loader image

Kalau Kamu Ikan
Jangan Ikut Lomba Terbang

Di dalam masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa yang terdiri dari beberapa tahap punya namanya masing-masing. Berawal dari bunga kelapa yang disebut manggar, lalu tumbuh menjadi bluluk, kemudian cengkir, berlanjut menjadi degan (kelapa muda), lalu akhirnya buah kelapa yang sebenarnya. Bak pertumbuhan buah kelapa ini, tahapan-tahapan pemahaman manusia terhadap agama pun demikian—khusus dalam Islam, kita mengenal anak-anak tangga pemahaman yang berawal dari syariat, lalu tarekat, kemudian hakikat, dan akhirnya makrifat. Sebagaimana buah kelapa yang sudah berkembang sempurna, yang setiap bagian dirinya bermanfaat bagi manusia, demikian pula mereka yang memiliki tingkat pemahaman agama paling tinggi. Jangan tanya keimanan, wawasan agama atau ibadahnya; melangkaui semua itu, fokus hidupnya adalah melepaskan masyarakatnya dari penderitaan, kemiskinan, kebodohan. Sebagaimana kelapa menghasilkan santan yang gurih kental, yang terlahir dari dirinya hanyalah manfaat besar bagi sekitar.
Lihat SelengkapnyaSayang sekali, menurut Emha Ainun Nadjib, sebagian besar umat saat ini baru memiliki pemahaman ilmu agama pada tingkat bluluk. Bentuknya sudah seperti buah kelapa, namun ukurannya masih kecil, dagingnya pun belum ada, jangankan menghasilkan santan yang lezat. Para bluluk ini masih memandang agama sekadar sebagai hukum halal-haram, itulah sebabnya sangat mudah menyalahkan orang lain, menganggap sesat yang bukan berasal dari kelompoknya. Buku ini antara lain mengungkapkan keprihatinan Emha Ainun Nadjib tentang fenomena bluluk itu.

Tentang Emha Ainun Nadjib

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 27 Mei 1953. Dia adalah seorang tokoh intelektual, seniman, budayawan, penyair, dan pemikir gagasannya banyak ditularkan melalui tulisan. Dia juga sangat aktif mengisi pengajian, seminar, diskusi, atau workshop di bidang pengembangan sosial, keagama­an, kesenian, dan lain-lain. Pendidikan formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya, dia pernah belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan pada per­tengahan tahun ketiga studinya dia pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I. Di Yogyakarta, sekitar tahun 1970-1975, dia belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha.
Lihat SelengkapnyaBeberapa kegiatan di manca negara pernah dia diikuti, antara lain lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha juga pernah terlibat dalam produksi film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011). Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan, dia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10 sampai 15 kali per bulan bersama grup musik Kiai Kanjeng.

Buku Lainnya