Kekuatan yang Bermartabat, Menyentuh, dan Cermat dari karya Michelle Obama Becoming

Oleh Curtis Sittenfeld

Memoar baru Michelle Obama, Becoming, seperti yang mungkin telah kalian dengar, begitu indah dan luar biasa. Begitulah pendapat Oprah Winfrey, dan Tayari Jones, dan Reese Witherspoon, dan saudariku Jo, dan juga menurutku sendiri—saking begitu antusiasnya sampai-sampai pada pekan aku membacanya, aku telah mendata enam orang yang ingin kuberikan buku tersebut.

Buku ini secara mengejutkan begitu jujur, kaya emosi, dan penuh detail hingga ia memampukan pembaca untuk merasakan secara persis apa yang dirasakan Michelle sendiri dalam berbagai momen kehidupannya. Pada bagian ketika dia dan Barack jatuh cinta, aku merasa hanyut dalam ciuman pertama mereka; ketika Michelle duduk bersama ayahnya di kamar rumah sakit pada malam dirinya meninggal, aku menangis begitu kencangnya di pesawat sehingga, saat troli minum mendekat, aku terpaksa menutup buku itu dan menenangkan diri, supaya aku bisa berbicara dengan pramugari; dan ketika Malia dan Sasha kecil secara pandai mengatasi keganjilan dari perjalanan kampanye dan kehidupan mereka kemudian di Gedung Putih, dengan tetap mempertahankan kejujuran mereka, aku merasa begitu bangga dan protektif seakan-akan anak-anak perempuan itu merupakan anak-anak temanku.

Becoming juga memuat satu penjelasan terbaik tentang menjadi ibu bekerja yang pernah kubaca, sebuah potret di tahun 2004 ketika Michelle berumur 40 dan menjabat sebagai direktur eksekutif bagi urusan masyarakat di Rumah Sakit Universitas Chicago dan Barack menjadi senator negeri yang menghabiskan sebagian besar minggu di Springfield, Illinois: “Di Clybourn Avenue di Chicago, tepat di sisi utara pusat kota, terdapat sebuah surga ganjil, yang tampak diperuntukkan bagi orangtua bekerja, tampak diperuntukkan bagiku: sebuah deretan mal serba-ada yang standar dan khas Amerika. Ia memiliki BabyGap, Best Buy, Gymboree, dan CVS, plus sejumlah toko cabang lain, besar maupun kecil, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak konsumen manapun, entah itu tongkat penyedot kakus, alpukat matang, atau topi mandi ukuran anak. Ada juga Container Store di dekat sana dan Chipotle, yang menjadikannya lebih baik lagi. Inilah tempatku. Aku bisa memarkir mobil, mendatangi dua atau tiga toko yang diperlukan, memesan semangkok burrito, dan kembali ke meja kantorku dalam hitungan enam puluh menit saja. Aku mahir dalam perjalanan singkat saat jam makan siang—mengganti kaus kaki yang hilang, membeli kado bagi anak lima tahun manapun yang mengadakan pesta ulang tahun di hari Sabtu, menyetok ulang jus-jus kemasan dan saus apel ukuran-single … Ada kalanya ketika duduk di mobil yang terparkir sambil menikmati makanan cepat sajiku seorang diri dengan radio mobil yang dinyalakan, dikuasai rasa lega, aku merasa terkesan oleh keefisienanku sendiri. Inilah kehidupan bersama anak-anak kecil. Inilah yang terkadang dianggap sebagai pencapaian. Aku mendapatkan saus apelnya. Aku menikmati makanan. Semua orang masih hidup. Lihatlah bagaimana aku berhasil melakukannya, aku ingin berkata pada saat-saat itu, bukan kepada penonton manapun selain diriku sendiri. Apakah semua melihat bagaimana aku berhasil mengatasinya?”

Dalam kurun tiga tahun, Michelle, tentu saja, memiliki penonton yang jauh lebih besar, tetapi yang mengesankan adalah betapa dia secara konsisten bertahan menjadi dirinya sendiri, sejak waktu dirinya masih kecil yang tumbuh besar di sebuah apartemen sewaan sederhana di kawasan Selatan Chicago, tempat selama berada di bangku Sekolah Dasar dia merasakan kepergian massal kaum kulit putih secara nyata; hingga masa belianya sebagai remaja yang menghadiri SMA unggulan tempat dirinya harus menempuh perjalanan tiga jam setiap harinya, dan di sana dia berteman baik dengan putri Jesse Jackson Santita; hingga tahun-tahunnya sebagai mahasiswa S1 di Princeton dan mahasiswi fakultas hukum di Harvard; hingga masa jabatannya yang singkat di sebuah firma hukum Chicago yang mewah sebelum dirinya beralih untuk bekerja sebagai asisten bagi walikota Richard M. Daley saat itu, kemudian sebagai direktur eksekutif sebuah LSM, lalu sebagai perpanjangan komunitas di Universitas Chicago; kemudian akhirnya pada perjalanan kampanye, yang berawal di Iowa dan berakhir di Gedung Putih. Ciri kepribadian yang mendefinisikan Michelle di masa belianya—dengan etika kerja yang fokus dan terorganisir dan ambisi yang berpadu dengan kehangatan dan selera humor tinggi—terus mendefinisikan dirinya di Pennsylvania Avenue, begitu pula dengan persoalan sosial yang paling berarti baginya: menunjukkan kepada orang-orang, terutama kepada anak-anak muda berkulit warna yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah, bahwa mereka patut mendapatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, keselamatan dan pekerjaan yang baik. Atau, dengan kata-katanya sendiri, Kau pantas berada di sini. Kau penting. Aku menghormatimu.

Walaupun dirinya terlihat cukup percaya diri, sisi ironi dari Becoming adalah bahwa bagian yang menjadikan sosok Michelle menjadi narator yang memikat adalah karena dirinya tidak terkesan berusaha menjadi demikian. Kendati cukup mengejutkan sebagai sebuah memoar politik—walaupun tidak terlalu, mengingat pengakuannya yang menghindar dari mencalonkan diri sebagai presiden sendiri—tujuan Michelle dalam buku ini tampak akurat dan tepat, alih-alih mengagungkan diri sendiri atau membalas dendam masa lalu. Di atas segalanya, tampaknya dia menggambarkan situasi sebagaimana kejadian yang nyata, dan dirinya sebagaimana adanya, entah gambaran itu bagus atau tidak. Sebagai seorang pengacara muda yang mengenakan setelan Armani, mengendarai Saab, dan memiliki keanggotaan layanan minuman anggur, dia mengeluhkan kepada ibunya yang bersahaja itu bahwa dirinya merasa “tak puas.” Di rumah pemakaman setelah kematian ayahnya, dia dan kakak laki-lakinya, Craig, yang biasa dia kagumi, terlibat dalam cekcok tentang jenis peti mati yang akan dibeli. Pada malam inaugurasi presiden tahun 2009, setelah menari dengan lagu “At Last” di sepuluh pesta dansa berbeda, dia begitu letihnya sehingga, ketika kembali ke Gedung Putih untuk menghadiri pesta dengan teman-teman sungguhannya dan keluarga, dia mendapati mereka, berpaling, lalu kabur, bahkan tanpa menyapa orang-orang terdekatnya. Tak satu pun dari adegan-adegan tersebut yang menggambarkan dirinya sebagai sosok panutan, tetapi di semua adegan itu, dia sepenuhnya manusiawi.

Sama seperti kita semua sekali waktu, Michelle secara mengesankan begitu sembrono dan norak: “Aku merancang ciuman pertamaku yang sungguhan, malah, melalui sambungan telepon. Dengan seorang anak laki-laki bernama Ronnell … Aku tak ingat siapakah di antara kami yang mengusulkan pertama kali agar kami bertemu di luar rumahku suatu sore untuk mencoba berciuman, tetapi tak ada kepura-puraan; tidak ada eufemisme malu-malu yang diperlukan. Kami tidak akan ‘bercengkerama’ atau ‘berjalan-jalan.’ Kami akan bermesraan. Dan kami berdua sama-sama menginginkannya.”

Dia juga, sama seperti kita sekali waktu, merasa kesal, khususnya selama waktu Barack meninggalkan beban pengasuhan harian kepada dirinya, sementara Barack menjalankan serangkaian tugas terpilih. Faktanya, Michelle merasa kewalahan oleh ketidakhadirannya baik secara emosi (“Sekali saja, aku menginginkan dirinya merasa puas dengan kehidupannya saat ini. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa memandangi Sasha dan Malia, kini berusia lima dan delapan tahun, dengan rambut kucir kuda dan keceriaan mereka, tetapi masih merasakan hal yang lain”) dan secara logistik. (Pada setiap malam Kamis, ketika Barack secara rutin pulang larut dari Springfield, “Entah dia akan mendapatiku dalam keadaan marah atau tidak bisa diladeni, karena telah memadamkan setiap lampu di rumah dan sudah tertidur lelap.”)

Dan, sama seperti kita, Michelle Obama bingung—sering kali, bingung akan keberadaan dirinya. Dia bingung akankah dirinya pantas berada di berbagai sekolah elite, akankah dia sebaiknya bertahan di firma hukum bergengsinya, akankah dia sebaiknya mengencani rekanan musim panas yang tampan dengan nama yang ganjil, akankah setelah memiliki anak-anak dia sebaiknya bekerja paruh-waktu atau purna waktu atau tidak sama sekali, akankah dan seberapa besar dia sebaiknya mendukung kampanye politik Barack, akankah tinggal di Gedung Putih kelak menjadi hal yang buruk bagi putri-putrinya. Tentu saja, kebingungannya tertanam di judul buku itu sendiri: dengan berpendapat di halaman pertama bahwa menanyakan anak-anak akan keinginan mereka saat besar nanti adalah pertanyaan yang “sia-sia.” Dia menambahkan, “Seakan-akan tumbuh dewasa ada batasannya. Seakan-akan di satu titik kau akan menjadi sesuatu dan itulah akhirnya.”

Aku menduga bahwa sebagian dari kekuatan Becoming terletak dari caranya menggunakan teknik-teknik bercerita novel alih-alih seperti memoar politik biasa—dalam kejujurannya mengenai watak manusia dan ambivalensi, ya, tetapi juga dalam detail-detail berwarna dan keanehannya (walau dia dan Barack begitu senang untuk mandi lumpur saat bulan madu mereka di California Selatan, mereka berdua mendapati berendam di lumpur nyatanya “sama sekali tidak menenangkan dan agak jorok”), dalam kesediaannya untuk membiarkan anekdot-anekdotnya berbicara sendiri alih-alih secara sok tahu mengeja pelajaran di baliknya.

Ada deskripsi menarik pada malam Mahkamah Agung mengesahkan aturan pernikahan gender yang sama, ketika Michelle dan Malia nyaris berhasil menyelinap keluar karena mereka ingin menyaksikan Gedung Putih yang diterangi dengan lampu-lampu warna pelangi dan mendengarkan “dengung publik, orang-orang yang bersorak dan merayakan di luar gerbang-gerbang besi.” Michelle tidak terlalu memperjuangkan pernikahan satu gender itu sendiri, tetapi spesifikasi adegan itu secara nyata mengungkap gairahnya.

Becoming bahkan menyerupai sebuah novel dalam alurnya. Narasinya cepat sekaligus mengulur waktu, melambat saat penting untuk memberi nuansa pribadi atau pengalaman atau perasaan, sehingga seandainya dan ketika nuansa pribadi, pengalaman, atau perasaan itu kembali muncul kemudian dalam buku, mereka akan terasa jauh lebih kuat. Alasan aku menangis saat membaca tentang kematian ayahnya adalah karena Michelle telah menunjukkan sosoknya lebih dari seratus halaman sebelumnya—kegemarannya pada mobil Buick dua pintunya, yang dijuluki the Deuce and a Quarter, yang dibawanya tanpa kata ke bengkel untuk diperbaiki setelah pintunya tergores selagi mobilnya terparkir di permukiman kulit putih; ketabahannya saat dia menanggung rasa sakit akibat penyakit multiple sclerosisnya; caranya menghibur anak-anaknya ketika mereka ingin mengadakan latihan pemadaman kebakaran keluarga yang terperinci. Juga merupakan keputusan untuk melambatkan laju saat memperkenalkan orang bukan dalam peran yang biasa mereka emban, tetapi sebagaimana Michelle merasakannya pada waktu itu—itu sebabnya Donald Trump di tahun 2011 dirujuk sebagai “pembawa acara-realita dan pengembang real estat New York”.

Aksioma di kalangan para penulis fiksi adalah bahwa di akhir sebuah cerita pendek atau novel, ia harus dirasakan oleh pembaca “mengejutkan tetapi tak terelakkan,” dan bukankah masa kepresidenan Obama sungguh mengejutkan tetapi tak terelakkan? Karena intensitas dan kedalaman rasisme Amerika, pemilihan seorang presiden kulit hitam sungguh mengejutkan. Namun karena sosok Barack Obama di masa lalu dan sekarang, kecerdasan dan karisma dan ketenangannya yang tak lazim, ia juga terasa tak terelakkan. Dan bukan saja sosok Barack Obama dahulu dan saat ini terkait secara tak terhindarkan dengan Michelle, meski Michelle memang membuat dirinya tampak memiliki selera hebat dalam memilih pasangan—dan karena itu, secara keseluruhan, bisa dikatakan memiliki pertimbangan baik. Akan tetapi karena, sebagaimana terungkap dalam Becoming, peran Michelle sebagai Ibu Negara terasa aneh tetapi sempurna seperti titik kulminasi dari seluruh pengalamannya di masa lalu: Dia dibesarkan di tengah keluarga Midwestern kelas-pekerja dan secara alamiah mampu terhubung dengan kebanyakan pemilih; dia juga sudah terbiasa dengan latar yang megah dan sering kali didominasi kaum kulit putih; terbiasa diamati, terbiasa direndahkan sekaligus dijunjung sebagai sosok panutan. Dia telah menempuh perjalanan jauh dari akarnya dan bertahan sebagai diri sendiri. Mengingat absurditas yang utama, bahkan kemustahilan, dari posisinya sebagai Ibu Negara—profesi tanpa bayaran yang terkemuka, berat dan kolot, yang semakin berat dalam segala segi bagi dirinya karena dia adalah seorang perintis bagi rasnya—aku tak yakin dia pernah menerima pujian akan betapa cekatan dia menangani peran itu. Sebagian besar orang yang kukenal, khususnya wanita, “menyukai” atau bahkan “mencintai” Michelle Obama. Akan tetapi, hal itu sebagian karena dia membuat peran Ibu Negara terlihat mudah dan menyenangkan. Aku ragu mereka menyadari betapa keras dirinya bekerja.

Bagi sebagian warga Amerika, dia menyebut dirinya dan Barack, “Kami sendiri adalah sebuah provokasi.” Namun mereka berdua telah memutuskan sejak lama “bahwa cara Barack dan aku menjalankan hidup kami akan menunjukkan kepada orang-orang kebenaran tentang diri kami yang sejati.” Itulah yang mereka perbuat di Gedung Putih. Kini—dengan cermat, menyentuh, dan bermartabat—inilah yang telah diperbuat Michelle dalam Becoming.

Sumber: www.vanityfair.com

Lebih menyerupai sebuah novel ketimbang memoar politik, buku sang Ibu Negara mengungkap penulisnya sebagai manusia seutuhnya.

7 Fakta Tentang Michelle Obama Penulis Memoar Terlaris di Dunia

28/02/2019