Deskripsi
Rafilus mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Dia berkaki dua, berjalan seperti manusia biasa, akan tetapi langkah-langkah kakinya menimbulkan derap bagaikan kendaraan berat.
Budi Darma meminjam suara Tiwar untuk menuliskan hidup Rafilus dan tokoh-tokoh ajaib lainnya. Budi Darma membongkar tiap sudut pikiran manusia. Menghadirkan hal-hal absurd yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang.
Rafilus dengan segala keunikannya menjadi cermin akan keragaman psikologis manusia-polos sekaligus kompleks.
“Dalam kisah manusia magis bernama Rafilus, niscaya kita temukan benderang mutiara-mutiara perenungan.”
-Dee Lestari, penulis
“Budi Darma-seorang pengarang cerdas, teliti, sekaligus `nakal`-menggambarkan kompleksitas dengan ketelatenan yang nyaris mengerikan.”
-Intan Paramadhita, penulis
“Prosa-prosa Budi Darma adalah dunia jungkir balik. Kejam, absurd, dan menakutkan.”
-Nirwan Dewanto, sastrawan
“Inilah novel pertama Indonesia yang nyaris sekali tidak menggunakan dialog.”
-Maman S. Mahayana, kritikus sastra
![Rafilus [Republished]](https://static.nourabooks.co.id/uploads/2026/04/Katalog-Web-Noura-36.png)



