Krisis tidak memilih siapa yang memimpin. Dia hanya menyisakan sedikit ruang untuk mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Di titik itulah terlihat jelas siapa yang benar-benar memimpin, dan siapa yang sekadar memegang jabatan. Inilah gagasan utama yang diangkat Rhenald Kasali dalam buku terbarunya, Resilience Code: Mengapa Sebagian Pemimpin Tetap Bertahan Saat yang Lain Kehilangan Arah.
Rhenald Kasali menelusuri kisah inspiratif para pemimpin, baik di tingkat dunia maupun nasional—seperti Jacinda Ardern, Corazon Aquino, Indira Gandhi, Jane Goodall, hingga Ipuk Fiestiandani—yang berhasil menghadapi krisis dan mengubah tekanan menjadi momentum.
Ketangguhan Bukan Bakat, tetapi Kemampuan yang Dilatih
Ketangguhan kepemimpinan (leadership resilience) sering disalahpahami sebagai sifat bawaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang “tahan banting”. Padahal, ketangguhan lebih tepat dipahami sebagai keterampilan untuk beradaptasi dan tetap berkembang di tengah tekanan, bukan sesuatu yang dimiliki sejak lahir. Kemampuan ini mencakup pola pikir positif, kecerdasan emosi, dan strategi mengelola tekanan secara efektif. Tiga hal ini yang membedakan pemimpin yang mampu menjaga arah tim dari mereka yang justru kehilangan fokus saat krisis datang.
Jacinda Ardern: Empati sebagai Strategi Krisis
Salah satu tokoh yang dibahas dalam Resilience Code adalah mantan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Sepanjang masa jabatannya, dia menghadapi rangkaian krisis besar secara beruntun, seperti serangan teror Christchurch, letusan gunung berapi, resesi terparah dalam 30 tahun terakhir, hingga pandemi Covid-19.
Bentuk kepemimpinan yang berempati ini terlihat nyata saat tragedi penembakan masjid di Christchurch pada Maret 2019. Ardern menolak menyebut nama pelaku untuk memutus panggung kepopuleran sang teroris, dan memilih hadir langsung menemui komunitas Muslim dengan mengenakan hijab sebagai bentuk penghormatan. Pendekatan kemanusiaannya tak berhenti pada gesture emosional; dalam kurun waktu kurang dari sebulan, dia melarang penjualan senjata api semi-otomatis jenis serbu di seluruh penjuru negeri. Sebuah tindakan tegas yang didasari atas rasa duka mendalam bagi para korban.
Responsnya terhadap pandemi juga dinilai sebagai contoh dari kepemimpinan krisis berkat respons dini yang tegas, berempati, dan dipadukan dengan komunikasi yang jernih. Gaya kepemimpinan yang mengutamakan manusia membuat aturan yang dibuat bukan sekadar instruksi, tetapi sesuatu yang dipikirkan dengan hati. Andern menjadi salah satu bukti bahwa ketangguhan tidak melulu soal ketegasan, tapi juga kehadiran emosional bagi rakyatnya.
Ipuk Fiestiandani: Ketangguhan dari Daerah
Menariknya, Resilience Code tidak hanya menyorot panggung dunia. Rhenald Kasali juga mengangkat kisah Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, sebagai contoh bahwa ketangguhan kepemimpinan bisa lahir dari level daerah. Di tingkat lokal, kepemimpinan Ipuk Fiestiandani memberi sudut pandang yang sangat relevan bagi konteks Indonesia.
Ketangguhan ini dibuktikan melalui program inovatif “Bunga Desa” (Bupati Ngantor di Desa) yang digulirkan sejak awal menjabat di tengah puncak pandemi Covid-19. Alih-alih memimpin dari balik meja dinas, Ipuk memboyong pelayanan publik langsung ke pelosok desa untuk mendengar keluhan warga, memotong birokrasi, serta mempercepat pemulihan ekonomi lokal melalui skema UMKM Naik Kelas dan bantuan jaring pengaman sosial.
Menghadapi tantangan sosio-ekonomi pascapandemi dan disrupsi di daerah, Ipuk menunjukkan bahwa resilience adalah tentang bagaimana tetap bergerak ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Ketangguhan di tingkat daerah lahir dari kemampuan mendengar, beradaptasi dengan kebutuhan warga, serta merawat koneksi yang kuat dengan komunitas. Ketika seorang pemimpin mampu membingkai ulang tantangan (reframing) menjadi peluang inovasi, daerah yang dipimpinnya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Baca juga: Menemukan Kembali Thariqah ‘Alawiyah: Jalan Spiritualitas Modern yang Relevan untuk Semua Generasi
Pelajaran untuk Pemimpin Masa Kini
Dari Jacinda Ardern hingga Ipuk Fiestiandani kita belajar bahwa ketangguhan bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang tetap mampu menemukan arah ketika yang lain kehilangan kompasnya. Resilience Code mengajak setiap pemimpin—baik di panggung nasional maupun ruang kerja sehari-hari—untuk melatih ketangguhan ini. Sebab, kepemimpinan sejati menuntut kecerdasan emosional, empati, dan keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.
Ingin mendalami lebih lanjut bagaimana para pemimpin mengubah krisis menjadi pijakan masa depan? Temukan panduan lengkap dan narasi inspiratifnya dalam buku Resilience Code: Mengapa Sebagian Pemimpin Tetap Bertahan Saat yang Lain Kehilangan Arah.
