Senar Kehidupan

Oleh: Gus Nadir

Agama itu memberi ketenangan dan kedamaian seperti harmonisasi gesekan biola. Begitu konon K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berpesan kepada para santrinya, sambil kemudian beliau menggesek biolanya. Sejatinya, bukan saja agama, tapi kehidupan kita ini juga seperti gesekan biola. Namun, bagaimana kalau satu demi satu senar biola kita putus?

Niccolo Paganini, seorang pemain biola terkenal di abad 19, pernah mengalaminya saat konser di hadapan para pemujanya yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia terus memainkan lagunya. Rupanya kejutan tidak berhenti hanya sampai di situ, senar biolanya yang lain pun putus satu per satu hingga hanya meninggalkan satu senar. Tetapi dia tetap memainkan biolanya. Dengan mata berbinar dia berteriak, “Paganini dengan satu senar.” Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

Kawan, hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekhawatiran, kekecewaan, dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, sering kali kita mencurahkan terlalu banyak waktu berkonsentrasi pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang tidak dapat kita ubah.

Apakah Anda masih memikirkan senar-senar yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya sudah tidak indah lagi? Jika demikian, jangan melihat ke belakang, maju terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkan itu dengan indah. Balaslah cemoohan penonton dengan prestasi dan apresiasi. Jawablah keraguan orang lain dengan keindahan pesona gesekan senar biolamu yang tersisa. Saat kita mampu berdamai dengan diri sendiri, komentar dan cemoohan orang lain menjadi tidak penting untuk didengarkan. Semesta berdamai![]

Sukses Menaklukkan

27/03/2020