7 Fakta Tentang Michelle Obama Penulis Memoar Terlaris di Dunia

Dalam memoarnya, Becoming, Michelle Obama menceritakan pengalaman hidupnya hingga menjadi (mantan) perempuan nomor satu di Amerika Serikat. Dari Princeton ke Gedung Putih, berikut tujuh fakta tentang Michelle Obama.

1. Michelle adalah salah satu dari sedikit mahasiswa berkulit hitam di Princeton.

Namun menjadi bagian dari minoritas justru membuatnya berusaha lebih keras. Pada tahun 1981, Michelle memulai masa kuliahnya di Princeton University di usianya yang ketujuh belas. Saat itu, Princeton didominasi oleh pria kulit putih. Karena mahasiswa berkulit hitam hanya sekitar sembilan persen dari total mahasiswa seangkatannya, ia mengaku sering dipandang dengan tatapan aneh. Namun bukannya merasa minder, ia justru memutuskan untuk menunjukkan semua orang bahwa performanya tidak kalah dengan orang-orang berkulit putih yang mendapat privilese.

2. Michelle adalah mentor saat Barack Obama magang di firma hukum.

Saat bekerja di sebuah firma hukum, Michelle diminta untuk menjadi mentor bagi seorang mahasiswa magang yang konon berpenampilan ‘menarik’ dan cukup berbakat. Awalnya ia skeptis, tapi lama-kelamaan Michelle mulai sering memikirkan pria itu. Setelah mencoba menyembunyikan perasaannya selama beberapa lama, Michelle akhirnya mengikuti kata hatinya dan mulai menjalin hubungan dengan mahasiswa magang tersebut yang bernama Barack Obama.

3. Michelle tidak setuju saat Barack terjun ke dunia politik.

Michelle tidak suka politisi dan tidak begitu suka kalau suaminya menjadi seorang politisi. Ia percaya ada cara lain yang lebih baik untuk membuat sebuah perubahan. Meskipun demikian, ia tetap memberi dukungan. “Kalau Barack percaya bahwa dirinya dapat membuat perubahan melalui politik, aku tidak akan menghalanginya.”

4. Pidato Barack pada tahun 2004 mengubah hidupnya selamanya.

Pada tahun 2004, Michelle menitipkan Malia dan Sasha pada ibunya dan pergi ke Boston untuk berada di sisi Barack dalam penyampaian pidato di Democratic National Convention. Ketika suaminya selesai berpidato, khalayak bersorak ramai. Sejak itu, tak hanya kerap dimintai tanda tangan oleh orang banyak, Michelle bahkan sempat diwawancara oleh Oprah!

5. Michelle merasa terhormat sebagai ibu negara, tapi ia tahu hal itu tidaklah mudah.

“Tidak ada panduan tentang bagaimana menjadi perempuan nomor satu di AS, dan tak pernah sekalipun aku menganggap posisi itu sebagai hal yang mudah.” jelasnya. Apalagi, menurut Michelle, sebelumnya tidak pernah ada ‘kulit hitam’ yang mendapat posisi ‘nomor satu’ di AS.

6. Gedung Putih seperti sebuah hotel yang mewah Bagi Michelle.

Menurut Michelle, tinggal di Gedung Putih seperti tinggal di sebuah hotel mewah yang hanya ditinggali oleh satu keluarga. Meskipun ada banyak staf kebersihan di sana, Michelle bersikeras agar putri-putrinya tetap membereskan kasur mereka sendiri.

7. Michelle merasa gugup saat bertemu Ratu Inggris, tapi ternyata mereka cepat akrab!

Pada tahun 2009, Michelle dan Barack menghadiri G20 Summitdi London dan diundang ke Istana Buckingham untuk bertemu Sang Ratu. Saat itu Michelle merasa sangat gugup, tapi ternyata sang Ratu  sangatlah ramah dan bersahaja. Ketika Ratu berkomentar tentang perbedaan tinggi mereka, Michelle menunjuk sepatu ber-hak yang ia pakai dan Sang Ratu langsung berkomentar, “Sepatu seperti ini sangat tidak nyaman, bukan?” Itu bukanlah percakapan antara ratu bermahkota dan ibu negara AS, tapi sebuah percakapan antara dua orang wanita yang paham rasanya tersiksa oleh hak sepatu tinggi! [Rfd/Sumber: BBC UK]

Ras, Pernikahan, dan Sisi Buruk Politik

28/02/2019

Kekuatan yang Bermartabat, Menyentuh, dan Cermat dari karya Michelle Obama Becoming

28/02/2019