Islam Itu Ramah, Bukan Marah (Edisi Senapas dengan Kurikulum Berbasis Cinta)

Rp74.000

Pernahkah kita merasa asing dengan wajah Islam hari ini? Mengapa agama yang dulu kita kenal menenteramkan, maju, dan berperadaban, kini kerap tampil keras, saling menyalahkan, bahkan dicurigai sebagai sumber kekerasan?

Buku ini mengajak kita berhenti sejenak dan merenungkan kembali wajah Islam hari ini. Sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta, buku ini menawarkan ikhtiar dengan menghidupkan kembali Islam yang ramah—yang berakar pada cinta, empati, dan keadaban. Sebuah ajakan untuk pulang, menuju Islam sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad Saw., diteladankan para sahabat, dan dihidupkan wali sanga.

SKU NA-275 Categories , Tags ,

Deskripsi

Pernahkah kita merasa asing dengan wajah Islam hari ini? Mengapa agama yang dulu kita kenal menenteramkan, maju, dan berperadaban, kini kerap tampil keras, saling menyalahkan, bahkan dicurigai sebagai sumber kekerasan?

Buku ini mengajak kita berhenti sejenak dan merenungkan kembali wajah Islam hari ini. Sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta, buku ini menawarkan ikhtiar dengan menghidupkan kembali Islam yang ramah—yang berakar pada cinta, empati, dan keadaban. Sebuah ajakan untuk pulang, menuju Islam sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad Saw., diteladankan para sahabat, dan dihidupkan wali sanga.

Tentang Penulis

Memulai karier menulis sejak nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut (1990–1996) dengan mendirikan dan memimpin majalah sekolah, Pesan Trend. Saat kuliah di Jurusan Tafsir Hadis IAIN Bandung (1996–2000), Irfan aktif dan sempat menjadi pemred koran kampus, Suaka. Pada masa itu, beberapa tulisan cerita anaknya dimuat di Pikiran Rakyat, tabloid Fantasi, dan beberapa media anak lokal dan nasional. Aktivitasnya di bidang penulisan, anak dan remaja, akhirnya tersalurkan saat bekerja di Penerbit Mizan.

Memulai karier sebagai editor di Divisi Anak dan Remaja (DAR) hingga menjabat sebagai CEO Pelangi Mizan saat usianya belum genap 30 tahun, menjadikannya CEO termuda di salah satu kelompok penerbitan buku Islam terbesar di Indonesia. Pelangi Mizan yang dia rintis dan pimpin merupakan sebuah unit penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku referensi keluarga Muslim. Dari tangan dinginnya lahir beberapa buku referensi fenomenal, seperti Ensiklopedi Bocah Muslim (15 jilid), ensiklopedia anak Islam pertama karya anak Indonesia yang juga diterbitkan di Malaysia; Halo Balita (25 jilid), yang terjual puluhan ribu unit dan diterbitkan juga di Turki; dan I Love My Quran (30 jilid), tafsir Al-Qur’an-bergambar anak pertama yang lengkap mengupas 30 juz. Selain buku-buku referensi, Irfan juga menerbitkan beberapa buku lain, seperti Islam for Kids yang telah cetak ulang hingga lima kali, Fun Diary Olin, dan Boleh Dogn Salah, Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu, Islam Itu Ramah Bukan Marah, Seri Cerita 21st Century Skills yang dianugerahi IKAPI sebagai buku fiksi anak Islam terbaik 2019.

Minatnya pada topik perdamaian mendorong Irfan untuk menerbitkan buku pendidikan perdamaian untuk anak dengan pendekatan yang menyenangkan. Bersama sahabatnya, Erik Lincoln, Irfan menulis buku 12 Nilai Dasar Perdamaian. Buku ini telah dilatihkan dan diajarkan kepada 150.000 siswa di berbagai kota di Indonesia, dari Banda Aceh hingga Poso, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, serta diterapkan di Filipina, Malaysia, Tailand, hingga Tanzania. Irfan dan Erik juga mendirikan Peace Generation Indonesia yang kini telah memiliki cabang di berbagai daerah di Indonesia hingga beberapa negara tetangga. Kiprah Irfan di dunia media dan perdamaian mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan.

Pada 2009, Irfan dianugerahi penghargaan International Young Creative Entrepreneur dari The British Council. Tahun berikutnya, Universitas Atmajaya Yogyakarta mengganjar Irfan dengan UAJY for Multiculturalisme Award. Dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011, Irfan masuk dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia versi The Royal Institute for Islamic Studies Amman, Yordania. Pada 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memilih Irfan menjadi satu dari 17 Wirausahawan Muda Kreatif. Pada 2017 Irfan menjadi Ashoka Fellow, sebuah penghargaan bergengsi untuk social entrepreneur. Tahun berikutnya, Irfan masuk menjadi Top 6 Asean Social Impact Award dari Ashoka Singapura dan Asian Philantropy Cyrcle (APC) Singapura. Pada tahun yang sama, Indika Energy menganugerahi Irfan Indika Energy Award 2018 bidang perdamaian. Pada 2019, Irfan mendapat penghargaan Global Australia Award untuk bidang Innovation and Enterpreneurship. Irfan juga terpilih menjadi Kick Andy Heroes 2021.

Berkat kipranya di dunia media, pendidikan, dan perdamaian, pada 2010 Irfan mendapat beasiswa International Fellowship Program dari Ford Foundation. Dengan fellowship itu, Irfan menempuh S-2 di bidang Peace Studies di The Heller School for Social and Policy Management, Brandeis University Boston, Amerika Serikat.

Tujuh belas tahun bekerja di dunia penerbitan buku anak dengan jabatan terakhir sebagai CEO Mizan Application Publisher, sebuah perusahaan pembuat games dan aplikasi yang dia dirikan dan rintis di bawah grup Mizan, kini, Irfan fokus membangun Peace Generation yang dia cita-citakan menjadi sebuah social enterprise berskala internasional.

Gagasan Irfan tentang Islam yanga ramah diwujudkan juga dalam bentuk lembaga pendidikan. Irfan mendirikan dan memimpin pondok pesantren yang mengusung nilai perdamaian yang diberi nama Peacesantren Welas Asih. Pesantren yang menerapkan konsep anti bullying dan disiplin positif dan ramah lingkungan ini telah menjadi model penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kementerian Agama RI.

Irfan Amali hidup bahagia bersama istri, Mila Aprilia Zakiah, dan seorang putri, Kafa Billahi Kafila (24 tahun), serta dua orang putra, Adkhilni Mudkhala Shidqie (19 tahun) dan Awzini Anasykura Nimataka (9 tahun), di Kompleks Margawangi Bandung. Irfan dapat disapa di Instagramnya, @irfanamalee.

Informasi Tambahan

Penulis

Irfan Amali

Penerbit

Noura

Halaman

192

ISBN

On Process