Menghilang, Menemukan Diri Sejati: Filsafat dan Tasawuf untuk yang Lelah Menjalani Hidup
Nourans, pernahkah kalian merasa hidup berjalan seperti autopilot—bangun pagi, bekerja, menyelesaikan kewajiban, lalu tidur dengan tubuh lelah namun hati kosong? Hari demi hari terasa produktif, tetapi ada ruang sunyi di dalam diri yang tak terisi. Kita bergerak cepat, namun perlahan kehilangan arah. Pertanyaan tentang makna hidup, tujuan keberadaan, dan siapa diri kita sebenarnya semakin jarang disapa, tertutup oleh rutinitas yang tak memberi jeda.
Di titik kelelahan eksistensial inilah buku Menghilang, Menemukan Diri Sejati karya Fahruddin Faiz hadir sebagai ruang hening yang menenangkan. Buku ini bukan bacaan filsafat yang berjarak dan kaku, juga bukan buku motivasi instan yang menjanjikan perubahan cepat. Ia justru mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menepi dari keramaian, dan memandang kembali hidup dari kedalaman batin. Melalui pendekatan filsafat Islam populer dan tasawuf modern, pembaca diajak menyelami pertanyaan paling mendasar tentang kemanusiaan dan spiritualitas.
Buku ini terasa relevan bagi siapa pun yang mulai lelah mengejar standar dunia, namun belum menemukan pegangan batin yang kokoh. Dengan bahasa yang reflektif dan membumi, Fahruddin Faiz menyuguhkan perenungan tentang manusia sebagai makhluk yang tak hanya berpikir, tetapi juga merasa, mencari, dan merindu makna.
Menghilang Bukan Menyerah, Tapi Menyepi untuk Menyala
Konsep “menghilang” dalam buku ini sering disalahpahami sebagai bentuk pelarian. Padahal, yang dimaksud Fahruddin Faiz justru sebaliknya. Menghilang adalah proses menyadari keterbatasan ego, lalu mengambil jarak dari hiruk pikuk dunia agar batin bisa kembali jernih. Ini bukan tentang meninggalkan tanggung jawab sosial, melainkan mengendapkan diri agar tidak hanyut dalam kebisingan yang melelahkan jiwa.
Melalui pendekatan tasawuf modern, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kehilangan arah sering kali berakar dari keterputusan dengan diri sendiri. Kita sibuk membangun citra, memenuhi ekspektasi, dan mengejar pengakuan, tetapi lupa mendengarkan suara hati. Dalam salah satu renungannya, Fahruddin Faiz menulis bahwa menjadi manusia adalah takdir, sementara menjaga kemanusiaan adalah pilihan. Kalimat ini menegaskan bahwa kesadaran diri tidak datang otomatis, melainkan harus diupayakan melalui refleksi dan kejujuran batin.
Dengan merujuk pada pemikiran filsafat Islam dan tradisi sufistik, buku ini membantu pembaca melihat hidup secara lebih utuh: sebagai perjalanan spiritual, bukan sekadar kompetisi sosial. Menghilang, dalam konteks ini, justru menjadi jalan untuk kembali menyala dengan kesadaran yang lebih matang.
Buku Filsafat Islam Populer yang Membumi dan Mencerahkan
Keunggulan Menghilang, Menemukan Diri Sejati terletak pada cara penyampaiannya. Buku ini disusun dari materi “Ngaji Filsafat” yang dikenal luas karena gaya komunikatif dan dekat dengan realitas keseharian. Fahruddin Faiz berhasil menjembatani pemikiran filsafat Islam, tasawuf, dan problem manusia modern tanpa terjebak pada istilah akademik yang rumit.
Buku ini cocok dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami filsafat Islam populer secara ringan namun bermakna. Ia menjadi teman refleksi bagi pembaca yang sedang mencari makna hidup, merasa asing dengan dirinya sendiri, atau ingin menata ulang relasi dengan Tuhan dan sesama. Tanpa menggurui, buku ini membuka ruang dialog batin yang jujur dan menenangkan.
Lebih dari sekadar bacaan, Menghilang, Menemukan Diri Sejati adalah ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, manusia tetap membutuhkan ruang sunyi agar tidak kehilangan arah pulang.
Menghilang, Menemukan Diri Sejati adalah buku refleksi diri terbaik bagi pencari makna di era modern. Temukan buku karya Fahruddin Faiz ini dan koleksi filsafat Islam populer lainnya di nourabooks.co.id.
Referensi
- Fahruddin Faiz. (2022). Menghilang, Menemukan Diri Sejati. Noura Books
- https://nourabooks.co.id
- Google Scholar, Fahruddin Faiz


