karya Emha Ainun Nadjib
Buku ini merupakan kritik lembut terhadap fanatisme dan formalisme agama.
Pembaca diajak untuk tidak hanya beriman karena kebiasaan, tetapi memahami alasan di balik keimanan, sehingga melahirkan hubungan yang personal dengan Tuhan.
Cocok untuk Anda yang ingin menemukan kembali makna iman yang lembut, membebaskan, dan penuh cinta, seperti cara Cak Nun menuturkannya.
Kita hidup pada zaman ketika nama Tuhan sering digunakan untuk memenangkan argumen, melegitimasi amarah, bahkan membenarkan kekerasan. Tapi, benarkah kita sedang membela Tuhan? Atau, justru membela ego kita sendiri?
“Hidup ini bukan lomba panjat pinang duniawi. Bukan siapa paling kaya, paling terkenal, paling viral. Tapi, siapa yang paling sadar bahwa setiap langkahnya adalah tanggapan atas undangan Tuhan. Hidup ini bukan seberapa jauh Anda lari, tapi seberapa dalam Anda mengerti,” demikian kata penulis dalam buku ini.
Emha Ainun Nadjib juga mengajak kita menengok kembali hakikat iman dan keberagamaan. Serta mempertanyakan kebiasaan kita yang sering kali terlalu mudah bicara atas nama Tuhan, tapi enggan berlama-lama duduk diri di hadapan-Nya. Buku ini menelusuri bagaimana manusia beriman, mengenal, dan memahami Tuhan secara jujur melalui perjalanan batin dan akal, bukan secara teoretis. Dan, menolak cara kita beragama yang sering kali hanya sebatas suara, tanpa menyentuh rasa.
Muhammad Ainun Nadjib, atau Cak Nun, lahir di Jombang pada 27 Mei 1953. Cak Nun dikenal sebagai intelektual, seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menyebarkan gagasannya lewat tulisan dan forum sosial-keagamaan.
Setelah menempuh pendidikan di Pondok Gontor dan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, dia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UGM sebelum berhenti di semester satu.
Di Yogyakarta, ia belajar sastra pada Umbu Landu Paranggi yang sangat memengaruhi pemikiran dan spiritualitasnya. Cak Nun juga aktif di kancah internasional, seperti mengikuti lokakarya dan festival di Filipina, Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman. Dia juga pernah terlibat dalam film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011).