War Storm: Parade Wanita-Wanita Tangguh

Belum lama ini, Victoria Aveyard kembali dengan War Storm, buku keempat sekaligus yang terakhir dari seri debutnya, Red Queen. Setelah ratusan halaman penuh dengan intrik dan peperangan, perseteruan antara Kaum Perah dan Kaum Merah pun mencapai puncaknya. Meskipun kebanyakan sekuel cenderung kehilangan fokus cerita, War Storm justru berhasil memberikan impresi sekuat Red Queen dan memberikan akhir cerita yang cukup memuaskan.

Red queen-victoria 01 ed
foto: publisherweeky.com

Melalui narasi yang intens dan penulisan yang detail, Victoria Aveyard mampu menggambarkan sebuah keadaan distopia yang hampir mirip dengan situasi dunia saat ini. Kaum Perak, yang memilih darah perak dan dianugerahi kemampuan super, memiliki kekuasaan atas Kaum Merah yang berdarah merah dan tidak memiliki kemampuan super. Situasi ini terjadi sebelum akhirnya terungkap bahwa ada sebagian dari Kaum Merah yang secara genetis ternyata memiliki kemampuan yang bahkan lebih kuat dari Kaum Perak. Fakta inilah yang kemudian memicu Barisan Merah, sekelompok pejuang revolusi yang bertekad untuk membebaskan Kaum Merah dari penindasan Kaum Perak. Adanya ketimpangan status sosial yang didasarkan pada perbedaan genetis ini sebenarnya merepresentasikan fenomena rasisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Kondisi ini juga bisa dikaitkan pada diskriminasi terhadap kelompok minoritas lainnya, seperti komunitas agama maupun suku.

Selain narasinya yang intens, hal yang sangat berkesan dari War Storm adalah eksistensi sederet karakter wanita yang tangguh. Hal ini sebenarnya sudah kerap ditonjolkan sejak Red Queen, namun sebelumnya hanya berfokus pada Mare Barrow. Dalam War Storm, pembaca bisa mengetahui jalan cerita dari sudut pandang Evangeline Samos. Narasi versi Evangeline ini tentu memiliki daya tarik tersendiri, apalagi mengingat statusnya yang dulu kerap dijadikan ‘pion’ oleh ayahnya. Selain itu, pembaca juga diperkenalkan lebih jauh pada sosok Iris Cygnet sang permaisuri dari kerajaan tetangga dan Farley, salah satu sosok pemimpin Barisan Merah. Sebagai bonus, Victoria bahkan memberikan porsi tersendiri untuk Anna, nenek sang raja yang tak pernah lelah berjuang di balik layar.

Meskipun memiliki pandangan politik yang berbeda dan berjuang di sisi yang berlawanan, mereka tidak merasa gengsi untuk mengakui kehebatan satu sama lain. Evangeline, misalnya, pernah memuji Mare yang berkali-kali mampu mengecewakan kedua pangeran Calore. Farley, yang punya posisi penting di antara Barisan Merah pun pernah menyatakan rasa bangganya terhadap Mare. Wanita-wanita tangguh ini bertarung untuk memperjuangkan prinsip yang mereka percaya, namun hal itu tidak membuat mereka buta terhadap kelebihan lawannya. Sambil terus berusaha saling mengalahkan, mereka tetap dapat menghormati ‘kekuatan’ dan “kemampuan” lawan.

Membaca War Storm memberi kepuasan tersendiri, terutama setelah melihat sederet karakter wanita tangguh yang memiliki harapan, mimpi, kekuatan, dan kelemahan masing-masing. Victoria Aveyard bukan sekadar menciptakan karakter wanita sebagai tokoh figuran, tapi juga sekaligus menyuarakan tekad para wanita. Hal inilah yang memperkaya narasi buku ini secara keseluruhan dan membuat War Storm patut dinobatkan sebagai buku terakhir sebuah seri yang berkesan di hati para penggemar distopia. [Rifda/Sumber: The Harvard Crimson]

5 Fakta The Shawshank Redemption yang Tak Banyak Diketahui Orang

11/09/2019

Sukses dengan Divergent, Pouya Shahbazian Akan Mengadaptasi Caraval, Red Queen, dan The Selection Menjadi Film

11/09/2019