Bagaimana Pandemi COVID-19 Mengubah Dunia Penerbitan, Sekarang dan Mungkin Selamanya

Pandemi Covid-19 membawa dampak besar terhadap perekonomian dunia hingga IMF memprediksi adanya resesi global. Semua bidang usaha terdampak, tak terkecuali dengan dunia penerbitan. Tidak termasuk ke dalam sektor usaha yang esensial, penerbit dan toko buku harus menghentikan aktivitasnya sementara selama masa pandemi Covid-19. Banyak penerbit yang harus gulung tikar, namun banyak juga yang justru meraup keuntungan karena mampu beradaptasi dengan metode penerbitan buku yang baru. Pandemi Covid-19 pun memberikan pengaruh yang berbeda baik di luar negeri maupun di dalam negeri.

Di tengah pandemi, banyak penerbit dan toko buku yang harus tutup setelah beberapa bulan hiatus karena tidak sanggup menanggung pengeluaran yang cukup besar tanpa adanya pemasukan sama sekali. Beberapa toko buku di New York sempat berusaha bertahan di tengah pandemi dengan memberlakukan sistem pemesanan buku secara online dan delivery ke rumah para pelanggan. Namun sayangnya keuntungan yang didapatkan bahkan tidak mendekati banyaknya keuntungan pada hari biasa.

 

Baca juga: Memaknai Ramadhan di Tengah Pandemi

 

Hiatusnya para penerbit dan toko buku di tengah pandemi bertolak belakang dengan meningkatnya permintaan e-book. Hal ini disebabkan karena adanya himbauan untuk tetap di rumah yang membuat banyak orang memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca lewat platform digital. Penerbit di AS pun banyak yang mulai beralih menerbitkan e-book, audiobook dan videobook yang lebih mudah diakses secara online. Upaya ini berbuah manis. Michael Tamblyn, CEO Rakuten Kobo (perusahaan penerbit e-book dan audiobook), melaporkan penjualan e-book meningkat hingga melewati angka penjualan yang biasanya hanya dapat dicapai selama libur panjang. Libro.fm, perusahaan penerbit audiobook yang dapat diunduh, juga justru melaporkan rekor penjualan tertinggi mereka di tengah pandemi Covid-19. Apabila penerbit-penerbit kecil/indie seperti Rakuten Kobo dan Libro.fm dapat meraup keuntungan besar di tengah pandemi, maka dapat diperkirakan platform digital besar seperti Apple, Google dan Amazon dapat meraup keuntungan berkali-kali lipat lebih banyak.

Selain membeli e-book, peminjaman e-book juga banyak diminati di AS sejak awal pandemi. OverDrive, aplikasi peminjaman buku online di Amerika Serikat, mencatat peningkatan peminjaman e-book fiksi remaja sebesar 93% dan non-fiksi sebanyak 122% sejak pertengahan Maret. Meningkatnya minat terhadap e-book juga membuat banyak perpustakaan di Amerika Serikat mulai berfokus untuk mengembangkan perpustakaan digital. Fortune mencatat bahwa setidaknya 343.000 orang di Amerika Utara telah mendaftar untuk pembuatan kartu perpustakaan digital sejak awal pandemi. Melihat dari perkembangannya, banyak ahli yang memperkirakan bahwa tren membaca dalam bentuk digital di AS ini akan terus berkembang dan penerbitan buku digital akan jauh lebih diminati kedepannya.

Lantas bagaimana kondisi dunia penerbitan di negara kita? Untuk di Indonesia sendiri, penerbit-penerbit banyak yang gulung tikar karena pandemi Covid-19.  Omzet penjualan buku pun terjun bebas karena toko buku yang menyumbang setidaknya 50% dari pemasukan penerbit harus tutup selama pandemi. Sayangnya, e-book dan penjualan buku secara online tidak terlalu diminati di Indonesia sehingga keuntungan dari penjualan secara daring sulit untuk mengejar jumlah penjualan di masa normal. Lain halnya dengan warga AS yang berbondong-bondong berburu e-book di platform digital resmi, pembajakan buku dan pengunduhan PDF secara ilegal masih menjadi kebiasaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan PDF sharing yang belum terjamah hukum Undang-Undang Hak Cipta.

 

Baca juga: Waspada Covid-19 pada Anak

 

Apa upaya pemerintah untuk menangani krisis industri perbukuan Indonesia? Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sempat membuat program “menulis dari rumah” dan meluncurkan iPusnas, aplikasi perpustakaan digital. Namun sayangnya masih belum ada langkah pemerintah yang dirasakan dampaknya oleh para penerbit. Berbanding terbalik dengan kondisi penerbit di negara-negara lain yang banyak mendapatkan subsidi dari pemerintah, penerbit di Indonesia masih harus kesulitan. Bahkan masih banyak aspek dalam penerbitan yang dikenakan pajak.

Dilansir dari Kumparan, penerbit sekelas Mizan yang telah beroperasi selama 35 tahun harus kehilangan 60 persen pemasukannya dibanding waktu normal di tengah pandemi Covid-19. Untungnya, Mizan masih bisa mempertahankan eksisensinya karena memiliki basis pembaca yang cukup kuat dan telah memiliki pengalaman berpromosi secara daring selama 3 tahun belakangan. Namun hal ini tentu saja tidak dapat dirasakan oleh penerbit-penerbit kecil yang belum memiliki reputasi dan basis pembaca. Penerbit-penerbit ini pun terpaksa tutup di tengah pandemi Covid-19. Apabila ini dibiarkan, jumlah penerbitan per kapita Indonesia yang sudah sangat rendah akan mengakibatkan terkikisnya industri perbukuan Indonesia. Berbeda dengan dunia penerbitan di negara lain yang berubah menjadi lebih baik, pandemi Covid-19 mungkin akan membuat dunia penerbitan di Indonesia runtuh dan berakhir pada Indonesia yang darurat literasi.

Nah, supaya generasi penerus kita nanti tidak kehilangan budaya literasi akibat banyaknya toko buku yang tutup, yuk kita mulai biasakan diri untuk membeli buku. Tentunya yang asli, jangan yang bajakan lho ya!

Ditulis oleh: Nabila Syafira

References

Ironi Penerbit: Tercekik di Tengah Pandemi. Kumparan. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://kumparan.com/kumparanbisnis/ironi-penerbit-tercekik-di-tengah-pandemi-1tWM1g8OpMS.

Maher, J. (2020). Covid-19 Impact Listing: Cancellations, Closings, Policy Changes, and More. Publishersweekly.com. Retrieved 25 August 2020, from https://www.publishersweekly.com/pw/by-topic/industry-news/trade-shows-events/article/82672-covid-19-ongoing-list-of-cancellations.html.

Nawotka, E. (2019). Libro.fm Brings Digital Audio to Indies. PublishersWeekly.com. Retrieved 25 August 2020, from https://www.publishersweekly.com/pw/by-topic/industry-news/audio-books/article/79178-libro-fm-brings-digital-audio-to-indies.html.

Pressman, A. (2020). E-book reading is booming during the coronavirus pandemic. Fortune. Retrieved 25 August 2020, from https://fortune.com/2020/06/18/ebooks-what-to-read-next-coronavirus-books-covid-19/.