjikan akhir yang bahagia, yaitu bertemu istri yang dicintainya. Makna itulah yang membuat Frankl yakin bahwa hidupnya yang penuh nestapa itu masih layak dijalani.

Pada bagian kedua, Frankl mengudar filosofi psikoterapi yang diyakininya. Pada 1920-an itu, sebelum digiring ke kamp konsentrasi, Frankl memulai praktek psikoterapi yang didasarkan pada pengakuan adanya elemen filosofis dan spiritual dalam pengalaman hidup manusia. Sebuah paham anti-mainstream, karena pada saat itu konsep psikoanalisis Freud yang mengesampingkan elemen filosofis dan spiritual hidup manusia tengah berjaya dan berpengaruh besar di seluruh Eropa.

Baca Juga: Kisah si Tukang Intip Tetangga

Frankl berkilah bahwa pandangan Freud telah mereduksi kehidupan mental manusia, selain itu mengesampingkan makna eksistensi manusia itu sendiri. “Pencarian makna merupakan motivasi utama hidup manusia,” demikian Frankl menulis. Frankl menamakan pendekatan yang dianiutnya ini sebagai Logoterapi, berasal dari kata dalam Bahasa Yunani logos yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai “makna”. Logoterapi pun kemudian dikenal sebagai cabang psikologi yang berfokus pada makna eksistensi manusia, sekaligus pada upaya-upaya manusia mencari makna tersebut.

Boleh dibilang, pengalaman Frankl terkurung selama tiga tahun di kamp konsentrasi Nazi, merupakan “blessing in disguise” karena menjadi semacam praktek laboratorium dari teori psikoterapi yang dirancangnya. Buku Man’s Search for Meaning sendiri, yang menjadi salah satu tonggak pengenalan awal Logoterapi, menjadi salah satu acuan ilmu psikoterapi tersebut, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, dan terjual puluhan juta eksemplar secara internasional. [png]

7 Cewek Tangguh dalam Serial Novel Fantasi

16/10/2018

Galau Saat Lulus Kuliah? Simak Kisah Victoria Aveyard, Penulis Novel Bestseller Red Queen

16/10/2018

Leave a Reply