TUHAN ITU DIKENALI, BUKAN DIBELA

Muslim Itu Penyebar Kedamaian

karya Emha Ainun Nadjib

Tentang Buku

Buku ini merupakan kritik lembut terhadap fanatisme dan formalisme agama.

Pembaca diajak untuk tidak hanya beriman karena kebiasaan, tetapi memahami alasan di balik keimanan, sehingga melahirkan hubungan yang personal dengan Tuhan.

Cocok untuk Anda yang ingin menemukan kembali makna iman yang lembut, membebaskan, dan penuh cinta, seperti cara Cak Nun menuturkannya.

Tuhan Itu Dikenali Bukan Dibela

Keunggulan

Keunggulan Buku Tuhan Itu Dikenali Bukan Dibela
  • Buku ini memadukan konsep-konsep agama dan budaya sehingga pembaca mendapatkan cara beragama yang lebih lentur dan toleran.
  • Disajikan dengan gaya bahasa yang relatif sederhana dengan contoh-contoh yang mudah dipahami.
  • Buku ini mengangkat tema-tema mengenal Tuhan, menghargai perbedaan, dan Islam yang penuh rahmat.
  • Penulis mengingatkan pembaca agar mengerti tentang segala yang diucapkan dan dilakukan.
  • Penulis mengajak pembaca merenungkan tentang waktu, khususnya dalam Surah Al-‘Ashr, dari perspektif teologis, fisika modern, hingga spiritualitas Jawa.
  • Membahas tentang hakikat perjalanan hidup manusia dari penciptaan hingga tujuan akhir, makna ibadah, dan makna kasih Allah yang hadir melalui manusia lain.

Blurb

Kita hidup pada zaman ketika nama Tuhan sering digunakan untuk memenangkan argumen, melegitimasi amarah, bahkan membenarkan kekerasan. Tapi, benarkah kita sedang membela Tuhan? Atau, justru membela ego kita sendiri?

“Hidup ini bukan lomba panjat pinang duniawi. Bukan siapa paling kaya, paling terkenal, paling viral. Tapi, siapa yang paling sadar bahwa setiap langkahnya adalah tanggapan atas undangan Tuhan. Hidup ini bukan seberapa jauh Anda lari, tapi seberapa dalam Anda mengerti,” demikian kata penulis dalam buku ini.

Emha Ainun Nadjib juga mengajak kita menengok kembali hakikat iman dan keberagamaan. Serta mempertanyakan kebiasaan kita yang sering kali terlalu mudah bicara atas nama Tuhan, tapi enggan berlama-lama duduk diri di hadapan-Nya. Buku ini menelusuri bagaimana manusia beriman, mengenal, dan memahami Tuhan secara jujur melalui perjalanan batin dan akal, bukan secara teoretis. Dan, menolak cara kita beragama yang sering kali hanya sebatas suara, tanpa menyentuh rasa.

Tentang Penulis

Foto Emha Ainun Nadjib

Muhammad Ainun Nadjib, atau Cak Nun, lahir di Jombang pada 27 Mei 1953. Cak Nun dikenal sebagai intelektual, seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menyebarkan gagasannya lewat tulisan dan forum sosial-keagamaan.

Setelah menempuh pendidikan di Pondok Gontor dan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, dia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UGM sebelum berhenti di semester satu.

Di Yogyakarta, ia belajar sastra pada Umbu Landu Paranggi yang sangat memengaruhi pemikiran dan spiritualitasnya. Cak Nun juga aktif di kancah internasional, seperti mengikuti lokakarya dan festival di Filipina, Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman. Dia juga pernah terlibat dalam film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011).

Foto Emha Ainun Nadjib