Self Driving: Saatnya Berhenti Jadi Penumpang dalam Hidup Sendiri
Nourans, pernahkah merasa hidup berjalan begitu cepat, tetapi arah yang dituju justru terasa kabur? Notifikasi datang bertubi-tubi, informasi berganti setiap menit, teknologi membuat banyak hal menjadi mudah, tetapi fokus kita justru sering tercecer. Dalam wawancara tentang buku Self Driving, Prof. Rhenald Kasali menyebut salah satu masalah terbesar anak muda hari ini adalah kurang fokus. Mereka dibesarkan dalam peradaban teknologi, tetapi sering kali “melompat” dari satu hal ke hal lain tanpa benar-benar membangun kekuatan pikiran dan daya juang diri sendiri.
Di titik inilah gagasan self driving menjadi relevan. Bukan sekadar tentang motivasi, buku Self Driving mengajak pembaca untuk mengambil alih kemudi hidupnya sendiri: berpikir mandiri, berani mencoba, mampu mengendalikan diri, dan tidak terus-menerus bergantung pada “otak” orang lain, termasuk teknologi, orang tua, guru, atau lingkungan sekitar. Dalam edisi republish-nya, buku ini kembali hadir sebagai bacaan pengembangan diri yang mendorong pembaca membangun mindset driver, bukan mentalitas passenger.
Apa Itu Mindset Driver?
Dalam Self Driving, Rhenald Kasali menggambarkan driver sebagai orang yang berpikir. Orang yang berpikir akan lebih kreatif, berani mencoba hal baru, kritis terhadap fakta dan informasi, serta tidak mudah terbelenggu mitos. Seorang driver tahu ke mana ia akan pergi, memahami jalan yang ditempuh, dan tidak takut tersesat karena sadar bahwa tersesat kadang menjadi bagian dari menemukan jalan baru.
Sebaliknya, mentalitas passenger membuat seseorang cenderung menunggu, bergantung, dan membiarkan orang lain menentukan arah. Ia mungkin nyaman, tetapi tidak benar-benar memegang kendali. Rhenald Kasali menegaskan bahwa untuk menjadi driver, kitalah yang pertama-tama harus menentukan masa depan hidup sendiri: apakah ingin tetap terperangkap sebagai penumpang dengan segala masalahnya, atau keluar dengan menjadi pemimpin bagi diri sendiri.
Karena itu, mindset driver bukan hanya soal ambisi untuk maju, melainkan keberanian untuk memakai pikiran sendiri. Dalam wawancara, Rhenald menyoroti bahwa banyak orang hari ini hidup dengan “otak” orang lain: terlalu bergantung pada AI, orang tua, guru, atau lingkungan sekitar. Padahal, berjuang dengan kemampuan sendiri penting untuk membuat seseorang lebih luas, lebih cerdas, lebih aktif, dan lebih mampu mengendalikan diri.
Baca juga: Jadi Pengemudi dalam Hidupmu Sendiri: Waktunya Berhenti Duduk di Kursi Penumpang
Mentalitas Driver Dimulai dari Berpikir Sendiri
Salah satu bagian menarik dari wawancara Rhenald Kasali adalah kritiknya terhadap kebiasaan “tidak memakai otak sendiri”. Ia menyebut, hari ini banyak orang mudah bergantung pada AI, orang tua, guru, atau pihak lain. Saat ada masalah, sebagian orang lebih cepat memviralkan sesuatu daripada berusaha memahami, menghadapi, dan menyelesaikannya dengan kemampuan sendiri.
Tentu, teknologi bukan musuh. AI, mesin pencari, dan media sosial dapat menjadi alat bantu yang luar biasa. Namun, masalah muncul ketika alat bantu berubah menjadi pengganti daya pikir. Nourans, hidup yang dikemudikan orang lain mungkin terasa lebih mudah pada awalnya, tetapi lama-kelamaan kita kehilangan otot mental: keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca situasi, dan ketangguhan menghadapi konsekuensi.
Rhenald menekankan bahwa berjuang dengan kemampuan sendiri membuat seseorang menjadi lebih luas, lebih cerdas, lebih aktif, dan lebih mampu mengendalikan diri. Inilah inti dari transformasi diri: bukan hanya menjadi lebih pintar, melainkan menjadi pribadi yang mampu membawa diri menuju tujuan yang lebih baik.
Fokus, Daya Juang, dan Otot Mental Anak Muda
Dalam wawancara tersebut, Rhenald juga menyoroti pentingnya membangun “otot” selain pikiran. Ia menyebut bahwa anak muda sekarang bisa saja cerdas, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik, dan sekolah di tempat bagus, tetapi kurang terlatih secara mental dan fisik: jarang mengeksplorasi alam, jarang berjalan sendiri, kurang berani mendatangi orang, dan kurang terbiasa mengelola rasa percaya diri.
Pernyataan ini penting karena fokus dan pengendalian diri tidak muncul begitu saja. Riset tentang fungsi eksekutif menunjukkan bahwa kemampuan seperti mengingat tujuan, mengendalikan impuls, dan mengalihkan perhatian secara tepat berkaitan erat dengan regulasi diri. (ScienceDirect) Dalam konteks dunia digital, penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi, kecemasan digital, dan kebiasaan multitasking dapat berkaitan dengan performa akademik serta cara seseorang mengelola perhatian. (PMC)
Artinya, menjadi driver bukan sekadar berkata, “Saya mau berubah.” Menjadi driver berarti melatih diri setiap hari: menyelesaikan tugas sampai tuntas, mengelola distraksi, berani menghadapi orang baru, tidak mudah menyerah saat tersesat, dan belajar mengambil keputusan tanpa selalu menunggu diselamatkan.
Belajar dari Pengalaman Tersesat
Salah satu kisah menarik yang dibagikan Rhenald Kasali adalah ketika ia membawa mahasiswa ke luar negeri agar mereka melihat dunia. Awalnya, perjalanan dilakukan bersama-sama. Namun, setelah mendapat masukan dari Susi Pudjiastuti, ia mulai mengubah pendekatan: mahasiswa pergi dalam kelompok kecil, lalu lama-kelamaan satu orang ke satu negara, bahkan harus mengalami tersesat. Bagi Rhenald, tersesat membuat orang mau berpikir.
Kisah ini kuat sekali, Nourans. Kadang, kita terlalu takut salah jalan. Padahal, dalam hidup, tidak semua peta tersedia sejak awal. Ada pengalaman yang hanya bisa dipahami saat kita turun langsung ke jalan, bertemu hambatan, bertanya, mencoba lagi, lalu menemukan rute baru. Inilah mentalitas driver: tidak panik ketika rencana berubah, tidak langsung menyerah ketika jalan buntu, dan tidak malu belajar dari pengalaman.
Baca juga: Mar’ie Muhammad: Simbol Integritas yang Tak Pernah Pudar
Self Driving sebagai Buku Transformasi Diri
Buku Self Driving edisi republish terbit pada Desember 2024 dengan tampilan baru yang lebih segar, cover dan layout baru, latihan-latihan untuk membangun mentalitas driver, serta QR code menuju video YouTube Rhenald Kasali sesuai tema yang relevan. Buku ini ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, tokoh yang dikenal luas dalam bidang perubahan, manajemen, dan pengembangan diri.
Self Driving telah dicetak ulang lebih dari 25 kali dan menginspirasi banyak kaum muda serta pemimpin dalam melakukan perubahan mindset. Buku ini masuk kategori pengembangan diri, berjumlah 302 halaman, dan ditujukan untuk pembaca umum, mahasiswa, pengusaha, pendidik, serta siapa pun yang ingin membenahi diri dan menemukan tujuan hidup.
Keunggulan lain dari buku ini adalah gaya penulisannya yang mengalir dan mudah dibaca. Pembaca tidak hanya diajak memahami konsep driver dan passenger, tetapi juga dilatih untuk mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nourans, hidup memang tidak selalu memberi kita jalan lurus. Ada tikungan, jalan rusak, kemacetan, bahkan momen ketika kita benar-benar tersesat. Namun, seperti pesan utama Self Driving, masa depan tidak seharusnya hanya kita titipkan pada orang lain. Kita perlu belajar memegang kemudi: berpikir, memilih, bergerak, dan bertanggung jawab.
Yuk, mulai bangun mindset driver dari hal kecil hari ini. Latih fokus, gunakan teknologi sebagai alat bantu—bukan pengganti pikiran—dan beranikan diri mengambil keputusan. Untuk memahami lebih dalam gagasan Rhenald Kasali tentang mentalitas driver dan transformasi diri, temukan buku Self Driving terbitan Noura Publishing di nourabooks.co.id. (Noura Books)