loader image

Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

“Kita mesti kembali kepada kemanusiaan kita agar keberagamaan kita dapat diandalkan.”

Bukan hanya tertuju pada kaum Muslim, buku ini berusaha menggugah umat beragama dan umat manusia secara keseluruhan. Melalui buku inilah, Habib Ali al-Jufri menekankan bahwa keberagamaan tidak akan punya makna jika dijalani dengan mengabaikan kemanusiaan. Berupa kumpulan tulisan yang disajikan dengan gaya ringan dan populer, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan menyajikan pemikiran dan perenungan Habib Ali al-Jufri menanggapi berbagai isu. Pandangan tradisi Islam dan pengalaman pribadi yang melandasi penulisannya, menjadikan buku ini memiliki perspektif yang luas dan relevan melampaui masanya.

Habib Ali al-Jufri

Habib Ali ibn Zainal Abidin Abdurrahman al-Jufri atau yang dikenal dengan Habib Ali al-Jufri lahir di Jeddah, Arab Saudi, pada Jumat 16 April 1971 M atau 20 Safar 1391 H. Habib Ali belajar ilmu-ilmu keislaman (Al-Quran, hadis, fiqih, tasawuf) sejak usia belia. Beliau berguru kepada banyak syaikh besar seperti Habib Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Abu Bakr al-Masyhur al-Adni, Habib Umar bin Hafizh, dan lain-lain. Saat ini, beliau dikenal sebagai ahli tasawuf dan fiqih mazhab Syafi‘i.

Lihat Selengkapnya

Sebagai dai, beliau telah berdakwah ke berbagai negara di Amerika, Afrika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Beliau juga memberi kuliah dan berceramah di beberapa kampus dan lembaga di Eropa dan Amerika, antara lain Santa Clara University, San Diego University, University of Miami, University of Southern California, S.O.A.S London, Wembley Conference Centre London, House of Lords London.

Habib Ali juga aktif terlibat dalam konferensi-konferensi keislaman tingkat dunia, antara lain Conference on A Common Word di London and Cambridge (12-15 Oktober 2008), Conference on A Common Word di Yale University bekerja sama dengan Princeton University dan Georgetown University (24-31 Juli 2008), konferensi tahunan ke-11 tentang Dialogue and Understanding di Paris (2006), forum tahunan ke-7 tentang Quran sebagai Ajaran dan Jalan Hidup di Frankfurt, Jerman (2005), simposium tentang Islamic Unity di Damaskus (2004), dan konferensi tentang Unity for the Sake of Peace di Sri Lanka (2003).

Beliau adalah Direktur Utama Yayasan Thaba (sejak 2005). Sejak 1997 beliau menjadi dosen tamu di Dar al-Mustafa for Islamic Studies di Tarim, Yaman Selatan. Beliau juga anggota Dewan Direksi Dar al-Mustafa for Islamic Studies di Tarim, sejak 2003. Selain itu beliau juga anggota Dewan Pengawas Akademi Eropa untuk Budaya Islam dan Sains di Brussels, Belgia sejak 2003. Beliau adalah anggota aktif Yayasan Aal al-Bayt untuk Pemikiran Islam di Amman, Yordania, sejak 2007.