loader image
Sisi Lain Dewa-Dewi Yunani yang Jarang Terungkap

Sisi Lain Dewa-Dewi Yunani yang Jarang Terungkap

Ditulis oleh ,

Yuk, bagikan artikel ini!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on email
Artikel-Sisi Lain Dewa-Dewi Yunani yang Jarang Terungkap

Mitologi Yunani umumnya berpusat pada 12 (dua belas) olympiansyakni dewa-dewi besar penghuni Gunung Olimpus. Namun di antara begitu banyak kisah dewa-dewi Yunani, yang kerap diceritakan hanyalah kisah-kisah besar yang melegenda dan hal itu memunculkan stereotip tertentu terhadap dewa-dewi. Padahal seperti halnya manusia, dewa-dewi punya sisi lain yang jarang terungkap. Berikut adalah lima hal tentang dewa-dewi Yunani yang tidak banyak diketahui orang:

1. Dewa-Dewi Olimpia Bukan Makhluk Abadi yang Pertama

Yang pertama terbesit dalam pikiran kebanyakan orang ketika membahas Mitologi Yunani adalah deretan nama Dewa-Dewi Olimpia. Padahal bangsa Yunani kuno percaya bahwa jauh sebelum Dewa-Dewi Olimpia berkuasa, sudah terdapat dewa-dewi lain yang ‘bertugas’ ‘mengatur’ alam semesta.

Berawal dari Chaos, bangsa Yunani kuno percaya akan keberadaan dewa-dewi kuno seperti Gaia, Eros, Tartarus, Nyx, Erebos, Uranus, dan yang lainnya. Dari Gaia sang Dewi Bumi dan Uranus sang Dewa Langit, lahirlah 12 (dua belas) Titan: Okeanos, Hiperion, Koios, Kronos, Krios Iapetos, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rhea, dan Themis. Selanjutnya, dari Kronos dan Rhea terlahir enam dewa-dewi yang kemudian menggulingkan Kronos dan mengakhiri kekuasaan Bangsa Titan, yaitu Hestia, Demeter, Hera, Hades, Poseidon, dan Zeus.

2. Hades, Sang Penguasa Dunia Bawah, Tidak Termasuk Olympians

Meskipun dikenal sebagai kakak dari Poseidon dan Zeus, Hades tidak termasuk dalam 12 dewa-dewi penghuni Gunung Olimpia. Berbeda dengan kedua saudara laki-lakinya yang mengatur urusan di atas permukaan (Poseidon di laut dan Zeus di langit), Hades tinggal dan mengatur berbagai urusan di dunia bawah. Karena posisinya itu, Hades seringkali dikaitkan dengan kegelapan dan kejahatan. Padahal posisi tersebut bukanlah pilihan Hades, tapi merupakan hasil dari undian pembagian wilayah kekuasaan tiga dewa terkuat.

Hades adalah penguasa dunia bawah. Ia memastikan tidak ada jiwa yang kabur ataupun dicuri dari dunia bawah. Saking sibuknya dengan urusan dunia bawah, Hades hampir tidak punya waktu untuk memperhatikan ‘dunia atas’. Hal inilah yang membuatnya juga dikenal sebagai pribadi yang dingin, padahal sebenarnya tidak demikian. Hades dikisahkan terenyuh dengan perjuangan Orpheus untuk kekasihnya, Eurydice, dan mengizinkan mereka kembali ke dunia atas –dengan syarat Orpheus harus berjalan tanpa menoleh ke belakang (namun sayangnya, Orpheus gagal). Karena itulah menurut Socrates, nama Hades (Aides) bukanlah berasal dari a-idein yang berarti ‘tidak terlihat’, melainkan dari ‘pengetahuannya (eidenai) akan hal-hal yang baik’.

Baca juga: Berfantasi di Negeri Amburadul

3. Aphrodite, Sang Dewi Kecantikan, Bukanlah yang Terlemah

Sebagai dewi kecantikan, Aphrodite seringkali dianggap sebagai sosok yang lemah dan melankolis. Padahal dengan posisinya sebagai dewi cinta dan kecantikan, Aphrodite memiliki sisi kuatnya tersendiri. Kekuatan Aphrodite ini berkaitan dengan hal yang membuatnya populer –selain keindahan tubuhnya, yaitu: perselingkuhannya dengan Ares, sang Dewa Perang. Dibandingkan dengan suaminya (Hephaestus), Ares punya hubungan yang jauh lebih intim dengan Aphrodite. Dari hubungannya dengan Ares, Aphrodite memiliki enam anak, yaitu Eros, Anteros, Phobos, Deimos, Harmonia, dan Adrestia. Konon karena kedekatan Ares dengan Aphrodite, peperangan kerap dipicu oleh perselisihan cinta dan kecantikan wanita.

Keterlibatan Aphrodite dalam peperangan juga tampak dalam aspek-aspek lain, misalnya pada patung dan lukisan Aphrodite di beberapa kota pelabuhan yang digambarkan berpakaian perang dan dilengkapi senjata. Tidak hanya itu, ada pula sumber yang menulis tentang para hakim dan politisi yang menyembah Aphrodite demi keharmonisan hubungan mereka dengan para klien, pedagang dan pelaut yang berdoa kepada Aphrodite untuk kelancaran pelayaran, serta masyarakat yang menganggap Aphrodite sebagai dewi perlindungan bagi angkatan laut dan simbol penegakan hukum perdata.

4. Ares, Sang Dewa Perang, Tidak Selalu Menang dalam Peperangan

Di balik ketenarannya sebagai dewa perang, Ares sebenarnya cukup pengecut –dan kedua orang tuanya, Zeus dan Hera, membenci sifatnya yang satu itu. Keterlibatannya dalam peperangan tak jarang dibandingkan dengan peran saudarinya, Athena. Kehadiran Ares biasanya dikaitkan dengan pertumpahan darah, sedangkan kehadiran Athena justru dikaitkan dengan pertarungan yang adil. Jika Ares datang untuk memicu peperangan, Athena-lah yang bertugas mengawasi dan mengakhiri peperangan dengan strategi pertahanan yang cerdik.

Ares bahkan dikisahkan beberapa kali menaruh hormat kepada Athena dalam berbagai kesempatan, terutama tiap kali Athena menyelamatkannya dari murka Zeus sang ayah. Dalam epos The Iliad, Ares diceritakan mundur dari peperangan setiap kali Athena membantu pihak musuh. Ares selalu menang dalam peperangan saat Athena ada di pihaknya, dan selalu kalah saat melawan Athena di medan perang.

Baca juga: 6 Cara Memilih Pasangan Hidup yang Tepat

5. Apollo, sang Dewa Musik, Ternyata Punya Sisi Gelap

Kalau Gunung Olimpus adalah sebuah universitas, Apollo adalah bintang di kampus itu. Sebagai Dewa Musik dan Panahan, Apollo adalah profil multitalenta yang unggul di bidang seni dan olahraga. Seakan tidak cukup dengan hal-hal ‘ekstrakurikuler’, Apollo juga punya nilai plus di bidang ‘eksakta’ dengan kemampuannya mengobati dan menyembuhkan penyakit. Seolah tidak cukup ‘bersinar’ dengan talentanya, Apollo juga kerap dideskripsikan sebagai sosok yang tampak ‘bersinar’ dengan rambut keemasan dan kereta mataharinya.

Namun siapa sangka di balik sosoknya yang tampak sempurna, Apollo ternyata punya sisi gelap yang kejam dan mengerikan! Meskipun ia adalah dewa pengobatan dan penyembuhan, Apollo tidak ragu menyebarkan wabah penyakit atau menghabiskan nyawa siapapun yang menyakiti keluarganya. Dengan bantuan Artemis, Apollo membunuh keempat belas anak dari seorang wanita bernama Niobe yang menyombongkan jumlah anaknya di hadapan Leto sang ibunda. Sebagai dewa panahan, ia juga pernah membantu Paris memanah tumit Achilles yang telah membunuh putranya, Troilus.

Selain kelima hal di atas, masih banyak sisi lain dewa-dewi Yunani yang jarang diceritakan. Salah satu yang paling mengejutkan adalah tentang Apollo, Sosok Dewa dengan Dua Sisi Mata Uang. Tunggu di artikel berikutnya ya! [Rfd]