Jalan Jihad Sang Dokter

Nama dan rekam jejaknya sangat identik dengan aksi kemanusiaan. Selama belasan tahun, ia membaktikan dirinya di daerah bencana dan konflik, baik di dalam maupun luar negeri  bersama MER-C, sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengawali kariernya sebagai dokter di Puskesmas Lubuk Buaya, Padang. Setelah itu pada tahun 1999, Dokter Jose memulai aksi kemanusiaannya pertama kali di daerah Tual, Ambon, Maluku. Setelah itu tak terhitung tempat yang merasakan kontribusi dokter yang lahir pada 11 Mei 1963 ini. Dari Aceh, Mindanao, Irak, Afghanistan, Kashmir, hingga Palestina dan Myanmar.

Dalam aksi-aksi kemanusiaan sering kali dirinya menantang bahaya. Saat bersama tim MER-C berangkat ke Jalur Gaza (Palestina) misalnya, mereka harus menandatangani surat “kontrak kematian”. Sering kali Dokter Jose juga mengalami keterbatasan peralatan saat menangani pasien. Di Maluku misalnya, dia harus mengamputasi kaki dengan gergaji kayu. Sementara di Afghanistan, dia sempat kehabisan jarum suntik.

Bagaimana dokter satu ini seperti tak punya rasa takut? Seperti yang dilansir oleh Republika (12/08/2011), menurut Dokter Jose kuncinya adalah melakukan sesuatu dengan ikhlas. Keikhlasan itu juga yang membuat banyak pihak membantu aksi-aksi kemanusiaan Dokter Jose bersama MER-C. Di dalam buku memoarnya, Jalan Jihad Sang Dokter, Dokter yang memiliki tiga anak ini menuturkan bantuan-bantuan yang sering kali tak disangka dari berbagai pihak.

Baca: Tersentuh Panggilan Jihad (Cuplikan Bab 1 Buku Jalan Jihad Sang Dokter)

Dokter Jose pula yang menginisisasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Seperti dikutip dari Facebook Muhammad Syafi’I Antonio, Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah rumah sakit yang megah dan lengkap. Yang dilengkapi satu lantai underground yang didesain khusus untuk mengevakuasi korban saat ada pengeboman di dua lantai atasnya.

Yang menarik, pada saat pembangunannya ada puluhan tenaga konstruksi Indonesia yang dibawa Dokter Joserizal terkepung serangan Zinois Israel terkepung di dalam rumah sakit yang tengah dibangun. Bukannya meminta pulang ke Indonesia, para pekerja tersebut justru bertekad siap mati syahid demi Palestina, demi Al-Aqsha, dan demi kemanusian yang tertindas di bumi para nabi.

Hari ini, seorang manusia yang memanusiakan manusia lainnya, yang tak kenal lelah dan takut melakukan berbagai aksi kemanusiaan, kembali kepada Sang Pencipta.

Selamat jalan, dr. Joserizal Jurnalis. Terima kasih untuk jihadmu. Semoga Allah melapangkan dan menerangi kuburmu. Menempatkanmu di jannah-Nya. [Ncn/Rdy]